Mengulik Teknologi LumaColor Realme 16 Pro+ 5G di Balik Pintu AI Image Lab Shenzhen

1 day ago 4
  • Apa tujuan utama Realme AI Image Lab?
  • Bagaimana AI Image Lab mensimulasikan kondisi kehidupan sehari-hari?
  • Apa peran teknologi LumaColor dalam pengujian kamera di lab ini?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Shenzhen - Di Shenzhen, kota yang tak pernah lepas dari kata “teknologi”, jurnalis Tekno Liputan6.com, Nanda Perdana Putra, memasuki sebuah ruang yang terasa seperti studio film bercampur laboratorium masa depan. Namanya Realme AI Image Lab.

Sekilas, tempat ini tampak seperti taman bermain visual. Namun di balik lampu, robot, dan deretan set yang tertata rapi, ada satu tujuan utama: melatih kamera agar memahami dunia nyata dengan bantuan kecerdasan buatan.

Begitu masuk, saya langsung melihat sebuah robot dengan AI camera yang bergerak presisi. Ia bukan sekadar alat perekam. Ia membaca cahaya, mengenali objek, dan menyesuaikan pengambilan gambar secara otomatis.

Di atasnya, sistem lampu sudah diatur oleh AI—intensitas, arah, hingga temperatur warna dikontrol tanpa campur tangan manual.

Di sini, pencahayaan bukan sekadar terang atau gelap. Ia adalah data.

Ruang yang Disulap Jadi Dunia Mini

Yang membuat AI Image Lab menarik bukan hanya teknologinya, tetapi bagaimana ruang ini dirancang. Di dalamnya terdapat berbagai set yang dibuat menyerupai kehidupan sehari-hari, seolah dunia dipadatkan dalam satu studio besar.

Ada toko bunga dengan warna-warna lembut dan detail kelopak yang rumit. Di sebelahnya, toko makeup dengan cermin bercahaya dan kemasan mengilap--tantangan tersendiri untuk kamera yang harus menangkap tekstur dan pantulan tanpa overexposed.

Tak jauh dari situ, berdiri miniatur kota wisata. Gedung kecil, jalanan mungil, hingga lanskap buatan diuji untuk melihat bagaimana kamera membaca kedalaman dan perspektif.

Ada pula etalase boneka dengan tekstur kain berbeda, toko ponsel, toko baju, hingga ruangan rumah yang dibuat senyata mungkin. Semua ini bukan sekadar dekorasi. Setiap detail adalah simulasi kondisi nyata yang mungkin ditemui pengguna.

Di sudut lain, suasana berubah menjadi coffee shop dengan cahaya hangat. Kamera diuji untuk menangkap nuansa cozy tanpa membuat warna kopi tampak kusam.

Ada juga toko kosmetik dengan deretan sampul berwarna-warni, serta satu ruangan penuh warna kontras--merah, biru, kuning--untuk menguji bagaimana AI menjaga akurasi tone tanpa membuatnya berlebihan.

Di area lain, suasana dibuat lebih dramatis: bar dengan pencahayaan rendah dan permainan bayangan. Di sinilah sistem AI diuji dalam kondisi minim cahaya.

Lensa Dipadu Teknologi LumaColor

Di salah satu sudut laboratorium, terdapat set yang dibuat menyerupai ruang tamu rumah mewah. Sofa bertekstur lembut, lampu hias hangat, ornamen emas di meja, hingga detail tirai.

Di ruangan inilah tim Realme menguji bagaimana kamera bekerja pada jarak lensa 3,5x--jarak yang sering digunakan untuk memotret subjek tanpa harus terlalu dekat.

Pada jarak itu, karakter gambar berubah. Perspektif menjadi lebih intim, latar belakang terasa lebih terkompresi, dan detail objek tampil lebih fokus.

Tim pengembang memanfaatkan momen ini untuk menguji bagaimana teknologi LumaColor bekerja menjaga warna tetap hidup tanpa kehilangan nuansa cahaya ruangan yang cenderung hangat.

Lampu diatur menyerupai pencahayaan rumah premium: warm white dengan bayangan lembut di sudut ruangan. Tantangannya bukan sekadar membuat gambar terang, tetapi mempertahankan kedalaman warna--emas yang tidak terlalu kuning, putih yang tidak pucat, dan bayangan yang tetap menyisakan detail.

Di sinilah peran LumaColor diuji: bagaimana sistem mengenali perbedaan suhu cahaya dan tetap menjaga keseimbangan tone kulit, tekstur kain, serta pantulan cahaya pada permukaan kaca atau logam. Hasilnya bukan hanya gambar yang tajam, tetapi juga atmosfer yang terasa nyata--seolah ruangan itu bisa disentuh.

Pengujian di set rumah mewah ini menunjukkan satu hal: pengembangan kamera bukan sekadar soal angka, melainkan bagaimana teknologi memahami konteks.

Dan di Realme AI Image Lab, konteks itu diciptakan ulang dengan detail yang nyaris teatrikal--agar ketika pengguna memotret momen di ruang keluarga mereka sendiri, sistem sudah siap memahami cahaya, jarak, dan warna yang sesungguhnya.

Makanan Sebagai Ujian Detail

Menariknya, satu bagian studio didedikasikan khusus untuk makanan.

Ada etalase makanan, lengkap dengan kue, disusul pizza, steak, dan spageti yang ditata menggugah selera di meja. Bahkan minuman dengan es batu transparan dan pantulan cahaya ikut menjadi objek pengujian.

Makanan adalah tantangan tersendiri bagi kamera: warna harus menggoda, tekstur harus tajam, tapi tetap terlihat natural. Terlalu cerah, terlihat palsu. Terlalu gelap, kehilangan daya tarik.

Di sinilah AI bekerja--membaca konteks bahwa ini makanan, lalu menyesuaikan karakter visualnya.

Ada pula set bertema India. Sebuah Indian style room dengan dekorasi khas, kain berpola, dan warna hangat yang kaya. Bahkan terdapat konter ponsel bergaya India yang merepresentasikan pasar tertentu.

Ini menunjukkan bagaimana pengujian kamera tidak hanya berbasis teknis, tetapi juga kultural. AI tidak hanya diajarkan mengenali objek, tetapi juga memahami preferensi visual di berbagai wilayah.

Cahaya yang Dikendalikan Algoritma

Salah satu bagian paling menarik adalah permainan lampu yang sepenuhnya dikontrol AI. Intensitas cahaya berubah, sudut pencahayaan digeser, dan warna lampu disesuaikan--semuanya untuk mensimulasikan kondisi berbeda: siang terik, sore redup, indoor hangat, hingga lampu neon dingin.

Di balik layar, sistem menganalisis hasilnya, mengumpulkan data, dan terus belajar.

Realme AI Image Lab bukan ruang steril penuh kabel dan server. Ia dirancang seperti dunia kecil--tempat kamera dilatih menghadapi kenyataan sebelum benar-benar digunakan pengguna.

Dari toko bunga hingga steak, dari ruang penuh warna hingga bar dengan cahaya remang, setiap sudut adalah simulasi kehidupan.

Dan mungkin di sinilah letak menariknya:
kamera yang kita gunakan sehari-hari ternyata lebih dulu “berjalan” di tempat-tempat seperti ini--belajar memahami dunia, sebelum akhirnya memotret dunia kita.

Di Shenzhen, teknologi tidak hanya dibuat. Ia diuji, dilatih, dan disempurnakan di sebuah studio yang diam-diam merekam lebih banyak cerita daripada yang kita bayangkan.

Infografis Akhir Riwayat Ponsel Black Market di Indonesia. (Liputan6.com/Trieyasni)

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |