Top 3 Tekno: Platform Digital Asing Wajib Lakukan 'Self-Assessment' Jadi Sorotan

13 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Komdigi tengah mengawal proses penilaian mandiri (self-assessment) yang dilakukan oleh sejumlah platform digital asing hingga tenggat waktu 6 Juni 2026.

Berita ini menjadi sorotan para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Rabu (20/5/2026) kemarin.

Informasi lain yang juga populer datang dari alasan XLSmart yang abses membagikan dividen Tahun Buku 2025.

Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.

1. Komdigi Desak Platform Digital Asing Wajib Lakukan 'Self-Assessment' hingga 6 Juni 2026

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus mematangkan kesiapan regulasi perlindungan anak di ruang siber menjelang tenggat waktu penilaian mandiri bagi seluruh Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) pada 6 Juni 2026.

Melalui Peraturan Pemerintah (PP) Tunas, pemerintah menegaskan bahwa seluruh Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE), baik domestik maupun global, wajib mematuhi indikator perlindungan anak yang ketat tanpa terkecuali.

Analis Kebijakan Madya/Ketua Tim Hukum & Kerjasama Setditjen Pengawasan Ruang Digital dari Komdigi, Nanci Laura Sitinjak, mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah tengah mengawal proses penilaian mandiri (self-assessment) yang dilakukan oleh sejumlah platform digital besar.

Proses ini dinilai cukup kompleks lantaran melibatkan setidaknya tujuh aspek utama yang diturunkan ke dalam 58 indikator kepatuhan untuk mengukur profil risiko platform.

"Kami menyadari bahwa penyusunan untuk proses penilaian mandiri ini memang cukup rumit karena banyaknya indikator yang harus dipenuhi. Terutama melihat kedalaman sistem dari masing-masing platform tersebut. Namun, kami terus membangun komunikasi intensif agar proses ini tetap berjalan," ujar Nanci dalam diskusi bertajuk 'Masa Depan Pelindungan Anak di Ruang Digital', Rabu (20/5/2026) di Jakarta.

Terkait sanksi tegas atau tindakan pemblokiran apabila platform melewati tenggat waktu 6 Juni tanpa kepatuhan, Nanci mengaku belum bisa memberikan keputusan final secara sepihak.

Baca selengkapnya di sini

2. Ini Alasan XLSmart Tak Bagi Dividen Tahun Buku 2025

PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham untuk Tahun Buku 2025. Keputusan tersebut disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Direktur & Chief Financial Officer (CFO) PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk, Antony Susilo, menjelaskan keputusan ini diambil demi memprioritaskan penguatan struktur keuangan perusahaan, terutama untuk mendanai proses integrasi pascamerger serta melakukan ekspansi jaringan secara masif.

"Kita tahu bahwa di peraturan perundangan perseroan terbatas, kalau perusahaan mengalami kerugian maka tidak wajib memberikan dividen. Pada 2025, XLSmart mencatatkan kerugian, makanya tahun 2026 ini kami tidak memberikan dividen," paparnya.

Sebagai informasi, XLSmart mencatatkan kerugian Rp 4,4 triliun pada tahun buku 2025. Kerugian tersebut lebih besar dibandingkan pada sembilan bulan pertama 2025, yaitu sekitar Rp 2,6 triliun.

Kendati absen membagikan dividen dari laba bersih tahunan, manajemen XLSmart mengungkapkan bahwa perusahaan telah memberikan apresiasi besar kepada pemegang saham melalui special dividend (dividen spesial) pada akhir 2025.

Mewakili perusahaan, Antony menyampaikan permohonan maaf kepada para pemegang saham (shareholders) atas keputusan absennya dividen pada tahun ini.

Baca selengkapnya di sini

3. Meta Pindahkan 7.000 Karyawan ke 4 Divisi Baru Demi Pengembangan AI, Ini Strategi Perusahaan

Raksasa teknologi Meta kembali melakukan perombakan massal pada struktur organisasinya. Langkah agresif ini memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan staf, sekaligus memindahkan ribuan pekerja lainnya ke divisi baru yang berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Berdasarkan memo internal perusahaan yang dilaporkan oleh Reuters dan The New York Times, HR Head Meta, Janelle Gale, mengumumkan bahwa sebanyak 7.000 karyawan akan dialihkan ke empat organisasi baru.

Divisi-divisi anyar ini dirancang khusus untuk membangun perangkat dan aplikasi berbasis AI natif. Gale menyebut restrukturisasi ini bertujuan untuk mendongkrak produktivitas serta memberikan lingkungan kerja yang lebih bernilai bagi karyawan.

Struktur baru ini mengadopsi sistem "desain natif AI" yang memangkas birokrasi, sehingga jumlah lapisan manajemen per karyawan menjadi lebih ramping.

Guna memperlancar proses transisi, manajemen Meta menginstruksikan para karyawan untuk bekerja dari rumah (WFH), sembari menunggu surel resmi mengenai kejelasan posisi baru mereka. Di hari yang sama, surat pemberitahuan PHK juga mulai dikirimkan kepada staf yang terdampak pengurangan.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari kebijakan efisiensi Meta yang diumumkan akhir April lalu, di mana perusahaan memangkas 8.000 posisi kerja dan menutup 6.000 lowongan aktif.

Gale menegaskan bahwa keputusan pahit ini terpaksa diambil demi menekan pengeluaran operasional dan mengimbangi investasi besar-besaran perusahaan di sektor AI.

Baca selengkapnya di sini

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |