Trailer Pelangi di Mars Pukau Netizen Lewat Visual dan Teknis Revolusioner di Sejarah Film Indonesia

5 hours ago 3

Jadi intinya...

  • Film fiksi ilmiah 'Pelangi di Mars' tayang 18 Maret 2026, debut penyutradaraan film panjang Upie Guava.
  • Menggunakan teknologi Extended Reality (XR) revolusioner, film ini mendapat pujian visual dari netizen dan Raffi Ahmad.
  • Berkisah tentang Pelangi di Mars tahun 2090 yang mencari mineral langka untuk menyelamatkan Bumi dari krisis air.

Liputan6.com, Jakarta - Film Pelangi di Mars karya sineas Upie Guava telah meluncurkan poster dan trailer resmi. Netizen dan pencinta sinema menyambut hangat film rilisan Mahakarya Pictures tersebut. Mereka dipukau visual dan teknis yang dianggap revolusioner bagi industri film Indonesia.

Di balik durasi trailer yang singkat, tersimpan perjalanan panjang nan melelahkan sekaligus membanggakan. Menghadirkan film anak-anak berkualitas yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026 ini ternyata memakan waktu produksi lebih dari lima tahun.

Sutradara Upie Guava tak main-main dalam merajut visi film. Tumbuh besar dengan asupan film-film fiksi ilmiah ikonis dari Hollywood seperti Jurassic Park dan Star Wars, ia berharap agar anak-anak Indonesia memiliki pahlawan serta impian serupa buatan negeri sendiri.

“Saya ingin dengan menonton Pelangi di Mars, anak-anak Indonesia bisa berpikir, mereka boleh bermimpi setinggi langit lalu mampu menggapainya,” kata Upie Guava lewat pernyataan tertulis yang diterima Showbiz Liputan6.com, pada Jumat, 13 Maret 2026.

Visi besar ini melahirkan karakter Pelangi, anak pertama yang lahir di planet Mars. Lewat Pelangi, Upie ingin menceritakan kegigihan anak Indonesia dalam menyelamatkan dunia, sebuah pesan moral yang kuat dibalut kemasan teknologi mutakhir nan detail.

Berkaca pada pengalaman, menggarap film fiksi ilmiah di Indonesia bukan perkara mudah. Pasalnya, Upie Guava bersikeras menggunakan teknologi Extended Reality (XR) atau virtual production. Pada 2020, teknologi ini hampir tidak terdengar di industri perfilman Tanah Air.

Mengembangkan Cerita Pelangi di Mars

Produser film Pelangi di Mars, Dendi Reynando, mengingat betapa berat fase pengembangan yang mereka lalui. Yang menantang tak hanya menulis skenario, tapi juga membangun fondasi teknologi yang belum ada sebelumnya.

“Di saat bersamaan kami mengembangkan cerita Pelangi di Mars, memperkenalkan dan mengembangkan teknologi ini di Indonesia. Dari awal kami tahu risikonya, dan kadang kami berpikir bahwa membuat film ini hampir mustahil,” ujarnya.

Seakan Nyasar di Hutan

Dendi Reynando mengibaratkan proses lima tahun ini seperti tersesat di belantara hutan yang asing. Ia dan tim mencari jalan keluar. Hasil akhirnya berupa film yang diperkuat barisan bintang kondang dari Lutesha, Rio Dewanto, hingga Messi Gusti.

“Perjalanan film ini seakan-akan kami nyasar di hutan, mencari jalan keluarnya. Untungnya di perjalanan kami banyak orang yang ingin ikut nyasar di hutan, dan akhirnya bisa berhasil keluar dengan hasil sesuai,” urai Dendi Reynando.

Waktu Yang Tepat Bagi Keluarga

Kerja keras lebih dari setengah dekade ini akhirnya siap dipanen. Pelangi di Mars bukan sekadar film anak-anak biasa; ini bukti sineas Indonesia mampu melampaui batasan teknis demi memberi tontonan edukatif sekaligus sinematik.

Terkait jadwal tayang pada libur Lebaran 2026, Dendi Reynando menjelaskan, “Ini jadi waktu tepat bagi keluarga untuk menyaksikan petualangan lintas planet yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah sinema Indonesia.”

3 Alasan Deddy Mizwar Tetap Berkarya di Usia 70 Tahun, Lahirkan Para Pencari Tuhan dan Lorong Waktu

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |