Upie Guava Bongkar Cara Pakai AI di Pelangi di Mars, Bukan untuk Gantikan Kreator

1 day ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Sutradara film Pelangi di Mars, Upie Guava, memberikan pandangannya tentang perdebatan panas soal AI (kecerdasan buatan) di industri kreatif. 

Saat ditemui di rumah produknya di Jakarta, Upie memilih untuk berada di posisi tidak ekstrem. “Saya tidak menolak AI. Namun, saya juga tidak ingin teknologi ini mengambil alih seluruh ruang ekspresi manusia,” kata Upie.

Bagi pria bernama asli Luthie Abdullahini ini, persoalan AI bukan sekadar soal boleh atau tidak boleh dipakai. Paling penting adalah bagaimana manusia memakainya dan di titik mana batas etika itu dijaga.

“Jadi saya bilang jadi masalah itu bukan di AI-nya, akan tetapi di sisi manusianya,” jelas Upie. AI pada dasarnya bekerja dengan menyusun prediksi dari data, literasi, dan referensi yang ada.

Ia menambahkan, “di titik itu, perdebatan soal etika pun muncul karena banyak orang mempertanyakan apakah buatan AI masih dianggap sebagai karya.”

Menurutnya, persoalan tentang AI ini tidak hitam putih. Ia menilai, manusia pun tumbuh dengan meniru, menyerap referensi, lalu memodifikasinya menjadi bentuk baru.

“Bedanya, saat manusia melakukan itu, publik mudah menerimanya. Saat mesin melakukan hal serupa, perdebatan langsung membesar. Karena itu, inti masalahnya bukan tentang teknologi. Lebih menentukan adalah kesepakatan etik manusia dalam memandang hasil karya AI,” tuturnya.

Secara pribadi, Upie memilik batas sangat jelas tentang AI di dunia kreatif. “Secara pribadi, sampai saat ini yang saya sebut dengan karya AI adalah karya yang text to video, text to image. Itu saya, secara etika pribadi, tidak mau mengklaim itu karya saya.”

Tidak Menutup Pintu Terhadap AI

Alasan Upie Guava Bikin Pelangi di Mars, Ingin Anak Indonesia Punya Mimpi Besar Lagi. (Liputan6.com/ Yuslianson)

Meski begitu, dia juga tidak menutup pintu terhadap AI. Menurutnya, jika dipakai sebagai bagian dari proses panjang tetap melibatkan keputusan, arah, dan ekspresi kreatif manusia, hasil akhirnya masih bisa dianggap sebagai karya sang kreator.

“Di saat karya itu melalui proses panjang, meskipun di tengah-tengahnya ada AI, titi tetap karya saya,” jelas Upie.

Pandangan itu yang ia terapkan dalam Pelangi di Mars. Di film ini, AI tidak dipakai untuk sekadar meminta mesin membuat hasil akhir, tetapi dimanfaatkan untuk mempercepat proses yang sebelumnya jauh lebih rumit, mahal, dan sulit dilakukan dengan resource terbatas.

Upie sendiri mengakui dirinya menggunakan AI di pembuatan film barunya ini. Salah satunya dipakai pada saat motion capture. “Awalnya semua karakter robot di dalam film dirancang pakai tubuh aktor manusia, dengan pakai mocap suit khusus.”

Namun karena terkendala satu mocap suit khusus itu harganya sampai ribuan dolar AS per setelah, Upie dan timnya memutuskan untuk mengembangkan sistem sendiri.

“Kita bangun setup berbasis AI dengan delapan kamera mengelilingi body actor, di mana masing-masing kamera mampu menangkap gerakan para pemeran. Data itu lalu dipakai sebagai dasar animasi karakter robot,” jelasnya.

Upie: Saya Lebih Nyaman Mengarahkan Aktor Langsung

 Apple)

Pendekatan ini sangat penting bagi Upie, karena dirinya datang dari dunia live action, bukan animasi murni. Karenanya, ia merasa lebih nyaman mengarahkan aktor secara langsung daripada harus membayangkan semua gerakan dari nol di ruang animasi.

Dengan ini, ia bisa menyutradarai banyak performer sekaligus dalam satu adegan, melihat mereka berinteraksi, lalu pakai AI untuk membantu menangkap gerakan untuk diterjemahkan menjadi fondasi animasi.

“Teknologi (AI) bukan mengambil alih pekerjaan kreator, tetapi membantu saat proses kreatif membutuhkan solusi baru,” ucapnya.

Selain dipakai untuk motion capture, AI juga dipakai untuk membuat referensi visual. Saat tim butuh gambaran lokasi, suasana, atau desain awal, AI bisa menghasilkan visual sementara agar komunikasi dengan divisi environment dan desainer jadi lebih cepat dan jelas.

Pandangan ini membuat posisi Upie cukup menarik di tengah diskusi AI. Ia tidak berdiri di kubu sepenuhnya anti, tetapi juga tidak langsung memuja AI sebagai jawaban semua hal.

Tak hanya itu, ia menolak anggapan kemajuan teknologi AI seperti Sora, Gemini AI, dan lainnya akan mematikan videografer, musisi, atau seniman. “Ada karya videografi yang dibuat AI, lantas kitar suruh videografer berhenti berkarya? Itu namanya sudah kalah kita,” ucapnya.

Bagi Upie, selama masih ada manusia punya kebutuhan untuk mengekspresikan diri, ruang bagi kreator tidak akan hilang. “Teknologi boleh berubah, tools berganti, tetapi dorongan untuk mencipta akan tetap mencari jalannya sendiri,” pungkasnya.

Tools Apple Andalan Upie Guava Saat Garap Pelangi di Mars

Upie Guava Beberkan Evolusi Workflow Pelangi di Mars, dari MacBook White ke Mac Studio M3 Ultra. (Liputan6.com/ Yuslianson)

Lebih lanjut, alat kerja yang baik harus membantu ide bergerak cepat. Secara terbuka, pria berumur 49 tahun ini mengatakan tidak tertarik pada software terlalu rumit jika pada akhirnya membuat kreator sibuk mengurus teknis dan kehilangan ruang eksplorasi. 

“Saya tuh percya tools harus mudah dipakai,” ujarnya. Pandangan itu menjelaskan kenapa Final Cut Pro menjadi salah satu aplikasi besutan Apple yang paling sering dipakai.

Alasannya juga sederhana, karena Upie merasa kemampuan software milik perusahaan asal Cupertino ini seimbang dengan kemudahan penggunaan yang ia butuhkan dalam proses kerja sehari-hari.

“Saya pilih Final Cut Pro karena kelihatannya gampang,” jelasnya. Dari sekian banyak fitur di aplikasi, Magnetic Mask menjadi paling ia puji. Menurutnya, fitur ini mampu memberi dampak nyata dalam workflow editing karena bisa memangkas proses selama ini identik dengan pekerjaan berat dan memakan waktu.

“Magnetic Mask tuh fitur Apple paling useful, paling inovatif, paling canggih di Final Cut Pro,” ujarnya. Dengan fitur ini, ia dapat memisahkan subjek dari latar dengan cepat, membuat blur, melakukan isolasi color grading, hingga memanipulasi area tertentu tanpa perlu green screen dan tanpa proses rotoscoping rumit.

“Dia tuh sesimpel klik dan analyze. Cepet banget, udah, dia roto. No more green screen,” katanya. Selain Final Cut Pro, Keynote juga memegang peran besar dalam pembuatan Pelangi di Mars.

Bagi Upie, aplikasi ini bukan sekadar alat presentaso. Keybote juga dipakai untuk menyusun konsep, membangun dunia visual, dan menjaga komunikasi lintas divisi tetap rapi. “Everything Keynote,” ucapnya.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |