3 Tantangan Derby Romero dan Livi Ciananta Jelang Syuting Film Ikatan Darah, Termasuk Atur Ritme

5 hours ago 1

Jadi intinya...

  • Pemain "Ikatan Darah" menjalani workshop bela diri tiga bulan dengan Uwais Team.
  • Livi Ciananta dan Derby Romero fokus pada koreografi, chemistry, dan ritme gerakan.
  • Tantangan utama adalah membuat adegan pertarungan terlihat nyata tanpa melukai.

Liputan6.com, Jakarta - Ada banyak cerita seru di balik layar film Ikatan Darah. Salah satunya persiapan yang mengharuskan para pemain belajar banyak hal. Salah satu kisah diungkap Livi Ciananta dan Derby Romero. Keduanya membahas fase praproduksi yang diisi workshop bela diri sekitar tiga bulan bersama Uwais Team. Maklum, salah satu produser eksekutif film Ikatan Darah adalah Iko Uwais. Meski telah menekuni muay thai, jiujitsu, hingga anggar, tetap saja Derby Romero harus belajar pencak silat sesuai tuntutan naskah. Livi Ciananta pun sama.

Sebagai pemula dalam olahraga boxing, ia berguru pada Uwais Team soal koreografi dari level basic. Tak hanya itu, Livi Ciananta mesti memahami latar karakter Mega sebagai atlet pencak silat yang terpaksa pensiun dini akibat cedera bahu. Dalam wawancara eksklusif bareng Showbiz Liputan6.com di Gedung KLY Jakarta belum lama ini, ia menyebut selain melatih fisik, berempati pada kondisi mental Mega yang terpaksa pensiun juga penting.

“Aku bukan orang yang menguasai bela diri secara penuh. Itu memudahkan aku untuk lebih fleksibel soal koreografi dari jenis martial arts apapun untuk kebutuhan film. Ada keuntungan juga di sini yang mempermudah aku beradegan fighting di film,” beri tahu Livi Ciananta.

“Kita workshop koreografi sekitar tiga bulan. Kalau ditanya mempelajari apa? Lebih banyak kebutuhan yang sesuai koreografi dalam naskah. Yang dilatih itu chemistry. Karena fighting itu sama seperti menari, ada ritme, beat atau tempo,” Derby Romero menambahkan.

Meyakinkan Penonton

Aktor film Petualangan Sherina menjelaskan, semua orang bisa menghafal gerakan. Yang susah adalah menyelaraskan ritme. Livi Ciananta dan Derby Romero mengulang terus sampai menjadi gerakan yang alami.

Selain belajar koreografi dan membangun chemistry lewat menyelaraskan ritme, masih ada satu tantangan lagi yang dihadapi Livi Ciananta bareng Derby Romero. Tantangan yang dimaksud, meyakinkan penonton.

Enggak Pernah Sampai Sakit

Derby Romero mencontohkan ketika ia tiba-tiba menepuk punggung Livi Ciananta. Suara tepukan itu terdengar jelas. Kami berasumsi, pelantun “Gelora Asmara” menepuk Livi Ciananta dengan keras. Padahal, tidak.

“Enggak pernah sampai sakit. Karena secara gerakan, memukul pun sebenarnya enggak kena. Kayak misalnya saya memukul, terdengar suara buk, tapi sebenarnya tidak sakit karena (nyaris) enggak ada power-nya,” urai Derby Romero.

Di Sinilah Tantangannya

Di sinilah tantangannya. Walaupun power-nya kecil, Livi Ciananta menerima pukulan itu seolah-olah berkekuatan besar. Chemistry inilah yang bentuk Livi Ciananta dan Derby Romero selama tiga bulan sebelum syuting Ikatan Darah.

“Misalnya tadi Kak Derby memukul dengan power kecil lalu saya enggak bereaksi seolah-olah kena pukulan gede, penonton jadi enggak percaya. Mereka akan bilang, wah chemistry-nya enggak dapat,” pungkas Livi Ciananta.

Erin Mantan Istri Andre Taulany Laporkan Dugaan Fitnah dan Pencemaran Nama Baik, Ini Penjelasan Polisi

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |