Influencer Aline Wiratmaja Bahas Fenomena Rojali 2.0 dan Eksistensi Mal di Era Digital, Begini Katanya

1 day ago 7

Liputan6.com, Jakarta Influencer sekaligus kreator konten finansial Aline Wiratmaja jadi salah satu bintang tamu dalam Seminar dan Musyawarah Daerah 2025 Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta, pekan ini.

Mengusung tema “Menyambut Rojali 2.0 – Rombongan Jadi Beli,” Aline Wiratmaja berbagi perspektif bareng sejumlah pembicara yakni perwakilan APPBI DPD Jakarta, Ellen Hidayat, perwakilan industri retail Hadi Sampurno, dan Meinar Dyan.

Diskusi ini mengulas fenomena menurunnya daya beli masyarakat yang dibarengi ramainya mal. Namun, tak banyak transaksi yang terjadi sehingga lahir sejumlah istilah populer antara lain Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya).

“Pusat belanja sudah menjadi satu destinasi belanja, ruang pertemuan dan rekreasi, sehingga event di mal harus bervariasi, tidak boleh sama dengan pusat belanja lain, termasuk peserta di event tersebut, dengan demikian Rojali 2.0 akan terwujud,” kata Aline Wiratmaja.

Beberapa mal di Jakarta dan sekitarnya, mengalami sepi pengunjung. Bisnis mati di mal dan pusat perbelanjaan itu. Perubahan perilaku konsumen saat ini, dianggap jadi faktor utama.

Menyusutnya Kelas Menengah

Lewat pernyataan tertulis yang diterima Showbiz Liputan6.com, Jumat (28/11/2025), Aline Wiratmaja menyatakan, Rojali 2.0 yang dimaksud Rombongan Jadi Beli. Artinya, transaksi benaran terjadi. Di akun Instagram terverifikasi, ia membahas posisi kelas menengah di Indonesia belakangan ini.

Di balik ini semua ada tren menyusutnya kelas menengah Indonesia yang menjadi tulang punggung konsumsi penopang pertumbuhan ekonomi negeri kita. Namun demikian, kekuatan konsep dan kreativitas berhasil membawa kenaikan tingkat okupansi tenant di pusat perbelanjaan,” cuitnya.

Mentranslasikan Kunjungan

PR bersama bagaimana mentranslasikan kunjungan menjadi transaksi. Dari sisi makro, muncul harapan dengan melonggarnya likuiditas, ditandai dengan mulai meningkatnya tren suplai uang beredar M2 (uang yang siap dibelanjakan atau diinvestasikan),” imbuh Aline Wiratmaja.

Ia berharap kondisi politik dan keamanan terus kondusif, sehingga mengurangi sikap wait and see para pelaku ekonomi. Di sisi lain, era digital dan sosial retail menghadirkan peluang bagi pusat belanja tumbuh melalui kreativitas maupun kolaborasi.

Perjalanan Sosial

Ini disampaikan Ketua APPBI DPD DKI Jakarta, Mualim Wijoyo, kala membahas peluang Rombongan Jarang Beli menjadi Rombongan Jadi Beli. Konsep Rojali 2.0 ini menegaskan bahwa pengalaman berbelanja kini bukan hanya transaksi.

“Tapi juga perjalanan sosial yang menciptakan nilai bersama atau komunitas. Kami berkomitmen terus bekerja sama dengan Pemprov Jakarta dalam memperkuat ekosistem retail yang adaptif, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat urban,” ujar Mualim Wijoyo.

Dalam seminar yang dipandu presenter kondang, Andy F. Noya, dibahas pula pentingnya inovasi digital, kampanye komunitas, sinergi pemerintah dan pengelola pusat belanja dalam menciptakan ekosistem retail yang relevan sekaligus kompetitif.

Ellen Hidayat mengamini ini. Di sisi lain, ia mengingatkan, “Setiap mal punya karakteristik masing-masing. Untuk meningkatkan traffic, mal dapat melakukan event sesuai yang sedang tren saat ini, sehingga menjadikan Rojali 2.0 benar-benar terwujud.”

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |