Dopamin Tawarkan Cara Bahagia di Dunia yang Semakin Gila, Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon Diuji Lewat Cinta

3 months ago 48

Liputan6.com, Jakarta - Film Dopamin membuka babak baru dalam dunia perfilman Indonesia dengan cerita cinta yang berbeda. Di belakang layar, sutradara Teddy Soeriaatmadja bersama Starvision dan Karuna Pictures bekerja keras untuk proyek ini dengan semangat dan keyakinan. Mereka ingin menceritakan tentang cinta, uang, dan cara bertahan dalam dunia yang semakin gila.

“Kami semua membuat film ini dengan penuh cinta. Dari awal sampai akhir, semua orang terlibat dengan sepenuh hati,” ujarnya saat di acara press screening dan konferensi pers film Dopamin, Rabu (29/10/2025).

Ia juga meyakinkan penonton bahwa mereka akan melihat penampilan terbaik dari dua pemeran utama, Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon. “Saya jamin kalian akan melihat penampilan luar biasa dari mereka berdua,” tambahnya.

Di sisi lain, produser Chand Parwez Servia menyebut film ini sebagai karya istimewa yang menandai 30 tahun Starvision di dunia film Indonesia. “Kami ingin memberikan sesuatu yang baru dan relevan. Film ini bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang cara bertahan hidup dan menemukan kebahagiaan di dunia yang semakin gila,” katanya.

Cerita Dopamin berfokus pada pasangan muda, Malik (Angga Yunanda) dan Alya (Shenina Cinnamon) yang terjebak dalam masalah keuangan. Utang yang menumpuk dan kehilangan pekerjaan membuat rumah tangga mereka mulai retak. Situasi berubah ketika seorang tamu asing datang ke rumah mereka dan meninggalkan koper penuh uang misterius.

Pasangan Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon terlihat tampil menawan dalam balutan busana pengantin khas adat Minang berwarna putih. Penasaran dengan detail busana dan lokasi pernikahan mereka? Simak selengkapnya dalam Fimela Update berikut ini!#fimel...

Dari Thriller Gelap ke Cerita Humanis

Teddy menceritakan bahwa cerita untuk film Dopamin sudah dibuat sejak lima tahun yang lalu dan awalnya ditulis sebagai film thriller yang gelap. Namun, setelah berbicara dengan Chand Parwez, cara ceritanya jadi lebih tentang kemanusiaan.

“Pak Parwez melihat lebih dalam sisi manusia dari kisah ini. Dari situ saya ubah cara pendekatannya, supaya karakter yang ada lebih dekat dengan penonton dan terasa nyata,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa masalah utama dalam film ini bukan karena satu pihak salah dan yang satu benar, tetapi karena keduanya punya alasan yang sama-sama bisa dipahami. “Konflik itu jadi menarik jika kedua pihak merasa mereka yang benar. Itu yang saya fokuskan dalam menulis film ini,” tambahnya.

Rahasia di Balik Visual dan Musik

Dari segi teknis, penata kamera Vera Lestafa menyebutkan bahwa tantangan terbesar dalam film ini adalah pemakaian lensa ultra lebar yang membuat jarak antara kamera dan karakter terasa sangat dekat.

“Karena lensa yang digunakan sangat lebar, pencahayaan menjadi jauh lebih sulit. Namun, ini membuat penonton merasa seakan-akan mereka berada di dalam situasi dan ketegangan yang dialami Malik dan Alya,” ujarnya.

Editor Aline Jusria juga berperan dalam menjaga alur emosi dengan tempo yang bervariasi. Sejak produksi, tim telah mempersiapkan referensi lagu untuk menciptakan suasana dan ritme emosi film, sehingga setiap adegan terlihat menyatu baik secara visual maupun perasaan. “Kami ingin penonton merasakan ketegangan, ketakutan, sekaligus kehangatan pada waktu yang sama. Packingnya harus tepat agar semua emosi itu bisa dirasakan,” ujarnya.

Cinta, Ketegangan, dan Dopamin di Kehidupan Nyata

Dalam konferensi pers, Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon mengungkapkan bahwa memainkan peran Malik dan Alya terasa sangat dekat diri mereka.

“Film ini menjadi cerminan bagi kami berdua. Malik dan Alya adalah sepasang kekasih yang selalu berusaha untuk saling mendukung, meskipun kehidupan mereka penuh masalah. Itu juga adalah hal yang kami pelajari dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Angga juga menjelaskan bahwa inti dari film ini bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang keberanian untuk saling bersama meskipun harus menghadapi berbagai rintangan. “Kebahagiaan bisa berasal dari hal-hal sederhana, bahkan makan bersama orang yang kita cintai bisa membuat kita merasa bahagia,” ungkapnya.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |