Awi Suryadi Garap Film Perumahan Laddaland, Lebih Mudah Bikin Remake atau Adaptasi Buku?

18 hours ago 10

Jadi intinya...

  • Film "Perumahan Laddaland" akan dirilis 13 Agustus 2026, disutradarai Awi Suryadi.
  • Awi Suryadi menghindari meniru persis film asli, hanya menonton sekali untuk inspirasi.
  • Manoj Punjabi memilih Awi Suryadi karena keahliannya, penting untuk kesuksesan remake.

Liputan6.com, Jakarta - Produser MD Pictures Manoj Punjabi meluncurkan teaser poster dan trailer film Perumahan Laddaland yang dibintangi Titi Kamal dan Andri Mashadi. Film yang akan menyapa bioskop Indonesia mulai 13 Agustus 2026 ini digarap sineas Awi Suryadi yang sukses bersama KKN di Desa Penari dan jagat sinema Danur. Ini bukan kali pertama, Awi Suryadi me-remake film. Pada 2019, ia membuat ulang film Korea Selatan, Whispering Corridors. Versi Indonesia-nya berjudul Sunyi, dibintangi Angga Yunanda dan Amanda Rawles.

Sunyi dan kini Perumahan Laddaland memperkaya jam terbang Awi Suryadi di industri film Tanah Air. Awi Suryadi pernah menggarap film berbasis naskah asli karyanya sendiri, Claudia/ Jasmine. Claudia/ Jasmine meraih lima nominasi Piala Citra FFI 2008 termasuk Film Terbaik dan menang kategori Editing Terbaik. Awi Suryadi juga pernah bikin film berdasarkan adaptasi novel dan utas viral. Pertanyaan yang kemudian muncul, lebih mudah menggarap film remake seperti Perumahan Laddaland atau mengalihwahanakan buku ke layar lebar?

“Susah-susah gampang. Gampangnya, kita punya referensi dalam bentuk visual. Kalau dari buku atau utas benar-benar tidak ada visualnya. Dari kata-kata kita langsung membayangkan visualnya. Tapi itu yang bikin mudah. Kita bisa bebas bikin visualnya,” jawab Awi Suryadi.

“Nah kalau yang ini sebenarnya lebih mudah karena visualnya sudah ada. Cuma kita enggak mau terjebak visual kita jadi persis, plek-plekan sama aslinya. Waktu saya mengadaptasi Laddaland, saya cuma berani nonton sekali dan sudah,” akunya di Jakarta Selatan, 11 Juni 2026.

Minta Tolong Asisten

Saat lupa adegan aslinya pun, Awi Suryadi berkukuh ogah menonton ulang dan meminta asistennya menilik scene yang dimaksud. Ia melakukan ini agar tak terpaku pada detail versi asli lalu melakukan copy paste Laddaland.

“Jadi saya minta tolong asisten, ‘Kamu tolong nonton adegan itu kenapa tadi bisa begini.’ Saya enggak mau terjebak jadi plek ketiplek sama. Jadi antara susah dan gampang sih ini jawabannya,” beri tahu Awi Suryadi.

Subject Matter dalam Film

“Ini tuh subject matter-nya sangat relate dengan kejadian di Indonesia di mana ada kekerasan dalam rumah tangga. Jadi secara cerita saya bisa lebih gampang diterima (jika dibandingkan dengan Whispering Corridors),” imbuhnya.

Sementara itu, Manoj Punjabi mengenang momen akhirnya beli hak untuk membuat ulang Laddaland. Alasan pertama, ia menonton trailer Laddaland dan merasa “greng.” Kedua, andai jadi beli hak Laddaland, siapa sutradara yang akan menggarap?

Faktor Sutradara Sangat Penting

Saat tim merekomendasikan Awi Suryadi, Manoj Punjabi langsung sepakat. Apalagi, Awi Suryadi bukan tipe sutradara yang asal menerima proyek meski genrenya horor. Saat tahu Awi Suryadi tertarik pada Laddaland, Manoj Punjabi merasa 50 persen keraguan terjawab.

“Dan faktor sutradara sangat penting bagi saya,” cetusnya. “Kelihatannya gampang tapi susah, karena sudah ada barometer dan standar. Sekarang kita bisa penuhi atau tidak? Karena sutradaranya Awi Suryadi, saya jadi berani,” Manoj Punjabi mengakhiri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

5 Potret Ruang Tamu Rumah Haji Bolot, Sederhana Tapi Bergaya Klasik

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |