4 Pesona Pagelaran Sabang Merauke 2026: Srikandi Nusantara, Keragaman Budaya, hingga Raisa dan Yura Yunita

7 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Pagelaran Sabang Merauke kembali hadir menyapa dengan suguhan yang kolosal, spektakuler dan sarat pesan. Pertunjukan tersebut berlangsung di Indonesia Arena, kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat-Minggu (21-23/8/2026).

Kali ini, Pagelaran Sabang Merauke mengusung tema spesial, yaitu Hikayat Srikandi Nusantara, mengangkat perjuangan perempuan-perempuan nusantara dalam cerita Rakyat Indonesia.

Seperti edisi-edisi sebelumnya, Pagelaran Sabang dan Merauke ditampilkan secara kolosal, modern, spektakuler, megah, dan menghibur. Setiap sesi penampilan dikemas dengan indah, detail, dan estetik, meliputi properti panggung, kostum, musik, dan pergerakan para penampil.

Pagelaran ini juga tetap menjaga nilai utamanya, yaitu mengangkat akar budaya dan karya adiluhung bangsa Indonesia yang sangat beragam dan saling melengkapi. Tari, musik tradisional, hingga wastra dipadukan dengan gemilang di panggung, dengan mengangkat kisah-kisah legendaris yang terus hidup dalam memori masyarakat dari masa ke masa.

Penonton pun bukan hanya terhibur, tetapi juga terbius, dan merasakan kehangatan yang tersalurkan dari energi para penampil.

Tak terasa pertujukan yang berlangsung selama tiga jam berakhir begitu cepat. Pagelaran Sabang Merauke pada Jumat (21/8/2026), dimulai pada pukul 15.00 WIB dan berakhir pada pukul 18.00 WIB.

Seperti apa kemeriahan Pagelaran Sabang Merauke tadi malam? Seperti ini beberapa ulasan menariknya.

Hikayat Srikandi Nusantara, Gambaran Perjuangan Perempuan Indonesia

Perjuangan perempuan-perempuan Indonesia di Pagelaran Sabang Merauke ini disuguhkan melalui cerita rakyat Indonesia, yaitu Srikandi, Mahadewi, Dayang Sumbi, Mande Rubayah (ibu Malin Kundang), dan Calon Arang. Mereka menjadi simbol keberanian, emansipasi, keteguhan, kelembutan, cinta, dan pengorbanan, serta kekuatan yang membentuk perjalanan bangsa Indonesia.

Perjuangan perempuan Indonesia menjelma dalam doa ibu yang tak pernah putus meski dikhianati seperti Mandeh Rubayah. Menjelma dalam kehormatan yang dijaga meski seorang diri, yaitu Dayang Sumbi. Ia memilih hidup dari cinta kepada suami dan anak, cinta pada harapan, dan kehidupan yang dirajutnya sepenuh hati.

Perjuangan perempuan Indonesia bisa dilihat dari cahaya yang hadir menjaga keseimbangan semesta, Mahadewi, ibu yang tersisihkan. Kehadirannya menenangkan, bahkan pada mereka yang paling gelisah sekalipun. Dan sosok-sosok lainnya

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Tema ini dipilih bukan tanpa alasan. Menurut data yang dikumpulkan pihak penyelenggara, sepanjang 2025, Indonesia mencatatkan 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan. Ini meningkat 14,07 persen dari tahun sebelumnya. Sebanyak 337.961 kasus atau hampir 90 persen terjadi di ruang yang seharusnya paling aman: rumah, relasi perkawinan, dan relasi intim. Setiap harinya Komnas Perempuan rata-rata-rata menerima 19 pengaduan. Dalam setiap fragmen pertujukan, Srikandi (yang diperankan oleh penyanyi Raisa), menyelipkan pesan-pesan yang sangat kuat. "Kita akan menemui perempuan-perempuan yang terkenal religius dan pemberani, perempuan-perempuan tangguh dari negeri Nanggroe Aceh Darussalam," tutur Srikandi sebelum dimulainya scene Aceh. "Pada mereka melekat sifat loyalitas dan penghormatan mendalam pada tradisi. Tidak mudah menyerah dan berpendirian kuat. Mereka lah perempuan-perempuan dari Sumatra Utara," ujar Srikandi, kali ini menjelang scene Sumatra Utara, "Perempuan-perempuan Papua bukan hanya kebanggaan Bumi Cenderawasih, tetapi juga kebanggan Indonesia," kata Srikandi lagi, menjelang scene Papua. Dan banyak pesan-pesan kuat lainnya di setiap pertunjukan yang menampilkan budaya-budaya daerah lainnya, seperti Riau, Jawa Timur, Yogyakarta, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |