Top 3 Tekno: iOS 26.5 hingga Bocoran Biaya Produksi GTA 6

7 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - iOS 26.5 yang resmi bergulir untuk pengguna iPhone di sejumlah negara, menjadi sorotan para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Selasa (12/5/2026) kemarin.

Berita lain yang juga populer datang dari bocoran biaya yang dikeluarkan Rockstar dan Take-Two Interactive untuk mengembangkan GTA 6.

Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.

1. iOS 26.5 Resmi Rilis, Apa yang Berubah di iPhone Setelah Update?

Apple telah resmi menggulirkan pembaruan iOS 26.5 kepada pengguna iPhone di berbagai negara, membawa serangkaian peningkatan penting. 

Meskipun pembaruan ini tidak menghadirkan perubahan besar pada tampilan antarmuka, ada satu fitur krusial yang secara langsung meningkatkan pengalaman pengguna sehari-hari.

Fitur utama yang menjadi sorotan adalah dukungan enkripsi ujung-ke-ujung untuk pesan RCS di aplikasi Messages. Ini secara signifikan memperkuat keamanan percakapan antara pengguna iPhone dan Android, menjadikannya lebih terlindungi dari sebelumnya.

Selain peningkatan keamanan komunikasi, iOS 26.5 juga memperkenalkan pembaruan pada Apple Maps dengan fitur Suggested Places, serta wallpaper Pride Luminance baru. Pembaruan ini juga mencakup perbaikan bug dan peningkatan keamanan sistem secara keseluruhan.

Enkripsi RCS: Revolusi Pesan Lintas Platform

Pembaruan iOS 26.5 menandai langkah signifikan Apple dalam meningkatkan keamanan komunikasi lintas platform dengan memperkenalkan enkripsi ujung-ke-ujung untuk pesan RCS di aplikasi Messages.

Fitur ini dirancang untuk membuat percakapan antara pengguna iPhone dan Android menjadi lebih aman dibanding sebelumnya.

Apple dan Google telah memimpin upaya lintas industri untuk membawa enkripsi ujung-ke-ujung ke Rich Communication Services (RCS), menjadikan format pesan lintas platform yang menggantikan SMS tradisional lebih aman dan pribadi.

Sebelumnya, iMessage telah dikenal luas karena menyediakan enkripsi yang kuat untuk komunikasi antarperangkat Apple.

Baca selengkapnya di sini

2. Biaya Produksi GTA 6 Disebut Capai Rp 26 Triliun, Apa Taruhan Besar Rockstar?

Grand Theft Auto VI atau GTA 6 menjadi salah satu judul game paling dinanti peluncurannya pada 19 November 2026, setelah sempat ditunda rilisnya beberapa kali.

Tampil sebagai proyek game paling ambisius tahun ini, game baru Rockstar Games ini datang dengan ekspektasi sangat tinggi, mengingat GTA 5 sudah bertahan lebih dari satu dekade sebagai game paling sukses.

Di balik antusiasme tersebut, satu pertanyaan terus muncul di kalangan gamer. Berapa besar biaya yang dikeluarkan Rockstar dan Take-Two Interactive untuk mengembangkan GTA 6?

Rockstar Games belum pernah mengumumkan angka resmi. Take-Two selaku induk perusahaan juga masih menutup rapat detail biaya produksi game tersebut.

Akan tetapi, CEO Take-Two, Strauss Zelnick, memberi gambaran singkat saat ditanya terkait berapa nominal yang dikucurkan untuk membuat GTA 6.

"Sangat mahal," kata Strauss, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Selasa (12/5/2026). Meski singkat, pernyataan itu cukup menggambarkan skala proyek GTA 6. 

Business Insider menyebutkan, sejumlah analis industri memperkirakan anggaran dana untuk membuat GTA 6 berada di kisaran USD 1,5 miliar atau sekitar Rp 26 triliun.

Baca selengkapnya di sini

3. Rupiah Melemah ke Rp 17.500, Ini Strategi ASSI Dorong Kemandirian Teknologi Satelit Nasional

Mata uang Rupiah sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring meningkatnya sentimen negatif dari luar maupun dalam negeri.

Di balik tantangan fiskal tersebut, Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) melihat adanya momentum emas untuk mempercepat proses industrialisasi dan kemandirian teknologi di dalam negeri.

Dalam gelaran Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT 2026), Selasa (12/5/2026), di Jakarta, ASSI membedah secara mendalam bagaimana volatilitas mata uang mempengaruhi ekosistem satelit Indonesia.

Ketua Umum ASSI, Risdianto Yuli Hermansyah, mengungkapkan bahwa karakter industri satelit yang padat modal (capital intensive) membuat sektor ini sangat rentan terhadap fluktuasi kurs.

Sebagian besar investasi, mulai dari pengadaan satelit hingga perangkat ground segment, masih sangat bergantung pada vendor luar negeri dengan transaksi dalam mata uang Dolar AS.

"Kondisi ini secara langsung menekan profitabilitas perusahaan. Ketika Rupiah melemah, beban biaya operasional dan investasi membengkak secara otomatis, yang pada akhirnya menghambat kemampuan ekspansi operator lokal," ujar Risdianto di sela konferensi APSAT 2026.

Ia juga menyoroti kerentanan sektor swasta dalam kemitraan dengan pemerintah. Ia menjelaskan bahwa banyak kontrak proyek strategis yang menerapkan skema penguncian nilai tukar.

Baca selengkapnya di sini

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |