Film Esok Tanpa Ibu, Ajarkan Arti Kehilangan dan Kekuatan Koneksi Lewat Teknologi

1 month ago 25

Liputan6.com, Jakarta - Akting Dian Sastrowardoyo dan Ringgo Agus Rahman bisa kembali disaksikan di film Esok Tanpa Ibu, drama keluarga yang akan tayang mulai Kamis, 22 Januari 2026 di bioskop. Dalam film yang disutradarai oleh Ho Wi Ding (Malaysia) dan diproduksi oleh BASE Entertainment, Beacon Film, serta Refinery Media, dengan naskah ditulis oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief, aktris yang akrab disapa sebagai Dian Sastro ini juga bertindak sebagai produser. 

Dalam film ini ia mendapat peran menarik, yaitu sebagai pemeran ibu sekaligus AI. Film ini mengangkat cerita tentang hubungan manusia dengan kecerdasan buatan dan siap menyentuh hati penonton.

Ada sebuah harapan khusus dalam hati Dian Sastrowardoyo mengenai film ini. “Semoga film Esok tanpa Ibu ini bisa menginspirasi keluarga – keluarga Indonesia untuk menjadi lebih bonding antara orang tua dan anak, dan memperkuat lagi antar manusia di era Teknologi saat ini serta relate di sekitar lingkungan kehidupan kita” ujar Dian Sastrowardoyo saat press screening dan konferensi pers film Esok Tanpa Ibu di Epicentrum XXI Epiwalk, Jakarta Selatan pada Senin (19/01/2026).

 Film Esok Tanpa Ibu mengisahkan tentang Rama (Ali Fikry), seorang remaja berusia 16 tahun yang sangat dekat dengan ibunya, Laras (Dian Sastrowardoyo), namun hubungannya dengan ayahnya, Hendi (Ringgo Agus Rahman), penuh ketegangan dan perdebatan.

Teknologi AI Bernama i-BU

Suatu hari, ibunya mengalami kecelakaan serius yang menyebabkan kondisinya koma, meninggalkan Rama dan ayahnya dalam kesedihan serta konflik emosional yang semakin dalam. Ikatan emosional tak tergantikan antara ibu dan anak kemudian coba dihadirkan lagu lewat teknologi AI bernama i-BU.

Zila (Aisha Nurra Datau), teman Rama, menciptakan i-BU, sebuah kecerdasan buatan (AI) yang meniru wajah, suara, dan sifat ibu. Tujuannya untuk mengisi kekosongan emosional, tapi sekaligus menjadi cermin dilema modern: bisakah koneksi virtual menggantikan kehangatan keluarga nyata?

AI ini awalnya memberikan kenyamanan, bahkan digunakan untuk merangsang pemulihan otak ibunya, tetapi memunculkan dilema moral tentang apakah mesin bisa benar-benar menggantikan kasih sayang ibu sejati. Film ini menggabungkan drama keluarga dengan elemen sci-fi, mengeksplorasi tema kehilangan, rekonsiliasi, dan batas teknologi.

Lanjut baca

  Rama merasa kesepian tanpa ibu sebagai tempat curhat, sementara hubungannya dengan ayah justru memburuk karena perbedaan pandangan dan kurangnya komunikasi. Ibunya selama ini berperan sebagai penengah dalam rumah tangga mereka, sehingga kehilangannya memperparah ketegangan antara ayah dan anak. Proses berduka digambarkan realistis sebagai perjalanan berat penuh kebingungan, isolasi, dan rasa bersalah, bukan sesuatu yang cepat selesai. Kehilangan memaksa Rama tumbuh lebih cepat, belajar ketabahan, serta memahami bahwa duka bisa jadi awal harapan baru dalam keluarga. Hubungan ibu-anak menonjol sebagai pilar emosional vital yang sulit digantikan.  

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |