Kisah Gatot Iskandar, Bocah 15 Tahun Jadi Kurir Kemerdekaan: Keliling Sumatera Sebarkan Kabar Proklamasi

5 hours ago 1

loading...

Gatok Iskandar bersama rekan-rekanya saat berada di Langsa, Aceh pada 1945 untuk menyebarkan kabar Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Foto/Ist

HARI INI lembaran sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia yang terjadi 81 tahun lalu diperingati. Kisah heroik perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan berlangsung di segala penjuru tanah air. Di antaranya kisah yang dialami Gatok Iskandar yang saat itu baru berumur 15 tahun.

Saat itu Oktober 1945, dua orang utusan Kapolri pertama, Soekanto Tjokrodiatmodjo (1945-1959) tiba di Kediri, Jawa Timur. Proklamasi Kemerdekaan yang dikumandangkan Soekarno-Hatta di Pegangsaan Timur Jakarta, berusia dua bulan. Deklarasi kemerdekaan yang berlangsung mencekam. Di hari itu Jepang masih berkuasa. Dengan memiliki empat batalyon bersenjata lengkap, Jakarta masih dikangkangi sepenuhnya.

Baca juga: Haji Darip, Jawara Betawi yang Berani Keroyok Tentara Jepang dan Belanda hingga Kocar Kacir

"Andaikata mau, pasukan Jepang mungkin saja dapat meringkus para pejuang republiken yang ada di sana. Yang pada kenyataannya, mereka itu hanya bermodalkan semangat serta secarik kertas proklamasi," kata Mangil Martowidjojo, pengawal Bung Karno seperti dikisahkan Julius Pour dalam "Pengalaman dan Kesaksian Sejak Proklamasi Sampai Orde Baru".

Sudah dua bulan lamanya dikumandangkan, namun kabar proklamasi kemerdekaan belum juga tersebar merata. Khususnya di daerah-daerah luar Jakarta. Terutama di luar Jawa. Mereka yang kebetulan memiliki radio, bisa segera tahu. Bahwa Indonesia telah merdeka. Karena RRI (Radio Republik Indonesia) menyiarkannya berulang-ulang. Namun rakyat kelas bawah di luar Jakarta dan luar Pulau Jawa yang tidak punya radio, banyak yang belum tahu.

Pada Oktober 1945, Gatot masih tercatat sebagai siswa kelas III SMP sekolah Taman Siswa Yogyakarta. Ia juga tercatat aktif dalam organisasi Pemuda Republik Indonesia (Perindo). Karena situasi kacau balau, tahun 1944, sekolahnya tutup. Dan Gatot memutuskan pulang ke Kediri. Remaja yang baru tumbuh itu sedang berada di markas Perindo Kediri saat dua pemuda utusan Kapolri Soekanto tiba dari Jakarta.

Baca juga: Sosok Mayor Madmuin Hasibuan, Pimpin TKR Laoet Bertempur Melawan Tentara Sekutu

Tajib Ermadi, salah seorang tokoh pergerakan sekaligus pejuang Kediri yang kelak menjadi Pemimpin Umum Majalah Jayabaya, tiba-tiba memanggil namanya. Tajib yang menerima dua orang tamu dari Jakarta. Hayat Harahap dan Suratman. Hayat Harahap adalah keponakan Parada Harahap, salah satu tokoh pers Indonesia. Gatot dipanggil untuk diperkenalkan.

"Kedua pemuda itu dari organisasi Gerakan Angkatan Muda Indonesia (GAMI) yang membawa surat tugas yang ditandatangani oleh Kepala Kepolisian Negara, Bapak RS Sukanto," tutur Gatot Iskandar seperti diceritakan dalam buku "Kurir-kurir Kemerdekaan, Kisah Nyata Para Pemuda Pembawa Berita Proklamasi 1945".

Tidak banyak basa-basi. Pada intinya, Gatot terpilih sebagai kurir kemerdekaan. Ia dipercaya menyebarluaskan kabar proklamasi kemerdekaan kepada penduduk Pulau Sumatera. Tugasnya memang bukan untuk berperang. Tapi amanah itu juga tidak ringan. Di ruangan yang hanya ada empat orang, termasuk Gatot sendiri. Remaja Kediri yang SMP saja belum lulus itu, mantap menyatakan kesanggupannya.

"Usiamu memang masih remaja, masanya enak bersekolah. Tapi tanah air memanggil . Kita semua harus rela berkorban, demi kejayaan bangsa dan negara," kata Tajib Ermadi seperti tertulis dalam "Kurir-Kurir Kemerdekaan, Kisah Nyata Para Pemuda Pembawa Berita Proklamasi 1945". Gatot tidak sendiri. Dari Kediri, ia ditemani Umar, pemuda lain yang berumuran sebaya.

Saat dipamiti, kedua orang Gatot langsung memberi restu. Dengan buntalan kecil berisi pakaian ala kadar dan bekal yang terbatas, Gatot dan Umar berangkat. Sebelum menuju stasiun kereta api Kediri, keduanya sengaja mendatangi pimpinan Fond Kemerdekaan Indonesia. Di era revolusi fisik, di setiap wilayah karsidenan berdiri Fond Kemerdekaan Indonesia .

Termasuk juga di Karsidenan Kediri. Tugas Fond Kemerdekaan Indonesia adalah menggalang dana sukarela untuk perjuangan . Namun bukan tambahan bekal yang didapat. Gatot dan Umar malah dititipi kotak bersegel Fond. Di sepanjang perjalanan, keduanya diminta sekalian menggalang dana. "Wah, ciloko!. Mau pergi tidak disangoni, tapi malah disuruh cari duit," ujar Gatot.

Tidak menunggu lama. Keduanya bergegas meninggalkan Kediri. Perjalanan sebagai kurir kemerdekaan menuju Pulau Sumatera diawali dengan menumpang kereta api tujuan Jakarta. Di atas kereta api trutuk (Ada yang menyebut sepur kluthuk), yakni kereta dengan lokomotif uap berbahan bakar kayu, kedua pemuda belia itu bergabung dengan penumpang lain.

Persis di bagian dada. Pada baju yang dikenakan Gatot dan Umar, masing-masing terpasang lencana kecil merah putih . Lencana berbahan logam tipis (seng) yang biasa dipakai para pejuang. Kereta api melaju sesuai dengan bahan bakar yang dipakai. Lambat. Setiap peluit menjerit, asap hitam bergelung-gelung tebal di udara. Api yang berasal dari kayu yang terbakar di atas tungku uap lokomotif, ada kalanya terpercik.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |