Hacker Incar Data Pribadi, Lakukan 5 Hal Ini Sebelum Terlambat

6 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Hacker (peretas) kian aktif memanfaatkan celah keamanan di tengah tingginya penggunaan internet dan pesatnya perkembangan teknologi. Dampaknya, serangan siber tak lagi bisa dipandang sebelah mata dalam kehidupan sehari-hari.

Siapa pun berpotensi menjadi korban, mulai dari jebakan email phishing, tautan palsu, malware yang tersembunyi dalam unduhan, hingga pembajakan akun media sosial dan layanan perbankan. Ketika hal itu terjadi, kepanikan kerap menjadi reaksi pertama.

Namun, langkah awal yang cepat dan tepat sangat menentukan seberapa besar dampak yang ditimbulkan. Lalu, apa yang harus segera dilakukan ketika menyadari akun atau perangkat telah diretas?

Berikut lima langkah pertama yang wajib dilakukan untuk meminimalkan kerugian sekaligus mengamankan kembali data pribadi, sebagaimana dikutip dari laman BGR, Kamis (5/3/2026).

1. Matikan Sambungan Internet

Langkah awal saat merasa perangkat diretas, yaitu segera memutus akses internet. Selama perangkat masih terhubung ke jaringan, malware atau virus berpotensi mengirimkan data ke peretas, menjalankan perintah jarak jauh, hingga mengambil alih kendali sistem.

Tak jarang peretas juga memanfaatkan aplikasi akses jarak jauh seperti AnyDesk atau TeamViewer untuk mengontrol perangkat korban. Jika aplikasi tersebut terlihat aktif tanpa izin, segera tutup atau nonaktifkan aplikasi tersebut untuk membatasi kontrol pelaku.

Cabut kabel Ethernet jika menggunakan koneksi kabel, matikan Wi-Fi dan data seluler pada ponsel, serta aktifkan Mode Pesawat untuk memastikan seluruh koneksi nirkabel terputus. 

Juga jangan lupa nonaktifkan Bluetooth agar perangkat benar-benar tidak terhubung ke jaringan apa pun dan risiko penyebaran serangan dapat diminimalkan.

2. Bekukan Kartu Kredit

Apabila mendapati transaksi mencurigakan atau penggunaan kartu kredit tanpa izin, segera blokir kartu dan hubungi pihak bank penerbit untuk mencegah transaksi lanjutan.

Untuk transaksi yang telanjur tercatat, ajukan laporan sebagai transaksi tidak sah karena umumnya bank memiliki mekanisme pengembalian dana atas transaksi tidak sah.

Jika terdapat indikasi data pribadi disalahgunakan untuk membuat kartu baru, segera ajukan pembekuan kredit guna mencegah risiko lanjutan. Dalam sejumlah kasus, pihak bank lebih dulu mendeteksi transaksi mencurigakan dan akan menghubungi nasabah.

Perlu diingat, beberapa jam pertama sangat menentukan dalam meminimalkan potensi kerugian. Karena itu, segera laporkan kejadian tersebut kepada otoritas kejahatan siber setempat sebagai langkah perlindungan hukum dan antisipasi risiko lanjutan.

3. Mengubah Kata Sandi Semua Akun

Jika peretasan menyasar akun online dan berpotensi mencuri data pribadi, langkah selanjutnya yaitu segera mengganti kata sandi. Namun, penggantian kata sandi harus melalui perangkat lain, seperti laptop, komputer atau ponsel lainnya.

Usahakan kata sandi baru tidak memiliki kemiripan dengan yang sebelumnya diretas. Gunakan kombinasi yang sepenuhnya berbeda untuk setiap akun. Penggunaan kata sandi yang sama atau serupa di berbagai layanan dapat meningkatkan risiko apabila salah satu akun kembali diretas.

Setelah mengganti kata sandi, aktifkan autentikasi multifaktor (MFA) pada seluruh akun. Fitur ini umumnya tersedia melalui aplikasi autentikator atau kunci keamanan perangkat keras. Jika opsi tersebut belum tersedia, manfaatkan verifikasi dua langkah (2FA) berbasis SMS sebagai alternatif perlindungan tambahan.

4. Memindai Perangkat dari Ancaman

Setelah kartu dan akun online diamankan, langkah berikutnya adalah membersihkan perangkat dari ancaman malware. Proses ini bisa berlangsung cukup lama, bergantung pada tingkat paparan dan perangkat yang digunakan.

Pengguna Windows dapat menjalankan pemindaian menyeluruh melalui Windows Security. Sementara itu, perangkat macOS memiliki fitur bawaan seperti XProtect, atau dapat menggunakan aplikasi keamanan pihak ketiga seperti Norton, Avast, dan AVG.

Jika ditemukan ancaman, segera amankan dan hapus file berbahaya, lalu lakukan pemindaian ulang untuk memastikan perangkat kembali dalam kondisi aman.

5. Setel Ulang Pabrik Perangkat yang Terpengaruh

Meski bukan opsi yang ideal, melakukan reset ponsel atau laptop dapat menjadi langkah efektif ketika perangkat menghadapi ancaman siber tingkat lanjut yang tak lagi mampu ditangani antivirus.

Jika setelah beberapa kali pemindaian masih muncul aplikasi asing atau aktivitas mencurigakan di latar belakang, reset sistem secara menyeluruh bisa menjadi solusi untuk membersihkan malware atau virus.

Namun, dengan menggunakan tindakan tersebut dapat berisiko kehilangan data. File pribadi seperti foto, video, dan dokumen umumnya tetap bisa diamankan karena kecil kemungkinan menjadi media penyebaran ancaman, berbeda dengan file berekstensi seperti ".exe", ".bat", ".msi", atau ".pkg".

Sebelum melakukan reset, cadangkan file pribadi ke flash drive atau hard disk eksternal setelah dipindai dengan antivirus terbaru. Hindari memulihkan cadangan otomatis yang dibuat setelah perangkat diretas, karena berpotensi membawa kembali ancaman ke dalam sistem.

Infografis 10 Tips Amankan Data Pribadi dari Serangan Siber. (Liputan6.com/Abdillah)

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |