Hauzah dan Pesantren: Dua Organisme Peradaban yang Menolak Runtuh

8 hours ago 2

loading...

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN Jakarta.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Beberapa pekan terakhir, dunia menyaksikan kembali kesalahan perhitungan strategis Amerika Serikat terhadap Iran. Serangan yang dilancarkan Washington ternyata tidak menghasilkan keruntuhan yang diharapkan. Sebaliknya, yang terjadi justru konsolidasi internal dan penguatan narasi ketahanan.

Boston Globe menyebutnya sebagai "perang yang sia-sia". Para analis militer kebingungan: mengapa sebuah negara yang diprediksi akan kolaps justru bertahan?

Jawabannya sederhana: Amerika salah membaca entitas yang mereka hadapi. Mereka melihat Iran sebagai negara biasa dengan struktur piramida—jika puncaknya dihancurkan, sisanya akan runtuh. Mereka lupa bahwa Iran adalah peradaban, dan di jantung peradaban itu ada institusi yang telah berusia ribuan tahun. Institusi itulah yang membuat Iran tidak mudah tumbang.

Lalu, institusi apa yang dimaksud? Di Iran dan Irak, ia bernama Hauzah 'Ilmiyyah. Di Indonesia, kita menyebutnya pesantren.

Hauzah: Bukan Sekadar Sekolah, Tapi Matriks Peradaban

Dalam tradisi Syiah, Hauzah 'Ilmiyyah adalah lembaga pendidikan tinggi keagamaan yang jauh melampaui fungsi sekadar transfer ilmu. Ia adalah matriks peradaban—tempat di mana nilai, ideologi, kepemimpinan, dan jaringan sosial direproduksi dari generasi ke generasi.

Hauzah 'Ilmiyyah di Najaf, Irak, didirikan pada abad ke-11 Masehi oleh Syaikh al-Tusi. Selama hampir seribu tahun, institusi ini telah menjadi pusat kaderisasi ulama Syiah. Pendidikan di Hauzah tidak hanya menghasilkan ahli fikih, tetapi juga mencetak mujtahid—otoritas keagamaan tertinggi yang memiliki kapasitas ijtihad dan pengaruh sosial-politik yang luar biasa.

Sistem pendidikan Hauzah memiliki kedalaman yang mencengangkan. Seorang pelajar (disebut thalabah) memulai dengan ilmu-ilmu dasar: nahwu, sharaf, mantiq, dan balaghah. Kemudian naik ke tingkat menengah mempelajari fikih dan ushul fikih. Dan pada puncaknya, ia mengikuti kuliah bahs kharij—tingkat lanjut di mana guru tidak menggunakan teks tertentu, tetapi menyampaikan pemikirannya sendiri sambil mengkritisi pendapat ulama terdahulu.

Yang membuat Hauzah berbeda dari lembaga pendidikan biasa adalah hubungan guru-murid yang bersifat personal dan berkelanjutan. Sebuah studi akademik tentang sistem pendidikan Hauzah Najaf menegaskan bahwa metode pengajaran dan perlakuan khusus antara guru dan murid menjadi kunci pewarisan spiritualitas Syiah. Para mujtahid yang lahir dari Hauzah tidak hanya menjadi rujukan keagamaan, tetapi juga memiliki pengaruh kuat terhadap para pengikutnya (muqallid) dalam masalah-masalah sosial dan politik.

Kelahiran Pemimpin dari Rahim Hauzah

Dari sistem inilah lahir tokoh-tokoh seperti Imam Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei.

Ruhullah Khomeini adalah produk langsung dari Hauzah Qom yang didirikan oleh Ayatullah Abdulkarim Ha'eri-Yazdi pada era Reza Shah Pahlavi. Ketika kebijakan Reza Shah berusaha mengurangi pengaruh sosial-politik ulama, Hauzah justru menjadi benteng terakhir yang memungkinkan para ulama mempertahankan kekuatan kelembagaan mereka.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |