Apple Disebut Ubah Strategi AI, Siri di iOS 27 Bisa Terhubung ke AI Selain ChatGPT

10 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Apple dikabarkan akan melakukan perubahan besar dalam strategi terkait kecerdasan buatan (AI) mereka. Dari awalnya berusaha mengejar pemain besar AI lewat fitur internal, kini perusahaan lebih fokus menjadikan iPhone, Siri, dan App Store sebagai platform bagi layanan AI lebih luas.

Kabar ini datang dari laporan jurnalis Bloomberg, Mark Gurman. Ia menyebutkan, Apple akan mengungkap perubahan arah strategi ini dalam ajang World Developer Conference (WWDC) 2026 pada 8 Juni mendatang.

Perubahan ini menarik karena menyentuh salah satu produk Apple paling sering dipakai, yakni Siri.

Dilansir Bloomberg, Senin (30/3/2026), perusahaan berbasis di Cupertino itu berencana membuka Siri agar bisa terhubung dengan lebih banyak layanan AI pihak ketiga lewat fitur baru di iOS 27.

Jadi nantinya, saat pengguna mengajukan pertanyaan yang tidak dapat dijawab Siri secara langsung, jawaban tersebut tidak harus selalu dialihkan ke ChatGPT. Pengguna disebut bisa memilih layanan AI mana yang ingin dipakai, asalkan integrasinya diizinkan oleh aplikasi terkait.

Saat ini, ChatGPT memang sudah dipakai sebagai jalur pelimpahan untuk pertanyaan tertentu di Siri. Namun di iOS 27, Apple disebut ingin membuat pendekatan lebih terbuka dan tidak lagi sebagai asisten tunggal.

Mark juga menyebutkan, Apple sedang menyiapkan bagian khusus bernama “Extensions” di App Store. Bagian ini digambarkan sebagai ‘marketplace’ integrasi AI pihak ketiga.

Di sini, pengembang bisa meluncurkan layanan atau tools mereka, sementara Apple tetap berada di posisi menguntungkan lewat distribusi platform dan komisi App Store.

Penting dicatat, semua ini masih berupa laporan dan rumor. Pembuat iPhone ini baru memastikan jadwal WWDC 2026, tetapi masih tutup mulut mengungkap rincian resmi soal Siri baru, iOS 27, atau marketplace AI di App Store.

Apple Setop Produksi Mac Pro Setelah 20 Tahun

Di sisi lain, Apple resmi mengumumkan penghentian produksi (discontinued) lini komputer desktop paling bertenaga mereka, Mac Pro. Langkah ini menandai berakhirnya era desain tower ikonik Apple, seiring perusahaan sepenuhnya mengalihkan fokus pada ekosistem Mac Studio.

Berdasarkan laporan 9to5Mac, dikutip Minggu (29/3/2026), Apple telah menghapus Mac Pro dari situs resminya per Kamis sore waktu setempat.

Laman pembelian Mac Pro kini dialihkan ke halaman utama kategori Mac, di mana semua referensi mengenai perangkat tersebut telah dihilangkan. Apple juga mengonfirmasi bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk merilis perangkat keras Mac Pro di masa depan.

Untuk diketahui, Mac Pro pertama kali diperkenalkan pada 2006 atau 20 tahun lalu sebagai penerus Power Mac G5.

Keputusan ini sebenarnya sudah diprediksi oleh banyak pengamat. Mac Pro sempat menjadi standar tertinggi bagi para profesional kreatif. Namun, transisi ke Apple Silicon mengubah peta kekuatan produk mereka.

Meskipun sempat diperbarui dengan chip M2 Ultra pada Juni 2023, posisi Mac Pro kian terhimpit. Di saat Apple meluncurkan chip M3 Ultra pada Mac Studio tahun lalu, Mac Pro tetap bertahan di harga USD 6.999 (sekitar Rp 118 juta) tanpa pembaruan spesifikasi.

Kini, Mac Studio resmi memegang tonggak sebagai desktop kelas "Pro". Perangkat ringkas ini menawarkan konfigurasi maksimal dengan chip M3 Ultra, CPU 32-core, GPU 80-core, serta dukungan memori terpadu hingga 256GB dan penyimpanan SSD 16TB.

Lini Produk Paling Solid dalam Sejarah

Dengan pensiunnya Mac Pro, Apple kini menyederhanakan portofolio komputer desktopmereka menjadi tiga model utama:

iMac 24 inci dengan chip M4.Mac mini dengan chip M4 dan M4 Pro.Mac Studio dengan opsi chip M4 Max dan M3 Ultra.Di sektor portabel, Apple juga memperkuat lini mereka dengan kehadiran MacBook Neo sebagai opsi entry-level terbaru, bersanding dengan MacBook Air dan MacBook Pro.

Banyak analis menilai bahwa ini adalah formasi produk Mac terkuat yang pernah dimiliki Apple, mencakup berbagai rentang harga dan kebutuhan performa.

Spekulasi Alasan Apple Bunuh Mac Pro

Salah satu alasan teknis di balik keputusan ini diduga kuat berkaitan dengan fitur baru pada macOS Tahoe 26.2. Pembaruan tersebut memperkenalkan fitur low-latency yang memungkinkan penggunaan RDMA melalui Thunderbolt 5.

Teknologi ini mengizinkan pengguna untuk menghubungkan beberapa unit Mac secara bersamaan guna meningkatkan performa secara skalabel.

Inovasi tersebut secara efektif menggantikan fungsi ekspansi internal yang selama ini menjadi nilai jual utama Mac Pro di segmen ultra high-end.

Bagi para Apple Fanboy, kabar ini mungkin mengecewakan. Namun, mempertahankan Mac Pro dengan spesifikasi lama di harga yang sangat tinggi dinilai tidak lagi relevan bagi konsumen. Dengan memprioritaskan Mac Studio, Apple tampak ingin menawarkan performa tinggi dalam bentuk yang lebih efisien dan modern.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |