Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Industry Task Force (ITF) dan Think Policy menggelar Forum Dialog Ekonomi Digital dengan tema "Lanskap Strategis untuk Indonesia Digital: Mendorong Penguatan Infrastruktur, Adaptasi AI, dan Pengembangan Talenta Digital".
Acara ini bertujuan untuk membahas arah kebijakan strategis dalam memperkuat ekosistem digital Indonesia, yang mana dihadiri sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah, industri, dan asosiasi digital.
Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru Komdigi, Aju Widya Sari, menekankan pentingnya sinergi antara pelaku industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya untuk memanfaatkan potensi teknologi AI sebagai alat untuk menciptakan masa depan yang lebih inklusif, inovatif, dan berdaya saing tinggi.
"Membangun ekosistem digital yang kuat di era AI bukanlah tugas mudah. Namun, dengan kebijakan yang tepat, kolaborasi yang erat, serta kesiapan SDM yang unggul, kita dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan industri digital," ujar Aju Widya Sari dalam sambutannya, dikutip Rabu (26/2/2025).
Koordinator ITF menegaskan bahwa forum ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk memajukan ekosistem digital Indonesia.
"ITF bersama Think Policy dan dukungan Komdigi, mengadakan forum ini untuk fokus pada infrastruktur, adaptasi AI, dan pengembangan talenta digital, yang kami pandang sebagai faktor kunci dalam memajukan ekosistem digital kita," katanya.
Sementara Co-founder & Chief Growth Officer Think Policy, Florida Andriana, menyoroti pentingnya arah dan dampak dalam kemajuan digital.
"Transformasi digital bergerak tanpa henti, dan Indonesia telah membuktikan kemampuannya untuk beradaptasi. Namun, pertanyaannya kini adalah: ke mana kita ingin membawa digitalisasi ini?," ujarnya.
"Dalam satu dekade terakhir, kita terus berpacu untuk mengikuti perkembangan. Saatnya kini kita menentukan arah, dengan strategi yang matang dan kebijakan yang bermakna, agar transformasi digital tidak hanya cepat tetapi juga tepat. Forum ini menjadi ruang refleksi dan kolaborasi untuk menciptakan kebijakan digital yang inklusif dan berdampak nyata, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045," ia menambahkan.
3 Sesi Acara
Acara dialog ini terbagi tiga sesi, dimana setiap sesinya memiliki pembahasan yang berbeda-beda untuk merefleksikan perkembangan di era Indonesia Digital.
Pada sesi pertama, membahas mengenai Pemerintahan dan Infrastruktur Digital. Sesi ini membahas perkembangan industri digital saat ini karena peningkatan akses dan kualitas internet di Indonesia, serta bagaimana kedepannya penguatan infrastruktur digital serta strategi pemerintah dan industri dalam mengatasi digital divide, baik berkaitan dengan akses maupun literasi digital.
Prasetya Dwicahya, Digital Government Principal, Think Policy, mengungkapkan, dalam 10 tahun terakhir, Indonesia sudah berhasil untuk meningkatkan akses internet dan juga porsi ekonomi digital berkali-kali lipat. Akan tetapi ada banyak konsekuensi sosial yang juga terjadi bersamaan dengan pertumbuhan tersebut seperti masifnya perundungan digital dan judi online.
"Oleh karena itu, fokus transformasi digital untuk beberapa tahun ke depan adalah memastikan transformasi digital tersebut harus bermakna, transformasi digital yang bisa memberikan nilai tambah kepada seluruh lapisan masyarakat dan membuat masyarakat merasa aman berinteraksi di dalam ruang digital," katanya.
Dari sisi industri OTT video streaming, Ketua Bidang Hubungan Pemerintah AVISI, Hafil Naufal Rahman, menjelaskan terdapat tantangan bersama dalam literasi digital saat ini. "Aksesibilitas tidak hanya menghasilkan peluang untuk berkembang, tetapi juga meningkatnya ancaman yang merugikan bagi industri OTT video streaming."
Salah satu masalah utama, ungkapnya, adalah pembajakan atau penyiaran konten secara ilegal di Indonesia menjadi perhatian serius karena mengancam ekonomi digital serta perkembangan industri kreatif. "Survei AVISI tahun 2023 mengungkap bahwa meskipun sebagian besar masyarakat menyadari risiko pembajakan, banyak yang tetap memilih untuk melanjutkan mengakses konten ilegal. Kolaborasi antara pemerintah, AVISI, dan para pemangku kepentingan lainnya penting untuk mengatasi masalah ini."
Sesi kedua, yang dimoderatori oleh Maria Angelica selaku perwakilan ITF sekaligus VP of Public Affairs Bukalapak, membahas mengenai Kebijakan Digital dan Peluang Industri dalam Era AI. Sesi ini membahas pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas industri dan daya saing global. Diskusi mencakup rekomendasi strategi pemerintah, inovasi AI di industri, tantangan implementasi, dampak sosial, serta masukan untuk mendukung inovasi dan pertumbuhan digital.
CTO DANA, Norman Sasono, berbicara mengenai urgensi investasi dalam infrastruktur digital yang memungkinkan inovasi berbasis AI berkembang pesat di Indonesia. "Industri memiliki peran penting dalam mengadopsi dan mengembangkan kecerdasan buatan (AI) secara strategis di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Penerapan AI sebaiknya tidak sekadar mengikuti tren, tetapi harus didasarkan pada kebutuhan yang jelas dan tujuan yang terukur."
Menurutnya, perusahaan perlu memahami tantangan spesifik yang ingin diselesaikan dan manfaat yang dapat diberikan AI, baik bagi bisnis maupun konsumen. "AI harus diterapkan untuk menjawab permasalahan yang konkret dan memberikan dampak nyata. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan efisiensi, inovasi, dan daya saing dalam ekosistem digital," kata Norman Sasono.
Pentingnya Pengembangan Talenta Digital
Sesi ketiga, membahas strategi pengembangan talenta digital di Indonesia, termasuk peran public-private partnership dalam menutup skill gap.
Diskusi mencakup tantangan industri dalam mencari talenta digital, dampak AI terhadap kebutuhan keterampilan, serta langkah konkret dari pemerintah dan perusahaan untuk memastikan tenaga kerja Indonesia tetap kompetitif di era digital.
Direktur Bukalapak, Victor Putra Lesmana, membahas pentingnya pengembangan talenta digital sebagai motor utama transformasi ekonomi berbasis teknologi.
"Membangun ekosistem talenta digital yang berdaya saing membutuhkan kolaborasi erat antara industri, pemerintah, dan akademisi. Keselarasan kebijakan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, menjadi kunci untuk memastikan bahwa pengembangan talenta digital tidak hanya menjawab kebutuhan industri saat ini, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi digital secara berkelanjutan di masa depan," ujar Victor.