Bos Gaming Amazon Ramal Era Konsol akan Berakhir, Kenapa?

2 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Divisi Gim Amazon, Jeff Gattis, meyakini kenaikan harga perangkat teknologi akan mendorong lebih banyak orang beralih ke streaming gim melalui internet daripada membeli konsol baru.

Menurutnya, teknologi cloud gaming telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir sehingga kini jauh lebih layak digunakan dibanding sebelumnya. Namun, masih akan ada orang yang memilih membeli perangkat keras (hardware) mereka sendiri.

Meski cloud gaming telah lama digadang-gadang sebagai masa depan industri gim, berbagai upaya sebelumnya belum berhasil meraih adopsi secara luas. Hal itu bahkan berujung pada penutupan layanan Google Stadia pada 2023.

Saat ini, banyak perusahaan telah menawarkan layanan cloud gaming sebagai bagian dari paket berlangganan mereka, termasuk raksasa industri seperti Sony dan Microsoft. Namun, sebagian besar pemain masih lebih memilih mengunduh dan memasang gim secara langsung di PC atau konsol milik mereka.

Pernyataan Gattis disampaikan bersamaan dengan pengumuman Amazon bahwa mereka akan mengintegrasikan layanan cloud gaming Luna ke dalam aplikasi Prime Video, sehingga layanan tersebut akan hadir berdampingan dengan koleksi film dan serial yang tersedia di platform itu.

Cloud gaming memungkinkan pemai menjalankan dan memainkan gim melalui internet dari server jarak jauh menggunakan ponsel, tablet, atau perangkat pengendali (controller), tanpa perlu mengunduh dan menjalankan gim tersebut di PC atau konsol yang ada di rumah.

Gattis berpendapat bahwa masih ada pasar yang sangat besar dan belum tergarap, yakni para pemain gim yang tidak memiliki konsol atau perangkat gim khusus, dan kelompok inilah yang ingin dijangkau Amazon.

"Ada sekitar 2,5 hingga 3 miliar orang di seluruh dunia yang bermain gim, tetapi hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki perangkat keras khusus untuk bermain gim," kata Gattis.

Jadi Solusi

Menurut Gattis, streaming gim dapat menjadi solusi bagi orang-orang yang tidak ingin menghabiskan ratusan bahkan ribuan pound sterling untuk membeli konsol atau PC gaming.

"Seiring harga perangkat keras yang semakin mahal dan teknologi streaming yang terus berkembang, saya rasa akan semakin banyak orang yang bertanya pada diri mereka sendiri apakah mereka benar-benar masih membutuhkan perangkat khusus tersebut," ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, harga perangkat keras untuk bermain gim terus meningkat seiring naiknya biaya komponen. Sony dan Microsoft telah menaikkan harga konsol mereka, sementara Valve memasarkan perangkat Steam Machine terbarunya dengan harga mulai dari 879 pound sterling.

Christopher Dring, Pemimpin Redaksi sekaligus salah satu pendiri The Game Business, mengatakan kemungkinan ada banyak orang yang ingin memainkan gim kelas atas seperti Grand Theft Auto 6 yang akan datang, namun mengurungkan niat karena berbagai persyaratan teknis yang diperlukan.

Meski demikian, menurutnya, cloud gaming masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah banyak gim kelas atas yang hingga kini masih memerlukan controller agar dapat dimainkan dengan nyaman.

Layanan Amazon Luna sebenarnya sudah termasuk dalam langganan Amazon Prime, tetapi selama ini hadir sebagai layanan terpisah. Kini, pengguna di Amerika Serikat dan Inggris yang menggunakan Fire TV dapat mengaksesnya langsung melalui tab "Games" di aplikasi Prime Video.

Dring menambahkan bahwa model bisnis berbasis langganan masih menjadi batu sandungan bagi banyak penerbit gim besar. Pasalnya, model tersebut berpotensi mengurangi penjualan gim secara langsung, yang selama ini menghasilkan pendapatan jauh lebih besar bagi para penerbit.

Dring juga merasa kecil kemungkinannya orang bersedia membayar harga penuh sebuah gim—yang biasanya berkisar 60 hingga 70 pound sterling—hanya untuk memainkannya melalui layanan streaming.

Cloud Gaming, Masa Depan Industri Gim?

Saat diluncurkan pada November 2019, Google Stadia dipromosikan sebagai "Netflix untuk gim". Namun, pada Januari 2023, Google menghentikan layanan tersebut dengan alasan Stadia "tidak berhasil memperoleh daya tarik dari pengguna" seperti yang diharapkan perusahaan.

Secara teknis, cloud gaming membutuhkan koneksi internet yang cukup cepat dan stabil agar dapat berfungsi dengan baik. Joost van Dreunen, profesor bisnis gim di NYU Stern, mengatakan konsep cloud gaming hingga kini masih belum berhasil diadopsi secara luas karena beberapa faktor, antara lain latensi (keterlambatan respons), pengalaman bermain yang tidak konsisten, serta belum adanya model bisnis yang benar-benar kuat.

"Para gamer bersedia mengorbankan sedikit kualitas grafis demi kenyamanan, tetapi mereka tidak ingin membayar harga premium untuk sesuatu yang tidak mereka miliki dan masih tersendat-sendat ketika koneksi Wi-Fi melemah," ujarnya.

Meski demikian, dia menilai harga konsol yang terus meningkat berpotensi mengubah keadaan tersebut dan mendorong lebih banyak orang untuk beralih ke layanan cloud gaming.

"Untuk pertama kalinya dalam sejarah industri ini, harga konsol justru menjadi semakin mahal menjelang akhir siklus hidupnya," ujarnya."Saya ragu hal ini akan langsung mendorong lebih banyak pemain beralih ke cloud gaming dalam waktu dekat, tetapi saya memperkirakan akan terjadi adopsi alternatif secara bertahap."

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |