Status Gunung Semeru Turun dari Awas Menjadi Siaga

15 hours ago 2

CNN Indonesia

Minggu, 30 Nov 2025 13:18 WIB

Status Gunung Semeru turun dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga) seiring dengan penurunan aktivitas gunung berapi tersebut. Status Gunung Semeru turun dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga) seiring dengan penurunan aktivitas gunung berapi tersebut. AFP/ADEK BERRY

Jakarta, CNN Indonesia --

Status Gunung Semeru turun dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga) seiring dengan penurunan aktivitas gunung berapi yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi maka maka terhitung dari tanggal 29 November 2025 pukul 09.00 WIB, tingkat aktivitas Gunung Semeru diturunkan dari Level Awas menjadi Siaga," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangan tertulis yang diterima di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu.

Menurutnya hasil evaluasi terpadu terhadap data pemantauan menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Semeru setelah 19 November 2025 masih didominasi oleh proses permukaan tanpa indikasi adanya peningkatan suplai magma baru dari kedalaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Secara visual, teramati letusan berulang berskala kecil-menengah dengan kolom asap putih-kelabu setinggi 300-1.000 meter. Guguran lava teramati dengan jarak luncur 800-1000 meter ke Besuk Kobokan," tuturnya.

Ia menjelaskan aktivitas letusan berskala kecil-menengah tidak diikuti oleh indikasi penguatan suplai magma baru dan hal itu diperkuat oleh rendahnya aktivitas gempa vulkanik, menandakan bahwa tekanan magmatik di kedalaman tidak mengalami peningkatan signifikan.

"Parameter variasi kecepatan seismik (dv/v) sempat mengalami penurunan menjelang kejadian awan panas 19 November 2025 dan kemudian cenderung kembali stabil, menandakan bahwa sistem vulkanik sedang berada dalam fase relaksasi dan tidak mengalami pressurisasi," katanya.

Ia mengatakan data tiltmeter tidak menunjukkan pola inflasi atau deflasi yang konsisten, sehingga tidak terdapat bukti deformasi magmatik pasca kejadian.

"Dengan tidak ditemukannya anomali yang signifikan pada data pemantauan dapat disimpulkan bahwa aktivitas saat ini didominasi oleh proses permukaan berupa akumulasi material, ketidakstabilan lereng dan pelepasan gas dangkal," ujarnya.

Data kegempaan dan deformasi menunjukkan bahwa tidak terdapat bukti intrusi baru atau peningkatan tekanan magmatik. Ancaman utama dalam waktu dekat yaitu berupa awan panas guguran dan potensi lahar seiring intensitas hujan yang meningkat.

"Gunung Semeru berstatus Siaga, sehingga kami meminta masyarakat/ pengunjung/ wisatawan tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi)," katanya.

Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

"Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/ puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu panas (pijar)," ujarnya.

(antara/gil)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |