Top 3 Tekno: Penjualan PS5 Anjlok hingga Situs Web UFO

7 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Penjualan PS5 yang turun hampir 50 persen menjadi sorotan para pembaca di kanal Tekno Liputan6.om, Minggu (10/5/2026) kemarin.

Berita lain yang juga populer datang dari Departemen Perang AS yang merilis situs web yang memuat dokumen-dokumen "yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya" terkait fenomena anomali tak teridentifikasi, seperti UFO.

Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikutnya ini.

1. Penjualan PS5 Turun Hampir 50 Persen Gara-Gara Harga Naik, Ini Penjelasan Sony

 Raksasa teknologi asal Jepang, Sony, baru saja merilis laporan kinerja keuangan terbaru yang mengungkap dinamika kontras dalam divisi gaming mereka. Di satu sisi, penjualan PlayStation 5 (PS5) mengalami penurunan drastis secara tahunan (year-over-year).

Di sisi lain, manajemen Sony justru memproyeksikan masa depan yang cerah berkat integrasi kecerdasan buatan (AI) yang diklaim mampu merevolusi efisiensi produksi.

Berdasarkan data kuartal keempat (Q4) tahun fiskal perusahaan, Sony melaporkan penurunan penjualan unit PS5 sebesar 46% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Secara angka, Sony hanya berhasil melepas 1,5 juta unit PS5 di seluruh dunia selama kuartal tersebut, angka yang merosot tajam dari 2,8 juta unit pada tahun sebelumnya.

Meski demikian, secara kumulatif, PS5 tetap mencatatkan angka yang impresif dengan total penjualan global mencapai 93,7 juta unit.

Para analis menilai tren penurunan ini merupakan hal yang wajar mengingat konsol tersebut kini telah memasuki tahun keenam dalam siklus hidupnya sejak diluncurkan pada 2020.

Baca selengkapnya di sini

2. Departemen Perang AS Bikin Situs Web UFO, Transparansi atau Pengalihan Isu?

Departemen Perang Amerika Serikat (Department of War/DOW) resmi meluncurkan laman situs khusus yang memuat dokumen-dokumen "yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya" terkait fenomena anomali tak teridentifikasi (unidentified anomalous phenomena/UAP).

Langkah ini menandai babak baru dalam upaya pengungkapan informasi mengenai objek terbang misterius (unidentified flying objects/UFO) yang selama ini menjadi teka-teki publik global.

Laman yang dapat diakses melalui portal resmi pemerintah ini direncanakan akan mengunggah materi tambahan secara berkala atau berkelanjutan.

Meski beberapa cuplikan video UAP dari Pentagon sempat dideklasifikasi pada periode pertama kepemimpinan Presiden Donald Trump, inisiatif terbaru ini dipandang sebagai tindak lanjut langsung dari instruksi Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada Februari 2026.

Dalam unggahan tersebut, Trump mendesak Departemen Pertahanan dan badan-badan terkait untuk memulai proses identifikasi dan pelepasan berkas pemerintah yang berkaitan dengan kehidupan luar angkasa (alien), UAP, dan UFO.

Melalui alamat war.gov/UFO, publik kini disajikan dengan kurasi visual berupa rangkaian gambar dan berkas dari berbagai lembaga papan atas, termasuk FBI dan NASA.

Menariknya, presentasi laman ini dinilai sengaja mengadopsi nuansa yang "akrab" dengan budaya teori konspirasi yang selama ini menyelimuti komunitas penggemar UFO.

Namun, sebagaimana diwartakan Engadget, Minggu (10/5/2026), bagi mereka yang mengharapkan bukti konkret keberadaan makhluk luar angkasa, situs ini mungkin akan terasa antiklimaks.

Baca selengkapnya di sini

3. Perusahaan Thailand Diduga Selundupkan Chip AI Nvidia ke China

Sebuah investigasi mendalam mengungkap dugaan skema penyelundupan teknologi berskala internasional yang melibatkan elemen penting dalam inisiatif kecerdasan buatan (AI) nasional Thailand.

Sebuah perusahaan yang berbasis di Bangkok, Thailand, diduga kuat menjadi jembatan ilegal untuk mengirimkan server canggih buatan Super Micro Computer yang berisi chip Nvidia ke Tiongkok, melanggar kebijakan ekspor ketat yang ditetapkan Amerika Serikat.

Laporan yang pertama kali dirilis oleh Bloomberg News pada Jumat lalu, menyebutkan bahwa sebuah entitas asal Asia Tenggara, yang dalam dokumen pengadilan disebut sebagai "Company-1", diidentifikasi sebagai OBON Corp.

Perusahaan ini diduga berperan sebagai perantara kunci dalam memfasilitasi pengiriman perangkat keras sensitif tersebut kepada sejumlah pelanggan di Tiongkok, termasuk raksasa e-commerce Alibaba Group Holding. Demikian sebagaimana dikutip dari Reuters, Minggu (10/5/2026).

Berdasarkan dakwaan yang diajukan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada Maret 2026, skema ini dijalankan dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi untuk mengelabui otoritas pengawas.

Tiga individu kunci, yaitu salah satu pendiri Super Micro Yih-Shyan Liaw, manajer penjualan Ruei-Tsang Chang, dan kontraktor Ting-Wei Sun, diduga merancang rute pengiriman yang kompleks.

Baca selengkapnya di sini

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |