15 Film Jepang yang Tidak Boleh Ditonton Anak Kecil dan Alasan di Baliknya

4 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), saat anak-anak mencapai usia sekolah menengah, mereka mungkin telah menyaksikan sebanyak 8.000 adegan pembunuhan dan 100.000 tindakan kekerasan virtual melalui media. Angka ini menjadi pengingat keras bagi setiap orang tua yang membiarkan anak mengakses tontonan tanpa pengawasan, termasuk film-film Jepang yang kini mudah diakses lewat platform streaming.

Sinema Jepang memang dikenal dengan kedalaman narasi dan keberanian mengangkat tema-tema kompleks. Namun, justru karena kualitas artistik inilah, banyak film Jepang mengandung adegan kekerasan eksplisit, horor psikologis, dan konten dewasa yang sama sekali tidak cocok untuk penonton di bawah umur. Berikut panduan lengkap yang perlu setiap orang tua ketahui.

Mengapa Beberapa Film Jepang Tidak Aman untuk Anak?

Sinema Jepang telah lama mendorong batas-batas artistik, menciptakan karya yang memicu kontroversi signifikan baik di dalam negeri maupun internasional. Berbeda dengan film Hollywood yang cenderung mengikuti formula tertentu, banyak sineas Jepang memilih pendekatan yang lebih raw dan tanpa kompromi dalam menyajikan realitas gelap kehidupan manusia.

Beberapa alasan utama mengapa film-film ini tidak layak ditonton anak kecil meliputi konten kekerasan grafis, adegan seksual eksplisit, tema psikologis berat seperti bunuh diri dan gangguan mental, serta gambaran kriminalitas yang sangat realistis. Rating usia pada film menjadi panduan penting yang tidak boleh diabaikan orang tua.

Memahami Sistem Rating Film Jepang: Eirin

Sebelum membahas daftar filmnya, penting bagi orang tua memahami sistem rating film di Jepang. Film Classification and Rating Organization, atau dikenal sebagai Eirin, adalah lembaga regulasi film swadaya Jepang yang didirikan pada Juni 1949. Lembaga ini mengklasifikasikan film ke dalam salah satu dari empat kategori berdasarkan kesesuaiannya untuk ditonton oleh penonton di bawah umur.

Dilansir dari Wikipedia, Eirin menggunakan sistem rating empat tingkat: G (General Audience - semua umur), PG-12 (bimbingan orang tua disarankan untuk anak di bawah 12 tahun), R-15 (dibatasi untuk usia 15 tahun ke atas), dan R-18 (khusus dewasa).

Eirin mempertimbangkan delapan kriteria, termasuk apakah film mengandung materi seksual atau kekerasan, lalu memberikan rating dalam salah satu dari empat kategori tersebut. Menariknya, Eirin tidak memiliki kekuatan hukum untuk melarang film, tetapi Japan Association of Theatre Owners melarang anggotanya menayangkan film yang belum diklasifikasikan oleh Eirin.

Baca juga: Dampak Kekerasan pada Anak, Lengkap Cara Mengatasinya

Daftar Film Jepang yang Tidak Boleh Ditonton Anak Kecil

Berikut adalah daftar film Jepang yang mengandung unsur kekerasan, horor psikologis, atau konten dewasa yang memerlukan perhatian khusus dari orang tua.

1. In the Realm of the Senses (1976)

Film yang disutradarai Nagisa Oshima ini bercerita tentang hubungan obsesif antara seorang pelayan penginapan dan majikannya. Pada Festival Film Cannes 1976, permintaan untuk menonton film ini sangat tinggi sehingga penyelenggara mengadakan 13 kali pemutaran, sebuah rekor. Meski penuh kontroversi, film ini sering dianggap sebagai karya seni penting yang mengeksplorasi tema seksualitas, obsesi, dan kematian dalam masyarakat Jepang. Film ini mendapat rating R-18 dan mengandung konten seksual eksplisit yang sama sekali tidak layak untuk penonton di bawah umur.

2. Guinea Pig: Flower of Flesh and Blood (1985)

Film horor eksploitasi yang disutradarai Hideshi Hino ini menggambarkan penculikan dan penyiksaan dengan adegan yang sangat realistis. Berdasarkan yang dihimpun redaksi, film ini sempat dicekal pada perilisannya di tahun 1985 dan baru tayang secara legal pada tahun 2002. Tingkat kekerasannya begitu ekstrem sehingga film ini menjadi salah satu yang paling kontroversial dalam sejarah sinema Jepang.

3. Audition (1999)

Film thriller psikologis karya Takashi Miike ini mengisahkan seorang duda yang mengadakan audisi palsu untuk mencari pasangan baru, namun wanita pilihannya menyimpan sisi gelap yang mengerikan. Film horor psikologis Takashi Miike ini dimulai seperti drama romantis tetapi dengan cepat berubah menjadi salah satu film horor paling mengganggu. Perubahan nada yang tiba-tiba dan adegan penyiksaan grafis membuat penonton terguncang.

Mengacu pada catatan Ranker, pada Festival Film Rotterdam tahun 2000, film ini dilaporkan menyebabkan rekor jumlah penonton yang meninggalkan ruangan karena kontennya yang intens.

4. Battle Royale (2000)

Film distopia karya Kinji Fukasaku ini menceritakan sekelompok siswa SMA yang dipaksa saling membunuh di sebuah pulau terpencil. Battle Royale dirilis secara teatrikal di Jepang pada 16 Desember 2000 dengan rating R15+, yang jarang digunakan di Jepang. Film ini menuai kontroversi dan dilarang atau dikecualikan dari distribusi di beberapa negara.

Sebelum produksi film, Parlemen Jepang berupaya melarang novel karya Koushun Takami yang menjadi sumber ceritanya. Ketika pemerintah gagal melakukannya, sensor diarahkan ke versi filmnya. Namun ketika pejabat Jepang gagal melarang film tersebut, baik film maupun novel justru menjadi sangat populer. Battle Royale juga dilarang di Singapura dan dirilis di Australia dalam versi yang dipotong banyak adegannya.

Baca juga: Memahami Dampak Kekerasan Fisik dan Verbal pada Perkembangan Otak Anak

5. Ichi the Killer (2001)

Film ultraviolent karya Takashi Miike ini menjadi salah satu karya paling terkenal dari genre sinema ekstrem Jepang. Pada pemutaran perdana di Toronto International Film Festival dalam program Midnight Madness, pihak penyelenggara membagikan kantung muntah sebagai promosi. Film ini mencakup adegan penyiksaan dan brutalitas yang menyebabkan sensor berat di beberapa negara.

6. Ju-on: The Grudge (2002)

Film horor ikonik Jepang yang memperkenalkan sosok hantu Kayako dan Toshio ini bercerita tentang kutukan yang menghantui sebuah rumah tua di Tokyo. Siapa pun yang masuk ke rumah tersebut akan menjadi korban. Atmosfer mencekam, jumpscare yang efektif, dan roh jahat yang muncul tanpa belas kasihan menjadikan film ini berpotensi menimbulkan trauma psikologis pada anak-anak.

Baca juga: Rekomendasi Drama Jepang yang Penuh Inspirasi dan Menyentuh Hati

7. Crows Zero (2007)

Film aksi yang sarat pertarungan antar geng sekolah ini dipenuhi adegan kekerasan fisik yang intens. Dari pengamatan redaksi, adegan baku hantam yang sangat realistis dalam film ini berpotensi menginspirasi perilaku agresif pada anak-anak yang menontonnya. Film ini tidak cocok untuk penonton muda meski berlatar dunia sekolah.

8. Confessions (2010)

Film psikologis karya Tetsuya Nakashima ini mengisahkan seorang guru yang merancang balas dendam terhadap dua muridnya yang bertanggung jawab atas kematian putrinya. Narasi yang kompleks, manipulasi psikologis, dan tema keadilan yang gelap menjadikan film ini hanya layak ditonton oleh penonton dewasa.

9. Like Father, Like Son (2013)

Meski tidak mengandung kekerasan grafis, film karya Hirokazu Koreeda ini mengangkat isu pertukaran bayi saat lahir yang memicu pertanyaan moral sangat berat. Tema identitas, ikatan keluarga, dan dilema etis dalam film ini terlalu kompleks untuk dipahami oleh anak-anak dan berpotensi menimbulkan kecemasan.

10. Death Note (2006)

Adaptasi live-action dari manga terkenal ini mengeksplorasi tema keadilan dan moralitas melalui kisah seorang siswa jenius yang menemukan buku catatan supernatural yang dapat membunuh siapa pun yang namanya ditulis di dalamnya. Adegan kematian yang intens dan tema psikologis gelap menjadikan film ini tidak sesuai untuk anak kecil.

11. Visitor Q (2001)

Karya kontroversial lainnya dari Takashi Miike yang menggambarkan sebuah keluarga yang sangat disfungsional. Film ini menampilkan keluarga yang sangat tidak berfungsi dan kehidupan mereka berubah setelah orang asing misterius memasuki rumah mereka. Diambil dengan gaya digital mentah dan berbudget rendah, film ini terasa hampir seperti dokumenter. Pendekatan ini membuat kontennya semakin tidak nyaman. Film ini mencakup penggambaran grafis tentang subjek tabu seperti inses, kekerasan, dan penggunaan narkoba.

12. Mother (2020)

Film dengan alur cerita yang rumit ini mengandung unsur kejahatan terhadap anak dan isu pengasuhan yang sangat sulit. Meski berjudul Mother, film ini menampilkan sisi gelap hubungan ibu-anak yang tidak cocok untuk ditonton anak-anak. Tema pola asuh yang bermasalah disajikan dengan cara yang berat dan mencekam.

13. Alice in Borderland (2020)

Serial drama ini mengikuti sekelompok pemuda yang terjebak dalam permainan mematikan di Tokyo yang kosong. Kematian instan sebagai konsekuensi dari kegagalan menjadikan serial ini sangat brutal. Meski populer di kalangan remaja, konten kekerasan eksplisitnya tidak pantas untuk anak-anak.

14. Cure (1997)

Sebagaimana dikutip dari IMDb, Cure karya Kiyoshi Kurosawa adalah tontonan esensial dalam kategori film horor Jepang yang mengganggu. Seorang detektif menyelidiki serangkaian pembunuhan di mana para pelaku tidak bisa mengingat kejahatan mereka. Film ini hipnotis, mengerikan, dan menakutkan secara psikologis. Karya ini terlalu berat untuk penonton anak-anak.

15. Yumiko no Ashi (2018)

Film ini bercerita tentang seorang pria tua dengan kelainan kejiwaan yang terobsesi secara tidak wajar. Film ini menampilkan banyak adegan sensual yang membuatnya dilarang tayang di banyak negara. Konten dewasa yang dominan menjadikannya salah satu film Jepang yang paling tidak layak ditonton anak-anak.

Baca juga: Bahaya Kecanduan Pornografi pada Anak, Ciri-Ciri, dan Cara Mencegahnya

Anime Jepang yang Juga Perlu Diwaspadai Orang Tua

Tidak hanya film live-action, beberapa anime Jepang juga mengandung konten yang tidak ramah anak, meskipun formatnya animasi. Orang tua sering terkecoh dengan format kartun dan mengira semua anime aman untuk anak. Berikut beberapa yang perlu diwaspadai.

Attack on Titan - Serial anime yang terkenal dengan adegan brutal dan tema gelap tentang manusia melawan raksasa pemakan manusia. Momen mengerikan dan pengkhianatan yang disajikan terlalu intens untuk anak kecil.

Tokyo Ghoul - Anime yang mengandung unsur kanibalisme, kekerasan, dan konflik psikologis yang cukup gelap. Tema identitas dan kelangsungan hidup disajikan dengan cara yang mengganggu.

Jujutsu Kaisen - Meskipun sangat populer, anime ini menghadirkan adegan aksi yang intens dan penuh kekerasan yang hanya cocok ditonton oleh penonton yang cukup umur.

Beastars - Jangan terkecoh dengan karakter hewan dalam anime Jepang yang satu ini. Beastars menampilkan konten dewasa, kekerasan, dan banyak isu sensitif yang tidak sesuai untuk anak-anak.

Dampak Ilmiah Kekerasan Media terhadap Anak

Kekhawatiran terhadap pengaruh tontonan kekerasan pada anak bukan sekadar asumsi. Berbagai lembaga riset terkemuka dunia telah mendokumentasikan dampaknya secara mendalam.

Berdasarkan laporan American Psychological Association (APA), riset oleh para psikolog menemukan bahwa anak-anak yang menonton banyak kekerasan di televisi saat masih sekolah dasar cenderung menunjukkan tingkat perilaku agresif yang lebih tinggi ketika mereka menjadi remaja. Riset awal tentang efek menonton kekerasan di televisi - terutama pada anak-anak - menemukan efek desensitisasi dan potensi agresi.

Sejak awal 1960-an, bukti penelitian terus terakumulasi yang menunjukkan bahwa paparan terhadap kekerasan di televisi, film, video game, telepon seluler, dan internet meningkatkan risiko perilaku kekerasan pada penonton.

Mengutip publikasi American Academy of Pediatrics, sejak studi klasik Bobo doll karya Albert Bandura, yang mengilustrasikan bahwa anak-anak akan meniru serangan fisik terhadap objek mati yang mereka saksikan di televisi, teori pembelajaran sosial telah menyediakan kerangka teoretis yang meyakinkan untuk memahami efek kekerasan media.

Jonathan Haidt, penulis buku The Anxious Generation, dikutip dari rijularora.com menyatakan, "Anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar lebih mungkin melaporkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan kesepian."

Susan Greenfield, neurosaintis dan penulis buku Mind Change, dikutip dari sumber yang sama menyatakan, "Paparan berlebihan terhadap layar dapat mengubah struktur dan fungsi otak, berdampak pada perkembangan kognitif anak-anak."

Baca juga: Dampak Kekerasan pada Anak Lengkap Cara Mengatasinya

Dalam beberapa kasus, menonton satu program kekerasan saja sudah dapat memicu agresi. Anak-anak yang menonton video di mana kekerasan sangat realistis, sering diulang, atau tidak mendapat hukuman, lebih mungkin meniru apa yang mereka lihat. Anak-anak dengan masalah emosional, perilaku, belajar, atau kontrol impuls mungkin lebih mudah dipengaruhi oleh kekerasan di layar. Dampaknya bisa langsung terlihat dalam perilaku anak atau muncul bertahun-tahun kemudian.

Tabel Ringkasan: Film Jepang yang Tidak Cocok untuk Anak

Film Tahun Rating Eirin Alasan Utama
In the Realm of the Senses 1976 R18+ Konten seksual eksplisit
Guinea Pig: Flower of Flesh and Blood 1985 Tidak lolos sensor Gore ekstrem
Audition 1999 R15+ Penyiksaan grafis, horor psikologis
Battle Royale 2000 R15+ Kekerasan ekstrem antar remaja
Ichi the Killer 2001 R18+ Ultraviolence, penyiksaan
Visitor Q 2001 R18+ Konten tabu, kekerasan, narkoba
Ju-on: The Grudge 2002 PG-12 Horor intens, trauma psikologis
Death Note 2006 PG-12 Tema kematian, psikologis berat
Crows Zero 2007 R15+ Kekerasan geng sekolah
Confessions 2010 R15+ Balas dendam psikologis gelap
Like Father, Like Son 2013 PG-12 Dilema moral berat
Yumiko no Ashi 2018 R18+ Obsesi seksual, konten dewasa
Mother 2020 R15+ Kekerasan pada anak, isu berat
Alice in Borderland 2020 R15+ Survival game brutal
Cure 1997 R15+ Horor psikologis mencekam

Tips Praktis untuk Orang Tua dalam Mengawasi Tontonan Anak

Menjauhkan anak dari tontonan yang tidak sesuai bukan berarti melarang sepenuhnya, melainkan mendampingi dengan bijak. Deborah Gilboa, dokter keluarga dan pakar ketahanan, dikutip dari TODAY.com menyatakan, "Cara Anda menangani percakapan ini bukan soal usia, melainkan soal apa yang Anda ketahui tentang anak Anda dan seberapa besar kemungkinan mereka terpengaruh oleh peristiwa tersebut."

Berikut langkah-langkah yang bisa diterapkan:

Periksa rating sebelum menonton. Selalu cek rating film di platform streaming atau situs seperti IMDb sebelum mengizinkan anak menonton. Memahami sistem rating usia film menjadi langkah pertama yang krusial.

Aktifkan parental control. Sebagian besar platform streaming seperti Netflix, Disney+, dan Vidio menyediakan fitur pengaturan konten berdasarkan usia. Manfaatkan fitur ini untuk memfilter konten yang tidak sesuai.

Tonton bersama anak. Orang tua sebaiknya menonton program dan video bersama anak-anak mereka untuk mendorong komunikasi dan memperkuat pesan positif. Orang tua juga dapat meredam pesan negatif dan menempatkannya dalam konteks yang sesuai.

Batasi waktu layar. Jumlah waktu yang dihabiskan anak di depan layar, terlepas dari kontennya, harus dimoderasi karena mengurangi waktu yang digunakan untuk aktivitas yang lebih bermanfaat seperti membaca, bermain dengan teman, dan mengembangkan hobi.

Diskusikan konten yang dilihat. Jika anak secara tidak sengaja terpapar konten yang tidak sesuai, jangan panik. Gilboa, dikutip dari TODAY.com, menyarankan orang tua untuk bertanya langsung kepada anak dan menjadikannya momen untuk menanamkan nilai-nilai yang penting bagi keluarga.

Baca juga: Rekomendasi Film Indonesia yang Memikat dan Penuh Kejutan

Alternatif Tontonan Jepang yang Aman untuk Anak

Tidak semua film dan anime Jepang berbahaya. Banyak karya sinema dari Negeri Sakura yang justru sarat pesan moral dan cocok dinikmati bersama keluarga. Studio Ghibli misalnya, menghasilkan film-film seperti My Neighbor Totoro, Ponyo, dan Kiki's Delivery Service yang ramah anak dan penuh keajaiban.

Untuk anime, serial seperti Doraemon, Crayon Shin-chan (versi yang sudah disensor), dan Pokemon tetap menjadi pilihan aman. Film-film karya Hirokazu Koreeda seperti Shoplifters juga bisa menjadi tontonan bermakna untuk remaja yang lebih tua dengan pendampingan orang tua.

Bagi orang tua yang ingin memperkenalkan budaya Jepang melalui sinema Asia kepada anak, film animasi dengan rating G dari Eirin menjadi pilihan paling aman. Pastikan selalu membaca sinopsis dan ulasan sebelum memutuskan.

Pertanyaan Seputar Film Jepang yang Tidak Aman untuk Anak

Apakah semua film anime Jepang tidak aman untuk anak?

Tidak. Banyak anime Jepang yang sangat ramah anak dan sarat pesan edukasi, seperti produksi Studio Ghibli, Doraemon, dan Pokemon. Yang perlu diwaspadai adalah anime dengan rating R15+ dan R18+ atau yang berlabel "seinen" (dewasa). Selalu periksa rating dan genre anime sebelum mengizinkan anak menonton.

Bagaimana cara mengetahui rating film Jepang sebelum menonton?

Orang tua bisa mengecek rating film Jepang melalui situs resmi Eirin, platform streaming yang biasanya mencantumkan rating usia, atau situs ulasan film seperti IMDb yang menyertakan informasi parents guide. Di Indonesia, Lembaga Sensor Film juga memberikan rating tersendiri untuk film-film asing yang tayang di bioskop.

Apa yang harus dilakukan jika anak sudah terlanjur menonton film yang tidak sesuai usia?

Jangan memarahi anak. Ajak bicara dengan tenang tentang apa yang mereka rasakan setelah menonton. Jelaskan bahwa apa yang mereka lihat di layar bukanlah representasi dunia nyata. Anak-anak yang sangat kecil membutuhkan informasi yang singkat dan sederhana yang harus diimbangi dengan jaminan keamanan. Bicaralah dengan lembut dan tenang, menggunakan kata-kata yang mereka pahami. Seiring bertambahnya usia, anak-anak mungkin lebih vokal dalam mengajukan pertanyaan dan berbagi perasaan. Jika anak menunjukkan tanda-tanda kecemasan berkelanjutan, konsultasikan dengan psikolog anak.

Memilih tontonan yang tepat untuk anak memang memerlukan perhatian ekstra di era digital seperti sekarang. Dengan memahami sistem rating, mengenali daftar film yang berisiko, dan menerapkan pengawasan aktif, orang tua dapat memastikan anak-anak menikmati hiburan yang aman sekaligus mendidik. Tontonan yang baik bukan hanya soal hiburan - tetapi juga investasi untuk perkembangan emosional dan mental anak di masa depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |