Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya

15 hours ago 10

loading...

Dampak nyata dari kecamuk perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran akhirnya benar-benar terkuak. Pekan ini emiten-emiten raksasa di kawasan Teluk Arab, mulai merilis laporan keuangan Kuartal II-2026. Foto/Dok

JAKARTA - Dampak nyata dari kecamuk perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran akhirnya benar-benar terkuak. Pekan ini emiten-emiten raksasa di kawasan Teluk Arab , mulai dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Oman, hingga Qatar bakal merilis laporan keuangan kuartal II-2026 mereka.

Hasilnya? pasar keuangan dibuat terkejut. Perang Iran ternyata memberikan 'nasib belang' yang timpang. Sementara beberapa sektor bisnis dilaporkan babak belur terhantam inflasi dan pemblokiran jalur laut imbas tutupnya Selat Hormuz.

Sektor lainnya justru mendadak meraup cuan raksasa akibat volatilitas harga komoditas dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Geografi Penentu Nasib: Mengapa Arab Saudi Berjaya, tapi Dubai Menciut?

Berdasarkan analisis para pakar makro, nasib ekonomi negara-negara Arab saat ini sangat bergantung pada satu titik rawan yakni Selat Hormuz. Negara yang memiliki jalur alternatif di luar selat tersebut mencatatkan kinerja gemilang.

Baca Juga: Daftar Teratas Keluarga Arab Terkaya di 2026, Dinasti Asal UEA Punya Harta Rp296,3 Triliun

Arab Saudi misalnya, yang memiliki terminal minyak cadangan di sepanjang Laut Merah, diproyeksikan oleh HSBC tetap tumbuh 2,1% tahun ini. Begitu pula dengan bursa saham Oman yang lokasinya berada di luar jangkauan blokade Selat Hormuz, dilaporkan sukses mencetak kinerja di luar dugaan (outperformed).

Sebaliknya negara-negara yang nasib logistiknya 100% bergantung pada Selat Hormuz seperti UEA, Qatar, dan Kuwait harus bersiap menghadapi kontraksi ekonomi akibat terhentinya lalu lintas kapal tanker selama berbulan-bulan.

Daftar Sektor Bisnis yang Panen Cuan di Tengah Perang

Di balik puing-puing ketegangan geopolitik, ada dua sektor utama yang terbukti kebal peluru dan bahkan meraup untung besar. Sebut saja sektor energi (minyak dan gas), meskipun sempat menghadapi gangguan pasokan, meroketnya harga minyak mentah Brent hingga rata-rata USD114 per barel pada kuartal kedua berhasil menutupi kerugian volume operasional mereka.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |