Gandhi Fernando Kritik Ifan Seventeen Jadi Dirut PFN, Singgung Kompetensi dan Seluk Beluk Produksi Film

2 weeks ago 26

Liputan6.com, Jakarta Setelah Ifan Seventeen diangkat sebagai Direktur Utama PT Produksi Film Nasional alias Dirut PFN, beragam reaksi bermunculan khususnya dari insan film Tanah Air. Gandhi Fernando salah satu yang bersuara lantang.

Lewat dua video yang diunggah di akun Instagram terverifikasi, Kamis (13/3/2025), Fandhi Fernano terang-terangan mengaku kecewa kepada Presiden Prabowo. Setelahnya, produser film Anak Kunti berbagi perspektif soal Dirut PFN dan PFN kepada publik.

“Jadi baru-baru ini presiden kita menunjuk penyanyi Ifan Seventeen jadi Direktur Utama PT Produksi Film Negara, PFN. Jadi Direktur Utama,” kata Gandhi Fernando lalu menjelaskan PT PFN adalah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang audiovisual.

Saat ini, PFN bertransformasi menjadi perusahaan pembiayaan film. Tahun 2023, PT PFN mencatat pendapatan sebesar Rp2,7 miliar dengan laba Rp220 juta. Bintang film Lampir kemudian menyinggung soal kompetensi.

Promosi 1

Segudang Orang Hebat

“Dari segudang orang film yang hebat, kenapa yang dipilih penyanyi yang enggak pernah produksi film?” Gandhi Fernando menyambung. Tak henti sampai di situ, ia menyebut sejumlah nama besar di industri film Tanah Air.

Yang disebut yakni Garin Nugroho, Reza Rahadian, Christine Hakim, Hanung Bramantyo, Mira Lesmana, Riri Riza, Nicholas Saputra, dan Luna Maya. Mereka dinilai lebih kompeten menjalankan perusahaan negara di bidang produksi film.

Lahan Basah?

Tak sekadar mengkritik, Gandhi Fernando mengingatkan bahwa produksi film tak bisa hanya bermodal pendidikan manajemen, tapi harus paham betul seluk beluk cara memproduksi yang benar dan memilih proyek yang baik untuk investasi film negara.

“Produksi film itu juga lahan basah untuk korupsi kalau tidak dipegang orang yang paham produksi. Atau orang yang jujur. Bukan berarti gue bilang Ifan Seventeen enggak jujur ya. Tidak. Bukan itu poinnya,” ia memperingatkan.

Jasa Dalam Produksi Film

Gandhi Fernando mencontohkan, seseorang bisa saja ngomong bahwa standar honor produser lini, sutradara, penulis, dan aktor-aktris sekian juta atau miliar rupiah. Karena tak ada gaji UMR atau standar gaji dalam produksi film.

“Semua berdasarkan dari pengalaman saja para produser bisa memperkirakan sebuah honorarium yang pantas untuk pemberi jasa dalam produksi film. Dan itu cuma satu contoh dari sekian studi kasus ratusan lainnya,” cetus Gandhi Fernando.

Terlepas dari semua ini, Gandhi Fernando berharap ke depan, PFN punya gebrakan signifikan dalam memajukan industri sinema Indonesia. Film adalah kerja kolektif yang melibatkan banyak pemain dan kru. Diharapkan, insan film makin produktif dan sejahtera ke depan.

Pelakon memainkan musikal sinematik City of Love di Plenarry Hall Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (14/2/2025). (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |