Ketidakpastian Yang Pasti

3 hours ago 4

loading...

Candra Fajri Ananda, Wakil Ketua Badan Supervisi Otoritas Jasa Keuangan. Foto/Dok. SINDOnews

Candra Fajri Ananda
Wakil Ketua Badan Supervisi OJK

MEMASUKI awal tahun 2026, perekonomian global dihadapkan pada dinamika yang kian tak pasti dan sarat dengan berbagai risiko. Perekonomian global menunjukkan kondisi yang relatif rentan, ditandai oleh perlambatan pertumbuhan dan meningkatnya frekuensi guncangan kebijakan serta geopolitik.

Dana Moneter Internasional (IMF) melalui World Economic Outlook Update yang dirilis pada 19 Januari 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia menurun secara bertahap dari 3,3% pada 2024 menjadi 3,2% pada 2025 dan kembali melemah menjadi 3,1% pada 2026. Proyeksi tersebut mengindikasikan bahwa proses pemulihan global masih berlangsung, namun kehilangan momentum yang signifikan.

Sejalan dengan itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporan World Economic Situation and Prospects 2026 memperkirakan pertumbuhan output global hanya mencapai 2,7% pada 2026, masih berada di bawah rata-rata pra-pandemi sebesar 3,2%, yang mencerminkan pemulihan ekonomi global yang berlangsung tidak merata antarwilayah. Dalam situasi ini, pasar keuangan dan pelaku usaha menjadi semakin sensitif terhadap sinyal kebijakan yang berpotensi memengaruhi ekspektasi biaya perdagangan, inflasi, serta stabilitas hubungan internasional.

Ketidakpastian global tersebut pun semakin diperkuat oleh statemen politik yang bernada konfrontatif, khususnya yang disampaikan oleh Donald Trump terkait kebijakan tarif dan tekanan terhadap mitra dagang. Ancaman pengenaan tarif terhadap negara-negara sekutu yang tidak sejalan dengan kepentingan politiknya, termasuk dalam isu geopolitik Greenland, dengan cepat direspons pasar sebagai tambahan risiko bagi tatanan perdagangan internasional dan hubungan trans-Atlantik.

Tingginya persepsi risiko ini tercermin pada Global Economic Policy Uncertainty Index yang dirilis oleh Federal Reserve Economic Data (FRED), yang tercatat mencapai 389,43 pada Oktober 2025, setelah sebelumnya berada pada level yang lebih tinggi yaitu 412,36 pada Juli 2025. Lonjakan ketidakpastian kebijakan tersebut mendorong perusahaan untuk menunda investasi, memperpendek horizon kontrak bisnis, serta melakukan penyesuaian dan pengamanan rantai pasok, yang pada akhirnya menekan produktivitas dan meningkatkan volatilitas harga komoditas maupun nilai tukar.

Dampak peningkatan ketidakpastian ini tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga tercermin secara nyata dalam kinerja ekonomi riil. Di Amerika Serikat, aktivitas manufaktur dilaporkan mengalami kontraksi pada kuartal IV 2025, sementara sektor tersebut mencatat kehilangan sekitar 68.000 lapangan kerja sepanjang 2025, seiring dengan tekanan tarif dan kebijakan imigrasi yang memperketat pasar tenaga kerja.

Di kawasan Eropa, PBB juga mengaitkan pelemahan prospek ekonomi dengan meningkatnya hambatan perdagangan, di mana pertumbuhan ekonomi Uni Eropa diproyeksikan turun dari 1,5% pada 2025 menjadi 1,3% pada 2026, di tengah tarif Amerika Serikat yang lebih tinggi dan ketidakpastian global yang berlanjut. Hal ini menunjukkan bahwa kejutan negatif dari statemen politik bekerja melalui mekanisme transmisi yang jelas, mulai dari peningkatan ketidakpastian kebijakan dan premi risiko hingga penundaan investasi dan perlambatan perdagangan global.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |