Liputan6.com, Jakarta - Paus Fransiskus meninggal dunia di Kota Suci Vatikan, Roma, Italia, pada Senin (21/4/2025). Ia wafat di usia 88 tahun akibat penyakit bronkitis kronis.
Selama kepemimpinannya, Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin Gereja Katolik yang lebih terbuka dan reformis di zaman modern saat ini, termasuk soal sudut pandangnya terhadap teknologi.
Pada awal April 2025, ia menyampaikan intensi doanya yang berfokus pada teknologi baru, menekankan pentingnya penggunaan teknologi yang tidak mengorbankan hubungan antarmanusia, menghormati martabat individu, dan membantu mengatasi krisis.
Di tengah maraknya tren media sosial dan perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI), Paus Fransiskus menegaskan bahwa teknologi adalah buah dari kecerdasan yang diberikan Tuhan kepada kita. Ia pun memperingatkan bahaya teknologi jika disalahgunakan.
"Ada yang salah jika kita menghabiskan lebih banyak waktu di ponsel daripada dengan manusia," ujarnya, dikutip dari Vatican News.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan layar (HP dan gadget lainnya) yang semakin meningkat dalam berbagai bentuk "membuat kita lupa bahwa ada orang-orang nyata di baliknya yang bernapas, tertawa, dan menangis."
"Akibatnya, perundungan siber dan kebencian mulai berkembang di jaringan media sosial," ia menuturkan.
Lebih lanjut, Paus menekankan bahwa teknologi adalah kebaikan yang seharusnya tidak hanya menguntungkan segelintir orang sambil mengecualikan yang lain, karena hal ini menyebabkan ketidaksetaraan ekonomi, sosial, tenaga kerja, pendidikan, dan lainnya.
Sedih Lihat Orang pakai HP saat Misa
Untuk menghindari dampak negatif, Paus Fransiskus mendorong semua orang menempatkan teknologi untuk melayani manusia--sebagai sarana untuk menyatukan orang-orang, membantu mereka yang membutuhkan, meningkatkan kehidupan orang sakit, membina budaya pertemuan, dan melindungi Bumi.
Teknologi tidak dimaksudkan untuk memisahkan manusia dari realitas dan hubungan. Oleh karena itu, Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk mengurangi melihat layar (menggunakan gadget) dan lebih saling menatap mata.
Pada misa yang berlangsung di Lapangan Santo Petrus di Roma pada 2017, Paus sempat mengatakan bahwa dirinya merasa sedih ketika banyak orang menggunakan HP, bahkan para pendeta dan uskup mengambil foto.
"Sangat menyedihkan ketika saya merayakan misa di sini atau di dalam basilika dan saya melihat banyak ponsel diangkat--tidak hanya oleh umat beriman, tetapi juga oleh para pendeta dan uskup," ujar Paus kala itu, dikutip dari BBC.
Saat Paus Fransiskus Ingatkan Tentang Penggunaan AI dan Mitigasi Risikonya
Paus Fransiskus merupakan pemimpin agama katolik yang dihormati. Pasalnya, selain sebagai pemimpin agama katolik, Paus Fransiskus juga peduli dengan isu-isu terkini di dunia, termasuk isu berkaitan dengan teknologi.
Paus yang berasal dari Buenos Aires, Argentina ini, sempat mengungkapkan kesedihannya karena saat ini banyak orang melakukan ibadah misa di gereja tetapi justru sibuk dengan smartphone.
Terbaru, sebagaimana dikutip Tekno Liputan6.com dari Vatican News, Paus Fransiskus menyoroti tentang teknologi kecerdasan buatan alias artificial intelligence.
Dalam laporan tahun lalu, pada konvensi internasional tentang AI Generatif dan Paradigma Teknokratis, Paus Fransiskus sempat menegaskan bahwa kecerdasan buatan hanya boleh digunakan untuk memberi manfaat bagi umat manusia.
Menurut pria bernama asli Jorge Mario Bergoglio ini, kemajuan teknologi yang dahsyat seperti halnya AI, perlu dipergunakan secara etis, terutama untuk melayani kemanusiaan.
Ia juga mengingatkan, dalam perkembangan AI, risiko yang melekat dari kecerdasan buatan perlu dimitigasi.
AI Harus Tetap Jadi Alat di Tangan Manusia
Agar tidak menjadi ketergantungan bagi manusia, Paus Fransiskus pun meminta agar akademisi serta pakar dari berbagai negara dan disiplin ilmu perlu menganalisis peluang dan risiko terkait pengembangan AI.
Ia sempat berterima kasih kepada berbagai pihak dan orang-orang sebelum dirinya yang berkomitmen untuk mengeksplorasi bagaimana kemungkinan AI bisa meningkatkan martabat manusia dan melayani banyak orang yang kurang beruntung.
"Saya mengapresiasi bahwa Centesimus Annus (penyelenggara konvensi) telah memberikan ruang yang cukup bagi subjek ini, dengan melibatkan akademisi dan pakar dari berbagai negara dan disiplin ilmu, untuk menganalisis peluang dan risiko terkait pengembangan dan penggunaan AI," kata Paus Fransiskus.
Ia pun memperingatkan tentang AI atau tool yang bertindak secara otonom. Ia menekankan, "AI adalah dan harus tetap menjadi alat di tangan manusia."
AI Harus Meningkatkan Martabat Manusia
Paus Fransiskus juga mengingatkan bahwa saat meneliti tentang AI, orang harus kembali lagi, apa tujuan AI?
"Apakah AI berfungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia, meningkatkan kesejahteraan, dan pengembangan integral manusia? Atau AI justru berfungsi untuk memperkaya dan meningkatkan kekuatan beberapa raksasa teknologi yang sudah tinggi meski membahayakan manusia?" katanya, mengingatkan.
Menurutnya, pertanyaan tersebut harus jadi dasar bagi mereka yang ingin mengembangkan AI ke level yang lebih tinggi.
Pasalnya, kata Paus Fransiskus, masa depan umat manusia akan ditentukan oleh inovasi teknologi.
"Kita tidak boleh melewatkan kesempatan untuk berpikir dan bertindak dengan cara baru, dengan pikiran, hati dan tangan untuk mengarahkan inovasi menuju tujuan yang berpusat pada keutamaan martabat manusia," katanya.