Meta Dituding Raup Miliaran Dolar dari Iklan Penipuan di Facebook dan Instagram

3 months ago 45

Liputan6.com, Jakarta - Meta kembali tersandung masalah. Kali ini, perusahaan bentukan Mark Zuckerberg ini disebut menghasilkan miliaran dolar dari iklan penipuan di Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Informasi ini terungkap lewat dokumen internal yang didapat dan ditinjau Reuters. Dalam laporan tersebut, perusahaan gagal membendung iklan penipuan itu selama setidaknya tiga tahun.

Dilansir Engadget, Senin (10/11/2025), dokumen tersebut memperkirakan iklan penipuan yang masuk bisa mencapai sekitar 10 persen dari total pendapatan iklan perusahaan. Nilainya diestimasi mencapai USD 16 miliar pada tahun lalu.

Peneliti internal Meta juga memperkirakan, aplikasi perusahaan telibat dalam sepertiga kasus penipuan di Amerika Serikat. Iklan penipuan iini mencakup investasi, kasino online ilegal, hingga penjualan produk medis terlarang.

Sebagian besar aktivitas ini dijalankan oleh pengiklan yang menunjukkan pola mencurigakan. Meski sistem internal Meta menandai akun tersebut, raksasa media sosial (medsos) tersebut tidak langsung mengambil tindakan tegas.

Perusahaan baru akan memblokir pengiklan jika sistem otomatis memiliki tingkat keyakinian minimal 95 persen akun tersebut benar-benar melakukan penipuan.

Tapi bila belum mencapa angka tersebut, pengiklan tetap dapat beroperasi. Perusahaan hanya akan menaikkan tarif iklan mereka sebagai penalti. Keputusan ini bertujuan untuk membatasi dan mencegah pengiklan tetap beroperasi di platform.  

Saat iklan tersebut diklik pengguna, algoritma Meta akan menganggap pengguna tertarik dengan jenis konten atau produk serupa. Akibatnya pengguna akan lebih banyak melihat iklan tersebut.

Pengiklan Besar Bisa Dapat Ratusan Teguran

Dokumen internal menunjukkan, pengiklan kecil yang mempromosikan skema penipuan perlu ditandai hingga delapan kali sebelum akhirnya diblokir tim Meta.

Untuk pengiklan besar, jumlah teguran yang diberikan bisa mencapai lebih dari 500 sebelum dihapus dari platform. Sementara itu, pengiklan kecil yang tertangkap mempromosi penipuan keuangan tidak akan diblokir sampai setidaknya delapan kali ditandai.

Kebijakan ini kontras dengan pendekatan Meta terhadap pengguna individu yang melanggar aturan konten. Reuters mencatat, hanya empat kampanye internal yang dihapus perusahaan tahun ini sudah menyumbang USD 67 juta pendapatan.

Tanggapan Meta

Juru bicara Meta, Andy Stone, menilai estimasi 10 persen pendapatan dari iklan penipuan terlalu luas. Ia menyebut, perusahaan telah mengurangi laporan iklan penipuan secara global hingga 58 persen dalam 18 bulan terakhir.

Perusahaan berbasis di Menlo Park tersebut juga telah menghapus lebih dari 134 juta konten iklan dianggap menyesatkan di platform media sosial milik mereka.

Ancaman Sanksi Denda

Meta masih diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan sebelum komisi membuat keputusan akhir. Namun, jika tuduhan ini terbukti, mereka berhak mengeluarkan keputusan ketidakpatuhan yang terancam denda hingga 6% dari seluruh pendapatan tahunan di seluruh dunia.

“Komisi Eropa dapat menerapkan denda berkala agar Meta segera tunduk pada aturan,” ucap badan eksekutif Uni Eropa tersebut.

Langkah Uni Eropa terhadap Meta berpotensi memancing reaksi keras terhadap pemerintahan Donald Trump, yang selama ini menolak kebijakan Eropa terhadap perusahaan teknologi AS dan mengancam akan memberikan tarif besar kepada negara-negara yang menerapkan aturan layanan digital terhadap perusahaan-perusahaan AS.

“Uni Eropa telah mencapai kesepakatan tarif dengan AS pada musim panas lalu, namun pembahasan mengenai implementasi perjanjian itu masih terus berlanjut,” tulis The Wall Street Journal.

Ketua Federal Trade Commission (FTC), Andrew Ferguson, sempat memperingatkan Meta dan sejumlah perusahaan teknologi lainnya agar tidak "menyensor warga AS untuk mematuhi hukum, tuntutan dari kekuatan asing".

Menanggapi tuduhan tersebut, Meta menyatakan tidak setuju dengan dugaan pelanggaran DSA dan akan berunding dengan Komisi Eropa mengenai hal ini. Perusahaan juga menegaskan telah menerapkan perubahan untuk mematuhi DSA.

Meta Dituduh Langgar Aturan Digital Uni Eropa

Sebelumnya, Komisi Eropa menyatakan teknologi Meta melakukan pelanggaran Undang Undang Layanan Digital (Digital Services Act/DSA) terkait pelaporan konten illegal bagi pengguna Facebook dan Instagram.

Dalam pernyataan resminya, sebagaimana dikutip dari Arstechnica, Selasa (28/10/2025), Meta dinilai gagal dalam menyediakan mekanisme 'Pemberitahuan dan Tindakan' yang mudah digunakan dan diakses bagi pengguna untuk melaporkan konten ilegal, seperti materi pelecehan seksual anak dan konten teroris.

Mekanisme pelaporan yang ada di Meta dianggap memaksakan beberapa langkah dan tuntutan yang tidak perlu kepada pengguna, bahkan mencurigai Meta menggunakan "pola gelap" atau desain antarmuka yang menipu.

Selain itu, mekanisme banding atau pengajuan keberatan moderasi konten yang digunakan Facebook dan Instagram juga dikritik tidak memberi ruang bagi pengguna untuk menyertakan penjelasan atau bukti tambahan.

"Hal ini menyulitkan pengguna di Uni Eropa untuk menjelaskan lebih lanjut mengapa mereka tidak setuju dengan keputusan konten Meta, membatasi efektivitas mekanisme banding," ujar Komisi Eropa.

Meta PHK 600 Karyawan di Divisi AI, Proyek Superintelijen Belum Tunjukkan Hasil

Meta kembali melakukan perombakan besar-besaran di tengah ambisi perusahaan untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI). Terkini, perusahaan bentukan Mark Zuckerberg tersebut diketahui telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Disebutkan, Meta PHK 600 karyawan dari divisi "superintelijen". Langkah ini kabarnya dilakukan sebagai upaya menyederhanakan proses pengambilan keputusan di internal perusahaan.

“Dengan mengurangi jumlah anggota tim kami, lebih sedikit percakapan yang diperlukan untuk membuat keputusan, dan setiap orang akan lebih mampu memikul beban serta memiliki cakupan dan dampak yang lebih besar,” ujar kepala AI Meta, Alexandr Wang, dikutip dari Axios, Sabtu, (25/10/2025).

Wang menambahkan, karyawan terdampak dapat melamar ke posisi lain di perusahaan. "Kami masih membutuhkan individu berbakat dan keahlian mereka di bagian lain," ucapnya.

PHK di Meta ini juga memengaruhi FAID, lab riset AI legendari perusahaan, serta beberapa unit produk AI dan infrastruktur.

Namub, langkah penghematan ini menujukkan perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp ini masih mencari arah dalam strategi pengembangan AI-nya.

Laporan Gizmodo menyebut, meski perusahaan berhasil menarik banyak talenta baru, arah pengembangan AI Meta masih belum jelas dan membuat semangat karyawan semakin menurun.

Selain mengeluarkan dana sebesar kontrak NBA, perusahaan berinvestasi USD 15 miliar (sekitar Rp 249 triliun) ke AI Scale untuk mendapatkan talenta dan infrastruktur. Sejak menyerap itu semua, Meta gagal menentukan apa yang harus dilakukan.

Perusahaan itu mengumumkan inisiatif "Superintelligence" terlebih dahulu untuk menyatukan upayanya dalam bidang AI, tetapi memecahnya menjadi beberapa divisi dalam hitungan minggu.

Infografis 7 Tips Bijak Gunakan Media Sosial

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |