Seni Berkomunikasi 'Soft Rejection' untuk Kesehatan Mental

9 hours ago 4

loading...

Fathiya Azka Amalina, Mahasiswi Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Aceh. Foto: Istimewa

Fathiya Azka Amalina
Mahasiswi Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Aceh

PERNAHKAH Anda merasa terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan hanya karena tidak tega menolak ajakan orang lain? Entah itu ajakan nongkrong saat kelelahan, tambahan pekerjaan di luar jam kerja, atau permintaan tolong yang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang lain. Kejadian ini pasti akrab di kalangan mereka yang sering merasa risih, takut menyinggung, atau khawatir dicap buruk dan tidak baik oleh orang lain. Padahal, sikap seperti inilah yang justru sering mengorbankan ketenangan jiwanya sendiri.

Menolak ajakan kerap diidentikkan dengan tindakan kasar atau egois. Padahal, kemampuan untuk berkata ‘tidak’ adalah salah satu fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental. Di sinilah seni ‘soft rejection’ hadir sebagai pendekatan untuk menolak dengan halus, tanpa menyinggung orang lain, tanpa merusak hubungan sosial, sekaligus membentengi diri dari kelelahan emosional.

Secara umum, soft rejection adalah strategi komunikasi interpersonal untuk menolak ajakan atau permintaan dengan tetap menghargai lawan bicara, tanpa mengorbankan batasan pribadi (personal boundaries). Istilah ini merupakan pengembangan dari kajian tentang refusal skills dan komunikasi yang tegas juga percaya diri, yang muncul sebagai respons terhadap tekanan sosial modern yang kerap menyulitkan individu untuk mempertahankan kesehatannya sendiri.

Kesulitan berkata ‘tidak’ dapat dijelaskan melalui psikoanalisis Sigmund Freud. Dalam teori struktur kepribadian, Freud membagi jiwa manusia menjadi tiga entitas yang saling bertentangan yaitu Id (dorongan naluriah), Ego (penyeimbang realitas), dan Superego (internalisasi nilai moral dan tekanan sosial).

Saat seseorang menerima ajakan yang tidak diinginkan, Superego kerap mendominasi dengan membisikkan norma-norma seperti ‘kamu harus bersikap baik’ atau ‘menolak itu tidak sopan.’ Akibatnya, Ego yang seharusnya menyeimbangkan malah mengaktifkan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), misalnya compliance (kepatuhan berlebihan), untuk menghindari rasa bersalah. Dengan cara itu, ketidakmampuan untuk menolak bukan hanya masalah ‘tidak enakan,’ melainkan konflik bawah sadar antara perlindungan diri dan tekanan sosial yang melahirkan kelelahan emosional (Gross & John, 2003).

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |