Syuting Film Ghost in the Cell Karya Joko Anwar, Magistus Miftah Gugup Berat: Lambung Kayak Dicolek

3 weeks ago 20

Liputan6.com, Jakarta - Masuk ke film karya Joko Anwar bukan pengalaman biasa bagi Magistus Miftah. Ia mengaku sempat merasa sangat gugup saat pertama kali tahu akan terlibat dalam Ghost in the Cell. Rasa tegang itu bahkan ia gambarkan secara fisik. “Lambung kayak dicolek,” ujarnya saat menceritakan momen awal bergabung dalam proyek tersebut.

Perasaan itu muncul bukan tanpa alasan. Film ini mempertemukannya dengan aktor-aktor senior yang sudah lama dikenal publik. Sebagai wajah baru, Miftah sadar ia harus menyesuaikan diri dengan standar kerja yang tinggi.

Ia tidak menutupi rasa cemas tersebut. Justru, menurutnya, gugup adalah bagian dari proses. Masuk ke proyek besar berarti harus siap menghadapi ekspektasi yang besar pula. Namun di balik tekanan itu, ada keinginan untuk membuktikan diri.

Magistus Miftah dikenal sebagai instruktur tari dan juga tarot reader. Dunia akting bukan jalur yang ia siapkan sejak awal. Karena itu, ketika mengikuti proses casting di X, ia tidak memiliki ekspektasi besar.

“Aku enggak pernah kepikiran main film,” ujarnya dalam sesi wawancara. Ia datang ke audisi lebih karena ingin mencoba, bukan karena merasa sudah siap menjadi aktor.

Di film ini, Miftah memerankan karakter Nofilham. Sosok ini hadir dengan identitas dan ekspresi yang tidak biasa di layar lebar. Bagi Miftah, karakter tersebut bukan sekadar peran, tetapi representasi.

“Mereka ada. They exist,” katanya tegas saat membahas karakter yang ia mainkan. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa karakter seperti Nofilham bukan fiksi kosong, melainkan bagian dari realitas sosial.

Karakter yang Punya Makna

Ia menyadari tidak semua orang nyaman melihat karakter dengan ekspresi berbeda tampil di layar. Namun, menurutnya, justru di situlah pentingnya film memberi ruang. Peran ini ia jalani dengan kesadaran bahwa ada pesan yang ingin disampaikan.

Berada dalam satu proyek dengan aktor-aktor berpengalaman menjadi tantangan tersendiri. Miftah menyadari ia harus bekerja lebih disiplin, terutama karena pendekatan produksi film ini banyak menggunakan adegan panjang.

Ia mengaku sempat khawatir apakah mampu menjaga konsistensi emosi dalam satu pengambilan gambar. “Kayak takut sih,” katanya saat mengingat masa awal proses syuting.

  Namun seiring waktu, ia mulai menemukan ritme kerja. Interaksi dengan para aktor senior membantunya memahami bagaimana menjaga fokus dan energi di depan kamera. Pengalaman tersebut membuatnya melihat tekanan bukan sebagai hambatan, melainkan proses belajar. Pengalaman pertama ini pelan-pelan mengubah cara Miftah melihat dirinya sendiri. Dari awalnya datang dengan rasa gugup dan tidak yakin, ia justru menemukan keyakinan baru selama proses berjalan. “Aku merasa kayak… aku dilahirkan untuk ini. Oh, ini aku,” katanya saat diberikan skrip peran yang ia jalani.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |