Pangeran Harry Digugat Badan Amal yang Didirikan untuk Menghormati Putri Diana

9 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah badan amal yang didirikan Pangeran Harry di Afrika untuk menghormatinya ibunya, Putri Diana, kini justru menggugatnya atas tuduhan pencemaran nama baik setelah ia mundur sebagai pelindung tahun lalu.

Badan amal tersebut, Sentebale, yang berfokus membantu anak muda dengan HIV di Botswana dan Lesotho, mengajukan gugatan di Pengadilan Tinggi London, bulan lalu, menurut catatan pengadilan yang dikutip AP pada Jumat, 10 April 2026.

Dalam dokumen itu, melansir AsiaOne, Sabtu, 11 April 2026, Harry dan rekannya Mark Dyer—mantan wali amanat Sentebale—menjadi pihak tergugat atas dugaan fitnah. Namun, rincian lengkap gugatan belum dipublikasikan.

Dalam pernyataannya, Sentebale menyebut langkah hukum ini diambil untuk meminta perlindungan pengadilan menyusul "kampanye media negatif terkoordinasi" sejak Maret 2025 yang dinilai telah mengganggu operasional, serta merusak reputasi organisasi, kepemimpinan, dan mitra strategisnya.

Pihak Harry dan Dyer menanggapi dengan tegas, menyebut mereka "secara kategoris menolak klaim yang menyinggung dan merusak tersebut." Gugatan ini menjadi situasi yang tidak biasa bagi Harry, yang selama beberapa tahun terakhir lebih sering tampil sebagai penggugat dalam berbagai kasus.

Ini termasuk perkara privasi terhadap sejumlah media Inggris terkait dugaan peretasan dan pengawasan ilegal. Sentebale sendiri didirikan sekitar 20 tahun lalu oleh Harry bersama Pangeran Seeiso dari Lesotho. Nama "Sentebale" berarti "jangan lupakan aku" dalam bahasa Lesotho, sebagai penghormatan untuk Putri Diana yang dikenal aktif dalam isu HIV/AIDS.

Mencuatnya Ketegangan

Ketegangan di tubuh organisasi mulai mencuat pada 2023 terkait strategi penggalangan dana. Situasi itu kemudian memuncak hingga Harry dan Seeiso mundur sebagai pelindung pada Maret 2025, dengan alasan hubungan antara dewan dan ketua organisasi, Sophie Chandauka, sudah tidak dapat diperbaiki.

Namun, Chandauka justru menuduh Harry melakukan kampanye intimidasi dan tekanan untuk memaksanya mundur. Ia juga menyebut adanya gangguan dalam acara penggalangan dana yang melibatkan tim produksi program Netflix Harry, serta insiden yang melibatkan Meghan Markle yang disebut turut memicu ketegangan.

Komisi Amal Inggris dan Wales kemudian turun tangan melakukan penyelidikan. Lembaga itu mengkritik kedua pihak karena membiarkan konflik menjadi konsumsi publik hingga merusak reputasi organisasi, meski tidak menemukan bukti adanya intimidasi atau misogini yang meluas.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |