Sarwendah Rayakan Imlek Secara Sederhana, Hormati Masa Berkabung Mendiang Ayah

2 weeks ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Perayaan tahun Baru Imlek kali ini terasa berbeda bagi Sarwendah. Ia memilih menggelar acara sederhana karena masih dalam masa berkabung atas kepergian sang ayah yang akrab disapa Yeyeh, yang belum genap satu tahun meninggal dunia.

Demi menghormati mendiang, Sarwendah dan keluarga memutuskan untuk meniadakan beberapa tradisi. Dia memilih merayakan momen Tahun Baru Imlek dengan hanya berkumpul bersama keluarga dan orang terdekat.

"Oke, semuanya. Imlek hari ini senang, kumpul bareng keluarga. Enggak ada acara yang kayak gimana, enggak boleh ada perayaan terlalu bagaimana karena kebetulan kan Yeyeh belum satu tahun meninggal. Ngumpulnya paling cuma bareng keluarga, tim, sama orang-orang terdekat saja, gitu," kata Sarwendah di kediamannya, Kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Selasa (17/2/2026).

Salah satu perubahan paling mencolok adalah absennya warna merah menyala yang biasanya mendominasi dekorasi dan busana saat Tahun Baru Imlek. Begitu juga amplop angpao yang biasanya menjadi ciri khas saat berbagi di momen bahagia tersebut.

"Terus kemarin sudah berdiskusi akhirnya gitu dengan apa kepercayaan masing-masing, gitu. Tanya sana-sini, karena kan ini tradisi ya, sudah katanya, 'Oh ya boleh, tapi nggak boleh pakai angpao merah.' boleh makan-makan tapi sama keluarga, ya sudah orang sekitar saja. Nggak boleh pakai baju warna terlalu merah, gitu. Makanya hari ini biru," terangnya.

Soal Barongsai yang Absen, Sarwendah Beri Pengertian pada Anak-Anak

Tak hanya soal busana, atraksi barongsai yang biasanya selalu hadir memeriahkan rumah Sarwendah setiap tahunnya, kali ini pun ditiadakan. Sarwendah juga telah memberikan pengertian kepada anak-anaknya perihal beberapa tradisi Imlek yang tak ada.

"Ya mereka sudah mengerti sih. Kan waktu itu juga pada saat acara Yeyeh juga mereka mengerti. Sudah dikasih tahu juga. Kebetulan kemarin pas kita malam sebelum Sincia (malam tahun baru) ada malam makan-makan keluarga juga gitu, itu di restorannya ada Barongsai gitu. Jadi sudah dikasih tahu anak-anak juga," jelasnya.

Tradisi Kuliner di Keluarga Sarwendah

Meski demikian, tradisi kuliner tetap dijalankan dengan penyesuaian. Ada pantangan bagi ibunda Sarwendah untuk membuat kue lapis legit sendiri tahun ini, sehingga mereka hanya menerima kue tersebut sebagai pemberian.

"Pasti kan kalau misalnya tiap Imlek pasti Nana masak shabu-shabu, kue lapis, biar rezekinya berlapis-lapis. Tapi shabu-shabunya boleh, kalau kue lapisnya Nana nggak boleh bikin kue lapis. Jadi akhirnya kita yang dikasih saja. Karena katanya kan kebetulan dia belum setahun, jadi nggak boleh bikin kue lapis dulu, gitu. Makanan wajib yang selalu ada pasti shabu-shabu," ucap Sarwendah.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |