Lebih dari 39.000 Anak Yatim di Gaza akibat Genosida Israel

8 hours ago 1

loading...

Warga Palestina memeriksa bangunan yang hancur dan mengumpulkan barang-barang yang masih bisa dipakai pada hari ketiga Idulfitri setelah tentara Israel menyerang beberapa wilayah di Jalur Gaza pada 1 April 2025 di Khan Yunis, Gaza. Foto/Abed Rahim Khatib/

GAZA - Laporan baru mengungkapkan lebih dari 39.000 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka akibat genosida yang dilakukan Israel.

Jumlah korban tewas akibat genosida Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 50.523 orang, dengan 114.776 lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023.

Biro Statistik Pusat Palestina menyatakan Gaza sedang mengalami krisis anak yatim terbesar dalam sejarah modern, dengan puluhan ribu anak kehilangan orang tua mereka karena serangan Israel yang sedang berlangsung.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan menjelang Hari Anak Palestina, yang diperingati 5 April, biro tersebut melaporkan 39.384 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua setelah 534 hari serangan Israel di Jalur Gaza.

Di antara mereka, sekitar 17.000 anak telah ditinggalkan tanpa kedua orang tua, menghadapi hidup tanpa dukungan atau perawatan.

Tentara pendudukan Israel melanjutkan serangannya terhadap warga sipil di Gaza, menghancurkan daerah kantong itu dan secara paksa menggusur lebih dari dua juta penduduknya.

Sementara itu, seakan bermuka dua, Jerman menyerukan "kembalinya segera ke perjanjian gencatan senjata" di Gaza di tengah meningkatnya serangan militer Israel di daerah kantong itu.

"Pemerintah Jerman mendesak untuk kembali ke gencatan senjata... Kami bekerja sangat keras untuk gencatan senjata dan, tentu saja, untuk perbaikan dalam situasi kemanusiaan, dan kami juga secara aktif menyerukan agar pasokan kemanusiaan ke Gaza diaktifkan kembali," ungkap juru bicara sementara Kementerian Luar Negeri Amelie Titel dalam jumpa pers di Berlin.

“Pemerintah Jerman berkomitmen memastikan semua pihak menemukan solusi yang dinegosiasikan alih-alih meningkatkan situasi secara militer, dan kami tentu saja menyerukan kepada semua pihak untuk mencabut blokade pengiriman bantuan kemanusiaan dan melindungi penduduk sipil. Kami sangat berharap bahwa semua pihak akan menyetujui gencatan senjata dan bahwa pembicaraan akan terus berlanjut," ujar dia.

Komentar juru bicara itu sangat kontras dengan keputusan terbaru negaranya untuk memberikan suara menentang resolusi Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang menyerukan, antara lain, gencatan senjata di Gaza, pembebasan tahanan Palestina dan Israel, dan pencabutan blokade Israel di daerah kantong yang diduduki itu.

Israel memulai operasi udara mendadak di Jalur Gaza pada 18 Maret dan telah menewaskan lebih dari 1.200 warga Palestina dan melukai lebih dari 2.000 lainnya sejak saat itu, yang menghancurkan gencatan senjata dan perjanjian pertukaran tahanan pada bulan Januari.

(sya)

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |