Sony Gandeng TSMC untuk Bikin Sensor Kamera

9 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa teknologi Jepang, Sony Group Corp. berkolaborasi dengan pemimpin industri semikonduktor asal Taiwan, TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Co.), untuk memproduksi image sensor (sensor kamera) generasi terbaru melalui sebuah usaha patungan (joint venture) yang berbasis di Jepang.

Langkah ini bukan sekadar ekspansi kapasitas produksi, melainkan sinyal kuat mengenai perubahan arah kebijakan perusahaan di bawah kepemimpinan CEO Hiroki Totoki.

Sony, yang selama ini dikenal sangat protektif terhadap aset fisik manufakturnya, kini mulai merangkul model bisnis yang lebih ramping atau yang dikenal di industri sebagai strategi "fab-light".

Mengutip Engadget, Minggu (10/5/2026), proyek ambisius ini akan berpusat di fasilitas produksi terbaru milik Sony yang berlokasi di Kota Koshi, Prefektur Kumamoto.

Dalam kesepakatan tersebut, Sony akan memimpin jalannya proyek, namun keberhasilannya akan sangat bergantung pada pemanfaatan "keunggulan teknologi proses dan keunggulan manufaktur" yang dimiliki TSMC.

Integrasi ini dianggap sebagai solusi atas tantangan teknis yang semakin berat. Seiring dengan kemajuan teknologi stacking (penumpukan sensor) yang membuat arsitektur image sensor menjadi jauh lebih kompleks, Sony menyadari bahwa mempertahankan kepemimpinan pasar memerlukan otot manufaktur yang lebih besar.

Di sinilah peran TSMC menjadi krusial untuk memastikan Sony tetap berada di garda terdepan tanpa tertinggal oleh pesatnya inovasi kompetitor.

Selain aspek teknis, kedua raksasa ini juga dilaporkan sedang menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah Jepang. Keduanya berharap mendapatkan insentif finansial tambahan dari negara, mengingat proyek ini sejalan dengan ambisi Jepang untuk membangkitkan kembali kedaulatan industri semikonduktor di dalam negeri.

Visi Hiroki Totoki

Menurut laporan Bloomberg, CEO Sony Hiroki Totoki menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan "langkah pertama menuju model fab-light."

Strategi ini bertujuan untuk memutus ketergantungan perusahaan pada aset fisik yang membebani neraca keuangan, guna mengalihkan fokus sumber daya pada pengembangan kekayaan intelektual.

Transformasi ini sebenarnya telah terlihat jejaknya dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, Sony mengambil keputusan berisiko dengan menarik diri dari manufaktur televisi secara mandiri dan menyerahkan kendali divisi Bravia kepada perusahaan asal Tiongkok, TCL.

Kini, dengan menyasar divisi image sensor--yang selama ini menjadi "sapi perah" utama perusahaan--Sony menunjukkan keseriusannya untuk bertransformasi menjadi perusahaan yang berbasis pada desain dan lisensi teknologi. 

Menjaga Takhta di Tengah Risiko Disrupsi

Hingga saat ini, Sony masih memegang status sebagai produsen image sensor dengan standar emas dunia. Produk mereka adalah jantung dari perangkat-perangkat paling ikonik di pasar, mulai dari jajaran iPhone milik Apple, Google Pixel, hingga perangkat OnePlus.

Dominasi Sony bahkan melampaui industri ponsel pintar. Di dunia fotografi dan sinematografi profesional, sensor buatan Sony digunakan oleh nama-nama besar seperti:

  • Nikon dan Fujifilm (Kamera Mirrorless)
  • Leica (Kamera Premium)
  • DJI (Drone dan Stabilisator)
  • Blackmagic Design (Kamera Produksi Film)

Namun, strategi fab-light ini bukannya tanpa risiko. Dengan menggandeng TSMC secara terbuka, Sony secara tidak langsung memperlihatkan "resep dapur" mereka kepada mitra manufaktur yang juga melayani perusahaan lain.

Muncul kekhawatiran bahwa di masa depan, klien-klien besar Sony mungkin akan memilih untuk memangkas jalur distribusi dengan langsung memesan desain sensor mereka ke TSMC, tanpa melibatkan Sony sebagai perantara.

Proyeksi Masa Depan

Jika sinergi antara keahlian desain Sony dan efisiensi produksi TSMC berhasil mencapai titik optimal, dampaknya akan terasa luas di berbagai sektor.

Bukan hanya terbatas pada kamera ponsel, teknologi sensor generasi baru ini diproyeksikan akan menjadi komponen kunci dalam industri kendaraan otonom, otomatisasi industri, dan teknologi augmented reality (AR).

Bagi Sony, ini adalah pertaruhan besar antara mempertahankan kontrol manufaktur tradisional atau beradaptasi dengan kecepatan industri modern.

Jika berhasil, Sony akan mengukuhkan posisinya sebagai raja sensor dunia dengan model bisnis yang jauh lebih efisien dan lincah. Namun jika gagal menjaga eksklusivitas inovasinya, mereka berisiko kehilangan pengaruh atas rantai pasok global yang selama ini mereka kuasai.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |