Deretan Skandal Kebocoran Data dan Serangan Siber Paling Ngeri di 2026

22 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Tahun 2026 belum selesai, namun kasus kebocoran data, peretasan, dan serangan siber sudah merajalela di mana-mana. Melalui daftar rangkuman kasus di bawah ini, Anda bisa menyelamatkan diri dan orang-orang sekitar dari ancaman kejahatan siber di sisa tahun ini.

Kecepatan evolusi teknologi yang kita nikmati saat ini sayangnya berjalan beriringan dengan makin cerdiknya taktik yang digunakan oleh para pelaku kejahatan digital untuk mengeksploitasi kelengahan pengguna.

Lanskap ancaman siber kini tidak lagi hanya menyasar korporasi raksasa atau instansi pemerintahan, melainkan sudah masuk ke ranah kehidupan sehari-hari masyarakat lewat medium yang sangat dekat dengan kita.

Mulai dari pemanfaatan antusiasme komunitas game, manipulasi kecerdasan buatan (chatbot AI), hingga penyebaran malware murah meriah yang bahkan bisa dioperasikan oleh anak muda. Hal ini membuktikan bahwa siapa saja, kapan saja, dan di mana saja bisa menjadi target empuk berikutnya jika tidak membekali diri dengan literasi keamanan digital yang memadai.

Oleh karena itu, memahami anatomi dari setiap kasus peretasan yang terjadi sepanjang tahun ini bukan lagi sekadar menambah wawasan teknologi, melainkan sebuah langkah preventif yang krusial.

Dengan mengenali modus operandi para peretas—baik melalui situs web palsu, celah sistem pada iOS, maupun manipulasi fitur pesan—kita dapat lebih mawas diri dalam beraktivitas secara daring. Mari kita bedah satu per satu skandal keamanan siber terbesar ini sebagai panduan praktis untuk menjaga keamanan data pribadi Anda dan keluarga.

1. Eksploitasi Antusiasme Game GTA 6

GTA 6 merupakan game yang sangat dinanti-nantikan dan kabarnya akan diluncurkan tahun ini. Memanfaatkan antusiasme para penggemar, pihak-hari usil mulai bermunculan dan bahkan mengusik sang pengembang game.

Para peretas menciptakan situs web pre-order GTA 6 palsu, aplikasi mobile GTA 6 palsu, hingga situs tiruan yang menduplikasi platform toko game resmi milik Rockstar Games.

Dikutip dari Mashable, Rabu (15/7/2026), belum dipastikan berapa banyak pengguna yang terdampak penipuan ini. Namun, jumlahnya diprediksi akan terus bertambah mengingat peretas masih terus mengincar para pemain hingga tanggal perilisan tiba.

Catatan: Awal tahun ini, kelompok peretas terkenal ShinyHunters mengklaim telah membobol jaringan komputer Rockstar dan meminta tebusan. Rockstar mengklarifikasi bahwa kebocoran terjadi di pihak ketiga dan hanya memuat aset internal, bukan data pribadi pemain.

2. Kebocoran Data Massal Platform Edtech "Canvas"

Raksasa teknologi pendidikan (edtech) di balik Learning Management System (LMS) populer Canvas juga menjadi korban pembobolan data oleh kelompok ShinyHunters.

Data yang dicuri meliputi nama pengguna, alamat email, ID siswa, hingga pesan pribadi di dalam platform. Padahal, platform ini digunakan oleh tidak kurang dari 275 juta pengguna, termasuk siswa, guru, dan staf dari 9.000 sekolah di seluruh dunia.

Hanya berselang satu minggu setelah perusahaan mengklaim telah memperbaiki celah tersebut, peretas kembali membobol halaman masuk (login) sekolah-sekolah tertentu. Akibatnya, sejumlah sekolah terpaksa menunda ujian akhir dan pengumpulan tugas karena sistem harus dimatikan sementara. Pada akhirnya, perusahaan memilih membayar tebusan agar data tidak disebarluaskan.

3. Kebocoran Data Kesehatan Conduent

Conduent, perusahaan manajemen data dengan klien penyedia layanan kesehatan dan instansi pemerintah seperti Humana serta Blue Shield of Texas, mengalami kebocoran data masif.

Tercatat ada sekitar 25 juta orang yang menjadi korban, di mana 15 juta di antaranya berada di Texas (hampir setengah populasi negara bagian tersebut) dan 10 juta orang di Oregon. Data sensitif yang bocor mencakup:

  • Nama lengkap
  • Nomor Jaminan Sosial (Social Security Number)
  • Informasi medis dan detail asuransi kesehatan.

4. Modus Manipulasi Chatbot AI Instagram

Peretas menemukan celah berbahaya pada chatbot AI di Instagram. Mereka berhasil mengelabui AI agar mengirimkan tautan (link) pengaturan ulang kata sandi akun target ke alamat email milik peretas.

Chatbot AI tersebut menuruti permintaan peretas karena mengira mereka adalah pemilik akun yang sah. Lewat taktik ini, banyak akun dengan pengikut (followers) besar dicuri lalu dijual di pasar gelap. Meski Meta kini telah menambal celah tersebut, banyak pengguna sempat kehilangan akses akun mereka.

5. Spyware "DarkSword" Pengincar Pengguna iPhone

Metode pembobolan kali ini memanfaatkan situs web berbahaya. Hanya dengan mengunjungi situs tertentu, data di dalam ponsel Anda bisa terkuras habis.

Google Threat Intelligence Group bersama perusahaan keamanan siber Lookout dan iVerify menemukan bahwa kelompok peretas asal Rusia menyebarkan spyware bernama DarkSword. Spyware ini menyasar perangkat iPhone dan menyedot data sensitif seperti:

Log panggilan, kontak, pesan iMessage, dan WhatsApp

Email, kalender, catatan, dan riwayat browser

Foto, tangkapan layar, riwayat lokasi, hingga keychain (kumpulan kata sandi)

Hampir 25% pengguna iPhone masih menggunakan iOS 18 yang rentan terhadap celah ini, membuat ratusan juta pengguna berada dalam posisi terancam sebelum akhirnya Apple merilis pembaruan keamanan.

6. "WeedHack", Malware Murah Meriah Seharga US$ 5

Kini, peretas tidak memerlukan keahlian pemrograman tingkat tinggi. Melalui alat bernama WeedHack, siapa saja bisa menyewa layanan peretasan hanya dengan membayar US$ 5 per bulan.

WeedHack adalah malware yang menyamar sebagai mod game Minecraft. Begitu terpasang, alat ini mampu:

Mencuri cookies dan kata sandi dari browser web.

Mengambil tangkapan layar dan merekam setiap ketikan kibor (keystroke).

Mengakses kamera webcam, menggerakkan kursor mouse, hingga mengunggah dan mengunduh file secara ilegal.

McAfee Labs menemukan bahwa sebagian besar pengguna WeedHack di Telegram adalah remaja dan anak muda yang menggunakannya untuk tujuan perundungan siber (cyberbullying).

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |