Mengenal Profesor Gasing dan Satria Gaber, Tokoh Animasi Sahabat Anak Indonesia Belajar Matematika

1 week ago 20

Jadi intinya...

  • Profesor Gasing dan Satria Gaber diperkenalkan untuk membuat belajar matematika menyenangkan.
  • Tokoh animasi ini bertujuan menghilangkan kecemasan anak terhadap pelajaran matematika.
  • Edugame Sacred Octagon dengan AI membantu pemerataan pendidikan matematika di Indonesia.

Liputan6.com, Jakarta - Dua tokoh atau karakter animasi diperkenalkan kepada publik oleh Profesor Yohanes Surya di Jakarta Selatan, baru-baru ini, yakni Profesor Gasing dan Satria Gaber. Keduanya dirancang untuk menemani anak-anak Indonesia belajar khususnya matematika.

Profesor Gasing digambarkan berambut putih, berkemeja turkuois dibalut rompi cokelat plus blazer putih. Sebuah kalung menghiasi lehernya dan kacamata bundar menyempurnakan penampilannya. Pose Profesor Gasing tengah berkacak pinggang mencuri perhatian publik.

Di sisi lain, ada Satria Gaber. Si muda berambut hitam yang tampil gaya berjaket kelam baja dan kuning dengan atasan merah tua. Gaya busana Satria Gaber tampak gaul dengan ikat kepala merah kuning. Yohanes Surya menjelaskan alasan menghadirkan dua tokoh animasi ini.

Profesor Gasing dan Satria Gaber hadir untuk mencairkan suasana belajar Matematika, mata pelajaran yang selama ini dianggap sulit. Belum lagi, citra guru matematika cenderung galak alias “killer,” membuat anak-anak makin tak bersemangat dalam belajar.

“Jadi kami mau coba menampilkan matematika yang menyenangkan, supaya kecemasan terhadap matematika, di seluruh dunia bukan cuma di Indonesia, itu hampir menghantui lebih dari 70 persen anak. Istilahnya, semua orang takut,” kata Yohanes Surya.

“Yang tengah ini namanya Profesor Gasing. Yang cowok muda, Satria Gaber. Yang cewek ini tokoh yang mewakili anak-anak Indonesia dalam bermain. Bebas dikasih nama siapa saja (berdasarkan kreatvitas anak-anak),” beri tahunya.

4 Tahun Lalu

Kepada Showbiz Liputan6.com di Blok M Jakarta Selatan, Yohanes Surya berharap, dengan penampilan ceria, penuh sukacita, dibimbing dari yang gampang sampai susah, kesan seram mata pelajaran matematika akan hilang.

Kalau tidak takut lagi pada matematika, maka otak bisa lebih optimal dalam berpikir. Itu yang diharapkan Yohanes Surya dan tim kreatif. “Idenya, saya sudah lama kembangkan empat tahun lalu,” Yohanes Surya menyambung.

Gim Yang Bisa Membantu

“Harus dibuat gim yang bisa membantu anak-anak. Akhirnya muncul ide petualang ini. Kalau enggak dibuat petualang kurang seru. Dan, banyak sekali level-levelnya. Empat tahun bergulir, kami bikin gim bertemu, dengan game developer,” akunya.

Kali pertama bertemu pengembang, hasilnya tak sesuai harapan lalu diperbaiki terus hingga mencapai hasil akhir seperti sekarang. Yohanes Surya menyebut, AI berperan dalam membuat proses belajar menjadi lebih personal.

Membantu Pemerataan Pendidikan

Yohanes Surya menyampaikan ini dalam perilisan Sacred Octagon (hasil kerja sama Telkomsel dan INA AI), edugame berbasis metode Gasing (Gampang, Asyik, Menyenangkan) yang dirancang untuk membantu anak-anak belajar matematika dengan lebih mudah, adaptif, plus pengalaman gamifikasi.

“Ini membantu pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya di bidang matematika lewat gim Sacred Octagon. Kita berencana tahap satu 130 [kota]. Habis itu masuk ke space kedua sampai 600 kota,” ucap General Manager Value Added Service and Music Business Telkomsel Riset Wijoyo.

J-Hope BTS Serahkan Donasi Rp4 Miliar pada Momen Ultah ke-32, untuk Anak-Anak hingga Hewan

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |