Tsania Marwa Bangga Ghina Raihanah Adiknya Kini Rilis Buku, Dulu Dibantu Buat Tugas Puisi

7 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Tsania Marwa mengungkap rasa bangganya saat mendampingi sang adik, Ghina Raihanah Tadjoedin, merilis bukunya berjudul Becoming Without Arrival. Melalui Acara bertajuk "Ghinarai Tadjoedin's Immersive Literary Experience" Ghina merekam perjalanannya dalam melahirkan sebuah karya.

Meski sebagai adik, Tsania Marwa menyebut Ghina adalah sosok yang seringkali mengajarkan banyak hal kepadanya. Ia bahkan mengenang pernah membantu Ghina mengerjakan tugas puisi di saat sang adik masih duduk di bangku sekolah.

"Gina adalah sosok adik yang justru mengajarkan banyak hal. Fun fact-nya ketika sekolah meminta saya yang menuliskan tugas puisi. Seiring jalan waktu, ambisi dan konsistensi, itu yang membuat Ghina bisa menjadi dia hari ini," ungkap Tsania Marwa di Museum Macan, Jakarta Barat, Minggu (20/9/2026).

"We are so proud of you, apa pun yang Ghina lakuin, itu semua untaian sebuah seni yang akhirnya menjadi buku. Tetaplah jadi perempuan cantik dengan segala ambisi positifnya," Tsania Marwa menyambung.

Memasuki usia 25 tahun, Ghina menjadikan buku setebal 128 halaman terbitan TransMedia Pustaka tersebut sebagai bentuk refleksi sekaligus hadiah untuk dirinya sendiri. Ia mengaku karya itu lahir dari proses mengamati dan memaknai perjalanan hidup selama seperempat abad.

"Sebenarnya tidak hanya diri sendiri sih, gimana aku mengobservasi gitu selama 25 tahun. Sedikit hadiah untuk aku yang kemarin juga baru berulang tahun, jadi lebih ke bagaimana aku memaknai kehidupan secara umum saja," ungkap Ghina.

Buku Self-development

Ghina menjelaskan gagasan di balik Becoming Without Arrival, yang mengangkat tema pengembangan diri dengan metafora alam dan laut. Buku tersebut membahas perjalanan memaknai perasaan sejak masa kanak-kanak hingga usia 25 tahun, sekaligus mengajak pembaca menghargai setiap proses dalam hidup.

"Sebenarnya bukunya self-development tentang POV anak kecil sampai anak umur 25 tahun, bagaimana memaknai perasaan sampai akhirnya mengerti kalau proses itu harus sama-sama dihargai, kalau kita tuh tidak hanya sampai di titik tertentu untuk kita baru akhirnya percaya diri dan nyaman sama diri sendiri. Tapi kita bungkus nih metaforanya dengan alam dan laut. Makanya banyak kontributor-kontributor juga di sini yang menunjukkan artwork-nya, gitu," jelas Ghina.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Buku itu tidak hanya mengandalkan tulisan, tetapi juga memadukan elemen visual dan interaktif. Latar belakang Ghina sebagai lulusan Ilmu Hukum turut memengaruhi rancangan visual buku, dengan menyisipkan elemen yang berkaitan dengan dunia hukum untuk merepresentasikan perjalanan akademis dan profesionalnya. "Kemudian di sini tuh di sebelah kirinya tuh ada kayak bentuk file, subject, jadi karena aku memang background-nya hukum, ada elemen hukumnya gitu. Jadi ini kita mencoba menggabungkan beberapa elemen tersebut," tutur Ghina.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |