Pesohor Dwi Sutarjantono Bahas Imlek, Sebut Tahun Kuda Simbol Pergerakan dan Daya Juang

6 hours ago 2

Jadi intinya...

  • Tahun Kuda menuntut ritme cepat, sering menimbulkan tekanan mental akibat peluang yang tak kunjung datang.
  • Hambatan rezeki utama berasal dari pikiran usang dan narasi negatif bawah sadar yang 'menarik rem'.
  • Transformasi mental dimulai dengan mengubah dialog internal negatif menjadi positif untuk membuka peluang.

Liputan6.com, Jakarta - Perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina tinggal hitungan hari. Pesohor sekaligus pakar mind programming Dwi Sutarjantono berbagi perspektif soal Imlek dan Tahun Kuda. Menurutnya, Tahun Kuda penuh dengan simbolisme gerak dan daya juang.

Masyarakat dihadapkan pada tuntutan ritme hidup yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Fenomena ini sering menimbulkan tekanan mental bagi individu yang merasa sudah bekerja keras namun peluang besar yang dinanti tak kunjung bertandang ke dalam hidup mereka.

Dwi Sutarjantono menjelaskan, hambatan utama rezeki sering kali bukan dari faktor eksternal, tapi ketidaksiapan sistem operasi dalam pikiran manusia itu sendiri. Banyak orang sibuk mengejar target di luar sana tanpa menyadari sedang “menarik rem” secara tak sadar melalui program pikiran yang usang.

“Banyak orang bekerja keras, tapi secara bawah sadar justru menarik remnya sendiri,” kata Dwi Sutarjantono. Hal ini menjadi krusial di Tahun Kuda, di mana momentum tidak akan menunggu mereka yang masih didera keraguan dalam melangkah atau menjalani hidup.

Sebagai sosok yang telah membantu banyak kalangan dari profesional hingga finalis Miss Universe Indonesia, Dwi Sutarjantono menekankan, rezeki adalah respons hidup terhadap pikiran yang selaras. Karenanya, pikiran atau mental usang harus segera dirombak ulang.

“Langkah awal transformasi mental dimulai dengan keberanian mengenali dialog internal yang selama ini melemahkan potensi diri,” ujar pesohor dengan 11 ribuan pengikut di Instagram itu, lewat pernyataan tertulis yang diterima Showbiz Liputan6.com, Senin (9/2/2026).

Narasi Negatif Yang Berputar

Dwi Sutarjantono menjelaskan, seseorang harus mampu mengidentifikasi apakah mereka sering membatin kalimat seperti, “Aku takut salah langkah” atau “Aku belum pantas,” karena pikiran bawah sadar bekerja melalui pengulangan yang sangat kuat.

“Selama narasi negatif ini terus berputar, secara otomatis sistem saraf akan mengarahkan individu untuk menghindari peluang besar demi menjaga rasa aman yang semu di zona nyaman,” tutur Dwi Sutarjantono, yang praktik Rumah Terapi Bekasi dan Jivaraga Jakarta.

Ganti Kalimat Yang Melumpuhkan

Setelah mengenali hambatan tersebut, proses selanjutnya mengubah bahasa batin secara sadar agar menjadi pintu masuk positif bagi pikiran. Mengubah narasi bukan berarti membohongi diri sendiri.

“Ganti kalimat yang melumpuhkan dengan kalimat yang lebih berdaya, seperti: Aku sedang belajar melangkah dengan lebih berani,” ulasnya. Perubahan dalam memilih kata memberi sinyal baru kepada otak bahwa pergerakan dan tantangan bukanlah ancaman.

Rezeki Bertahan di Pikiran

Pergerakan dan tantangan adalah proses pertumbuhan. Dengan mental lebih tenang, individu akan lebih mudah mengenali peluang yang sering muncul dalam bentuk tidak terduga, seperti pertemuan singkat dengan seseorang atau ide yang muncul tiba-tiba.

Rezeki hadir bukan hanya dalam bentuk materi, tapi melalui jaringan dan keputusan-keputusan kecil yang mengubah arah hidup secara signifikan. “Rezeki hanya bertahan di pikiran yang siap menampungnya,” pungkas Dwi Sutarjantono.

IVE Viral Gara-Gara Lagu Bang Bang Trending Nomor 4 di YouTube, Simak Lirik dan Maknanya!

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |