Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping, AS Bidik Tarif 7,5% atas Produk China

2 hours ago 5

loading...

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berencana bertemu pada September mendatang. FOTO/AP

JAKARTA - Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan pengenaan tarif sebesar 7,5% terhadap produk China atas tuduhan kelebihan kapasitas manufaktur menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada September mendatang. Dikutip dari Blooomberg, kebijakan tersebut berpotensi membawa total tarif era kedua pemerintahan Trump terhadap barang China kembali ke kisaran 20% sesuai batas yang sebelumnya disebut Beijing sebagai bagian dari kesepakatan gencatan perdagangan kedua negara.

Gedung Putih mengatakan setiap pengumuman mengenai tarif akan disampaikan langsung oleh pemerintah AS dan laporan mengenai rencana tersebut masih berupa spekulasi yang tidak berdasar. Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) dan Kementerian Perdagangan China juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait rencana tersebut.

Baca Juga: Perang Dagang Memanas, Kanada Balas Tarif Impor AS Senilai Rp353 Triliun

Jika diterapkan, tarif tambahan itu akan menjadi langkah terbaru pemerintahan Trump untuk kembali memperkuat agenda proteksionisme perdagangan setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif impor sebelumnya yang dikenakan terhadap produk China dan sejumlah negara lainnya. Namun, Washington disebut tetap berupaya agar kebijakan tersebut tidak meningkatkan eskalasi konflik dagang dengan Beijing melampaui ambang batas yang telah disepakati.

Besaran tarif tersebut belum final dan masih dapat berubah. Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah menetapkan tarif pada tingkat lebih tinggi, tetapi menangguhkan sebagian tarif sehingga tingkat efektif yang dibayarkan menjadi 7,5%, dengan durasi penangguhan yang masih dalam pembahasan.

AS dan China juga disebut tengah membahas perpanjangan pakta perdagangan yang menetapkan gencatan dagang selama satu tahun dan dijadwalkan berakhir pada 10 November. Kesepakatan tersebut sebelumnya menjadi salah satu instrumen untuk meredakan ketegangan perdagangan antara Washington dan Beijing.

Pada Maret, pemerintahan Trump memulai penyelidikan terhadap lebih dari selusin mitra dagang utama berdasarkan Section 301 Trade Act 1974 terkait persoalan kelebihan kapasitas produksi. Pemerintah AS berharap hasil penyelidikan tersebut dapat diterbitkan sebelum Trump dan Xi dijadwalkan bertemu di Washington pada 24 September.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada Juli mengatakan penyelidikan mengenai kelebihan kapasitas membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan penyelidikan terkait kerja paksa karena persoalannya lebih kompleks. Menurut dia, keterlambatan tersebut tidak berkaitan dengan upaya mempertahankan gencatan perdagangan dengan Beijing.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |