Liputan6.com, Jakarta Meski telah lama vakum dari dunia rekaman dan hanya sesekali tampil di panggung, semangat terhadap Karimata, supergrup jazz-fusion legendaris Indonesia, masih terus menyala di hati para penggemarnya.
Kecintaan itu kini diwujudkan dalam sebuah buku berjudul Lima Musim yang Berarti: Cerita Tentang Karimata, yang diterbitkan secara kolektif oleh komunitas Sahabat KariB bersama ITB Press.
Buku setebal 222 halaman ini menjadi bukti nyata penghormatan atas kiprah Karimata, grup musik yang aktif dari 1986 hingga 1991 dan digawangi oleh nama-nama besar seperti Aminoto Kosin, Candra Darusman, Denny TR, Erwin Gutawa, dan almarhum Uce Haryono.
Mereka dikenal karena eksplorasi musik jazz-fusion yang kaya akan sentuhan etnik, terutama pada album terakhir mereka yang inovatif.
“Ini kerja kolektif luar biasa. Bisa disebut ensiklopedia Karimata,” ujar Haryo K. Buwono, pimpinan tim penyusun buku.
Ditulis oleh Sahabat dan Jurnalis Musik
Buku ini dirancang dan ditulis bersama oleh para Sahabat KariB serta jurnalis musik yang mengikuti perjalanan Karimata sejak awal. Beberapa nama yang terlibat antara lain Denny MR, Edo Musclive, Edy Suhardy, Abi Hasantoso, Burhan Abe, dan Frans Sartono.
Kekayaan visual buku ini turut diperkuat oleh dokumentasi arsip pribadi dari sejumlah fotografer dan rekan dekat Karimata, seperti Jay Subijakto, Andri Is, Omen Norman, Odi Auditya, Gideon Momongan, Charlie Hawks, Aria Sungkono, Dewanto Anto Gendut, Haryo K. Buwono, dan Heru Sungkono. Proyek ini juga didukung oleh Oleg Sanchabakhtiar sebagai konsultan fotografi.
Proyek Panjang dengan Jejak Emosional
Gagasan awal penulisan buku datang dari Triawan “Babe” Koeshardianto, mantan manajer Karimata, yang sempat menggarap naskah bergaya novel. Setelah kepergian Babe dan penerusnya, Ayu, naskah tersebut tetap disertakan tanpa penyuntingan sebagai bentuk penghormatan, sebagaimana disampaikan oleh penulis Ratna D. Ambarwati.
Proses penyusunan buku ini memakan waktu lima tahun—sebuah angka simbolis yang merujuk pada lima tahun masa aktif Karimata, lima album yang dirilis, dan lama waktu pengerjaan buku itu sendiri.
Namun, perjalanan menulis tidaklah mudah. Menurut Aria, yang berperan ganda sebagai bagian dari tim humas dan kontributor foto, riset menghadapi tantangan karena terbatasnya dokumentasi serta ingatan para pelaku yang mulai memudar.
“Contohnya, soal Karimata tampil di North Sea Jazz Festival 1986—rata-rata sudah lupa siapa yang ikut dan berapa lama tampil,” ungkap Aria.
Bonus Partitur dan Kenangan Bermakna
Salah satu keunikan buku ini adalah kehadiran partitur dari 10 lagu andalan Karimata, termasuk lagu legendaris “Seng Ken Ken”, yang ditulis ulang oleh Aminoto Kosin.
Sebagai salah satu personel Karimata, Candra Darusman mengungkapkan betapa berharganya buku ini sebagai bentuk nyata dari persahabatan dan semangat gotong royong yang tumbuh sejak dulu.
“Kalau buku ini bisa bicara, ia membawa kegembiraan. Tapi saya agak malu karena kontribusi saya di sini tidak banyak,” ungkap Candra merendah.
Lima Musim yang Berarti bukan sekadar buku musik, tetapi juga potret kolektif tentang dedikasi, persahabatan, dan warisan musikal dari sebuah era penting dalam sejarah musik Indonesia. Bagi para penggemar jazz dan pencinta musik tanah air, buku ini menjadi dokumen penting yang layak dimiliki.