Liputan6.com, Jakarta Hari ini, Kamis (3/7/2025), film Arwah tayang di bioskop seluruh Indonesia. Film ini dibintangi Joshua Suherman, Irsyadillah, Egi Fdly hingga pendatang baru Sarah Beatrix. Arwah rupanya berkali mengalami pergantian judul.
“Ini tuh judul ke sekian sebenarnya. Judul aslinya Pamit dulu yang pertama, lalu Cerita Sofie. Berubah jadi Temani Aku Mati, kemudian berubah menjadi Arwah. Saya menbintangi film Arwah dalam rangka menantang diri sendiri,” kata Joshua Suherman.
Ini bukan horor pertama bagi pelantun “Air (Diobok-obok).” Joshua Suherman pernah tampil dalam series horor. Untuk layar lebar, ini kali pertama. Ia tertarik membintangi Arwah setelah baca sinopsis dan menemukan banyak value di sana.
Laporan khas Showbiz Liputan6.com kali ini meragkai 6 fakta Joshua Suherman membintangi film Arwah berdasarkan wawancara eksklusif di Gedung KLY Jakarta. Dalam film karya sineas Ivan Bandhito ini, ia sebagai Jojo.
1. Joshua Suherman 30 Persen Mirip Jojo
Joshua Suherman mengaku punya sejumlah kemiripan dengan tokoh Jojo dalam film Arwah. Pertama, Joshua Suherman dan Jojo sama-sama anak sulung. Bedanya, Jojo sulung dari lima bersaudara. Joshua Suherman sulung dari tiga bersaudara.
“Sama-sama tulang punggung keluarga juga jadi aku bisa bayangkan gimana memainkannya. Aku harus agak berimajinasi karena tokoh Jojo punya adiksi terhadap gambling. Jadi, punya pengambilan keputusan keuangan yang buruk. Miripnya cuma 30 persen,” ulasnya.
2. Lupa Dulu Penyanyi
Dikenal sebagai penyanyi cilik dengan banyak hit seperti “Cit Cit Cuit” dan “Donat,” kini Joshua Suherman lebih banyak main film. Debut di layar lebar lewat Joshua Oh Joshua pada 2000, ia telah membintangi lebih dari 20 film. Kini, ia menyebut diri sebagai aktor.
“Ya sih, lebih banyak film ketimbang proyek lain. Aku pun kadang lupa kalau dulu penyanyi. Setelah melihat filmografi, oh, banyak juga ya. Cukup aman kalau aku bilang: pekerjaanku aktor. Dulu sih, agak malu-malu ha ha ha,” Joshua Suherman menyambung.
3. Horor Bikin Otot Kencang
Telah membintangi film drama dan komedi, kini Joshua Suherman tampil dalam genre memedi: Arwah. Baginya, horor lebih menguras fisik maupun psikis. Pertama, genre horor banyak memuat adegan yang kurang familier seperti kesurupan atau ketemu setan.
“Buat aku pribadi, energi yang dikeluarkan lebih. Secara ekspresi misalnya takut, otot auto kencang. Belum lagi teriak dan banyak adegan lari, jatuh, dan lompat. Syuting lebih banyak malam, serasa ronda di lokasi syuting kemungkinan selesainya jelas pagi,” ujarnya.
4. Horor Mengusung Nilai-Nilai Keluarga
Joshua Suherman menjelaskan, Arwah bukan horor pengobral jumpscare. Ada nilai keluarga yang ditampilkan mengingat fondasi cerita Arwah drama keluarga. Apa yang terjadi ketika orang yang kita anggap saudara meski tak sedarah, saling membutuhkan?
“Ada value keluarganya. Sejak punya anak, film seperti ini jadi makin penting buat aku. Dulu aku bisa bitter dengan semua hal positif (dalam hidup), tapi sekarang (sejak punya anak) kayaknya memang perlu deh,” Joshua Suherman menyimpulkan.
5. Repotnya Syuting dalam Mobil Berguling
Syuting Arwah hampir sebulan dengan lokasi di Puncak, Jawa Barat, dan Jakarta. Salah satu yang membekas di benak, syuting hari terakhir saat Jojo dan Sofie (Sarah Beatrix) mengalami kecelakaan mobil. Adegan ini butuh pengerjaan teknis mendetail dan banyak peralatan.
“Satu hari untuk bikin adegan ini saja. Memang ribet mengerjakannya tapi seru. Ada yang ditarik, mental, mobil diputar tiga sampai empat kali dan kami benar-benar di dalam. Ada adegan mobil turun dari jalanan kemudian terbalik, itu seru. Real!” cerita Joshua Suherman.
6. Lensa Kontak Bikin Mata Pedas
Barang kecil tapi menciptakan tantangan besar. Itulah yang digambarkan Joshua Suherman saat membahas adegan menggunakan lensa kontak putih berukuran besar untuk menutupi mata. Kali pertama mencoba, Joshua Suherman butuh waktu sekitar setengah jam.
“Lensa kontak putih ukuran besar. Yang lebih berat, pertama kali mencobanya. Itu lumayan pedas di mata. Untungnya kami semua pakai, kalau enggak adegannya akan terasa kurang dari aspek visual,” Joshua Suherman mengakhiri.