Umay Shahab Akui Film Memburu Pemangsa Lahir dari Amarah, Diwujudkan dalam Genre Horor

1 hour ago 4

Jadi intinya...

  • Umay Shahab rilis film "Memburu Pemangsa" bergenre horor-kriminal-aksi.
  • Film ini soroti kekerasan seksual anak, didorong amarah atas kasus meningkat.
  • Pelaku dianggap lebih iblis, aktor anak didampingi psikolog dan Komnas Perempuan.

Liputan6.com, Jakarta - Sutradara muda Umay Shahab kembali ke layar lebar dengan film bertajuk Memburu Pemangsa dengan memadukan genre horor, kriminal, dan aksi. Film yang dibintangi oleh Prilly Latuconsina dan Laura Basuki ini juga mengangkat isu yang kian marak di Indonesia, yaitu kekerasan seksual terhadap anak.

Umay Shahab mengatakan isu kekerasan terhadap ini sangat penting untuk disampaikan dengan melihat kasus-kasus yang terus meningkat setiap tahunnya di Indonesia.

“Apa yang lebih penting bagi saya adalah bagaimana isu kekerasan terhadap anak ini bisa disampaikan. Berdasarkan data yang kami tampilkan, ada ribuan kasus kekerasan terhadap anak dan kekerasan seksual terhadap anak pada 2025, dan angkanya terus bertambah setiap tahun,” ujarnya dalam jumpa pers film Memburu Pemangsa di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Pria yang sebelumnya dikenal sebagai aktor cilik tersebut pun mengungkapkan bahwa film ini datang dari amarahnya terhadap para pelaku. Menurutnya, isu tersebut penting untuk dibicarakan dan medium film bioskop merupakan hal yang tepat untuk menunjukkannya.

“Ada amarah yang begitu besar dalam diri saya terhadap para pemangsa anak. Amarah itu yang ingin saya sampaikan melalui film Memburu Pemangsa. Saya merasa isu ini perlu diangkat melalui medium film bioskop karena penting untuk dibicarakan, terutama oleh kami yang menjadi bagian dari generasi muda,” ungkapnya.

Pastikan Aktor Anak Dapat Pendampingan

Memiliki banyak aktor anak-anak, sutradara berusia 25 tahun itu pun mengatakan bahwa setiap aktor mendapatkan pendampingannya sendiri dengan bantuan dari psikolog dan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

“Kita pastinya memberitahukan kepada orang tuanya dulu, lalu memberitahukan kepada anak-anaknya juga dengan batasan-batasan yang tertentu pastinya yang disampaikan oleh psikolog yang didelegasikan oleh Komnas,” katanya.

Ia juga menjelaskan hal tersebut sudah dicek dalam setiap tahap produksinya. “Untuk semua hal-hal yang sifatnya agak abu-abu, kita enggak mau memutuskan sendiri. Jadi, semuanya sudah di-screening dari tahap skenario sampai tahap post produksi,” tambahnya.

Alasan Angkat Isu Lewat Genre Horor

Di sisi lain, ia mengatakan pandangannya tentang para pelaku pemangsa anak yang lebih menyeramkan daripada iblis. Hal tersebut yang membuat dirinya mengangkat isu ini melalui genre horor.

“Bagi saya pribadi, pelaku pemangsa anak jauh lebih iblis daripada iblis itu sendiri. Mereka jauh lebih menyeramkan. Karena itu, kami merasa isu ini menarik untuk dibahas melalui sudut pandang genre horor,” tuturnya.

Cara Umay Jaga Keseimbangan Horor dan Isu

Sementara itu, ia juga mengungkapkan cara dirinya untuk menjaga keseimbangan antara genre horor yang digunakan dan isu yang ingin disampaikan dengan berdiskusi bersama para tim produksi. Ia pun konsultasi dengan para ahlinya, seperti Komnas dan jurnalis.

“Saya banyak berdiskusi dengan teman-teman dari cast dan penulis film untuk mencari keseimbangan tone, supaya unsur horornya tidak mengalahkan isu yang ingin disampaikan, begitu juga sebaliknya. Kami juga melakukan FGD sejak tahap skenario dan memberikan naskah kepada Komnas serta jurnalis senior untuk dibaca. Jadi, kami berusaha memastikan isu dan elemen dalam film ini dibahas dengan tepat,” ungkapnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Ucapan Syukur NPD Masuk Nominasi AMI Awards 2026, 7 Bulan Setelah Debut

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |