Intelijen CIA Peringatkan Bos Apple Dkk Segera 'Angkat Kaki' dari Taiwan, Apa Alasannya?

19 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Selama satu dekade terakhir, para elit Silicon Valley cenderung menganggap ketegangan di Selat Taiwan hanya sebagai kendala logistik kecil.

Namun, realitas pahit kini mulai terhendus. Dalam sebuah pertemuan tertutup di California, Amerika Serikat (AS), CIA dilaporkan memberikan peringatan keras kepada CEO Apple, Tim Cook, dan para pemimpin teknologi lainnya.

Mereka diperingatkan untuk bersiap menghadapi kemungkinan aksi militer China terhadap Taiwan sebelum akhir 2027.

Pesan intelijen tersebut tidak lagi berupa teori. Komunitas intelijen AS kini menarik garis tegas, menempatkan Apple dan raksasa teknologi lainnya tepat di tengah zona bahaya geopolitik.

Konsekuensi ekonomi dari potensi konflik ini diprediksi akan mencapai skala apokaliptik. Ini bukan sekadar penundaan peluncuran iPhone terbaru, melainkan ancaman keruntuhan ekonomi global. Demikian sebagaimana dikutip dari Gizchina, Rabu (25/2/2026)

Laporan rahasia menunjukkan bahwa hilangnya produksi cHip dari Taiwan dapat memicu krisis yang lebih buruk daripada Great Depression tahun 1930-an.

Produk Domestik Bruto (PDB) AS diperkirakan bisa anjlok hingga 11 persen. Mengingat Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) memproduksi sekitar 90 persen semikonduktor paling canggih di dunia, kecemasan Gedung Putih sangat beralasan.

Ini bukan lagi soal industri gadget, melainkan tentang isu infrastruktur dasar peradaban modern.

Poin Kunci Krisis Semikonduktor

  • Peringatan Intelijen: CIA memperingatkan para CEO bahwa China kemungkinan besar akan bergerak menuju Taiwan pada tahun 2027.
  • Dampak Ekonomi: Konflik di Taiwan diprediksi akan merugikan ekonomi global lebih dari USD 10 triliun.
  • Disparitas Biaya: Biaya produksi chip di AS saat ini 25 persen lebih mahal dibandingkan produksi di Taiwan.
  • Komitmen Apple: Apple telah mengalokasikan USD 100 miliar untuk mendukung manufaktur chip domestik di AS.
  • Runtuhnya "Perisai Silikon": Strategi perisai silikon TSMC kini mulai goyah menghadapi realitas geopolitik yang berubah.

Dilema Ketergantungan Silicon Valley

Meski peringatan telah diberikan, upaya melepaskan diri dari ketergantungan pada Taiwan terbukti menjadi mimpi buruk logistik.

Selama bertahun-tahun, industri teknologi merasa aman di balik strategi "perisai silikon"--keyakinan bahwa pentingnya TSMC bagi dunia akan mencegah invasi.

Namun, membangun kemandirian di tanah Amerika tidaklah murah. Perbedaan biaya tenaga kerja dan regulasi perizinan menciptakan kenaikan harga sebesar 25 persen.

Bagi Apple, yang selama ini sangat ketat menjaga margin keuntungan, ini adalah kenyataan yang sulit diterima.

Ironisnya, fasilitas yang sedang dibangun di Arizona saat ini masih tertinggal satu generasi dibandingkan teknologi mutakhir yang ada di Taiwan. Upaya ini dinilai banyak pihak sebagai langkah setengah hati di tengah krisis skala penuh.

Transisi yang Terlambat

Dalam sebuah momen langka yang jujur, Tim Cook dilaporkan mengakui kepada pejabat pemerintah bahwa kini ia "tidur dengan satu mata terbuka".

Sebagai langkah antisipasi, Apple akhirnya berkomitmen pada investasi domestik senilai USD 100 miliar, bahkan mulai menjajaki kerja sama dengan Intel untuk mengevaluasi kemampuan manufaktur mereka.

Namun, realitas di lapangan tetap suram. Sebagian besar chip yang berlabel "Made in America" pada akhirnya tetap harus dikirim kembali ke Taiwan untuk proses pengemasan (packaging) tingkat lanjut.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |