Pengakuan Marissa Anita Usai Syuting Film Crocodile Tears: Cinta Itu Menyesakkan atau Membebaskan?

1 day ago 11

Jadi intinya...

  • Marissa Anita merenungkan cinta ibu yang bisa menyesakkan melalui perannya di Crocodile Tears.
  • Film ini menyoroti konflik Mama dan Johan saat putranya mencari kemandirian, mempertanyakan bentuk cinta.
  • Sutradara Tumpal Tampubolon memberikan kebebasan aktor untuk berkreasi, memperkaya karakter film.

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Marissa Anita, Crocodile Tears bukan sekadar film. Berperan sebagai Mama, Marissa Anita saat reading naskah hingga syuting mulai bertanya-tanya tentang bentuk cinta yang dibutuhkan tiap insan. Ia sadar, dalam 10 tahun terakhir, banyak film Indonesia mengusung tema ibu. Kata ibu pun mengalami pergeseran makna, tak melulu merujuk pada wanita yang melahirkan anak.

Saat menonton Pengabdi Setan karya Joko Anwar misalnya, kata ibu terkesan mengerikan karena publik teringat Mawarni Suwono yang dimainkan Ayu Laksmi. Begitu pula ketika syuting Crocodile Tears, Marissa Anita merenungkan kata mama dan cinta seorang ibu.

“Mama adalah simbol ibu akan membuat kita yang menonton, bertanya kepada diri sendiri, cinta itu apa ya? Cinta itu rasanya posesif atau membebaskan? Cinta itu menyesakkan atau membebaskan (atau melegakan)? Karena Mama akan menunjukkan bahwa cinta itu menyesakkan,” beri tahu Marissa Anita dalam wawancara eksklusif dengan Showbiz Liputan6.com di Gedung KLY Jakarta Pusat, belum lama ini.

Dalam Crocodile Tears, Mama tinggal bareng putranya, Johan (Yusuf Mahardika). Keduanya menjalani hidup yang tenang dan monoton. Ketenangan mulai bergolak saat Johan mengenal Arumi (Zulfa Maharani) lalu mulai berani menentukan jalan hidupnya sendiri. Hubungan Mama dan Johan perlahan menegang. Ini membuat Mama membuat keputusan tak terduga. Mama dan cintanya salah satu poros masalah dalam Crocodile Tears.

Bentuk Cinta yang Kita Butuhkan

“Tapi, bentuk cinta yang kita butuhkan itu sebenarnya seperti apa? Penonton bisa mengecek dan harus dipahami kebutuhan cinta tiap orang itu beda-beda,” beri tahu Marissa Anita.

Zulfa Maharani membenarkan lalu mengenang asyiknya mendalami peran bareng sutradara sekaligus penulis naskah Tumpal Tampubolon. Tumpal Tampubolon mempersilakan para pemain membedah dan berkreasi dengan peran masing-masing.

Cara Mama Memang Seperti Itu

Bagi Zulfa Maharani, jarang ada sutradara sekaligus penulis naskah yang mau mengikhlaskan karakter yang sudah dibuat diutak-atik pemain. Dengan persetujuan Tumpal Tampubolon, karakter Mama, Johan, dan Arumi mekar dengan cara yang indah.

Zulfa Maharani sempat terbawa suasana kala mendalami dunia Johan. “Mungkin cara Mama memang seperti itu dan itu baik untuk Johan. Kalau aku pribadi, andai bertemu case serupa di dunia nyata, kayaknya bukan hal buruk tapi enggak tepat untuk aku,” urainya.

Terbuka Secara Emosi

Marissa Anita pun happy saat Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani terpilih sebagai lawan mainya dalam Crocodile Tears. Terang-terangan, ketiganya saling mengapresiasi kinerja selama syuting bareng Tumpal Tampubolon.

“Zulfa Maharani pemain yang terbuka secara emosi dan kolaboratif serta menyenangkan,” ucap Marissa Anita. “Yusuf Mahardika partner main yang enak diajak diskusi dan memberi ruang aman juga nyaman,” ucap Zulfa Maharani.

Jawaban unik diberikan Yusuf Mahardika. “Marissa Anita adalah duh, bagaimana ya?” cetusnya lalu terbahak. Marissa Anita menyahut, “Enggak apa-apa, biar begitu saja nanti biar penonton yang menyimpulkan ha ha ha!”

Film Children of Heaven Siap Rilis, Hanung Bramantyo Umumkan Kampanye Sepasang Sepatu Berjuta Mimpi

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |