4 Negara Mayoritas Islam Rayakan Lebaran dalam Kondisi Berperang, dari Palestina hingga Suriah

1 day ago 5

loading...

Rakyat Palestina merayakan Idulfitri dalam kondisi perang. Foto/X/@Muslim

GAZA - Negara mayoritas Islam rayakan Lebaran dalam kondisi berperang di tahun 2025 akan dibahas dalam artikel ini. Idulfitri seharusnya menjadi waktu yang aman dan damai bagi setiap umat muslim di dunia, namun di beberapa negara, momen lebaran ini justru harus dihiasi dengan suasana perang mencekam.

Banyak umat Islam di daerah konflik tetap berusaha merayakan Idulfitri meski dalam kondisi yang jauh dari kata ideal. Banyak yang harus menjalani hari kemenangan ini di pengungsian, di tengah reruntuhan bangunan, atau bahkan dalam ketakutan akan serangan yang terus berlangsung.

4 Negara Mayoritas Islam Rayakan Lebaran dalam Kondisi Berperang

1. Palestina

Israel kembali melancarkan serangannya ke Palestina setelah diberlakukannya gencatan senjata pada akhir tahun 2024 lalu. Hal ini membuat warga Gaza yang baru saja pulang dari tempat pengungsian harus kembali tempat tersebut selama Ramadhan dan Idul Fitri.

Dilansir dari Al Jazeera, warga Palestina harus kembali mengungsi ke Rafah setelah Israel kembali melancarkan serangan ke Gaza Selatan pada 31 Maret 2025.

Serangan yang dilancarkan Israel ke Gaza menjelang Idul Fitri sendiri tercatat telah menewaskan puluhan orang. Israel berdalih jika serangan tersebut dilakukan untuk memberantas para pejuang Hamas yang masih berkeliaran.

Kepala UNRWA Philippe Lazzarini menyebut meningkatnya serangan Israel terhadap Gaza sebagai “salah satu masa tergelap bagi kemanusiaan kita bersama”.

Bersamaan dengan serangan ini, Presiden AS Donald Trump juga memberi ancaman untuk Houthi di Yaman bahwa “penderitaan sesungguhnya belum datang” jika mereka tidak menghentikan serangan terhadap pengiriman barang.


2. Libya

Negara yang terletak di Afrika Utara ini telah lama menghadapi perang saudara yang masih berkecamuk. Menurut Laporan Human Right Watch, perpecahan mendalam terus berlanjut antara partai-partai di Libya sementara situasi ekonomi yang rapuh menghambat upaya untuk mencapai penyelesaian politik.

Terdapat dua otoritas yang bersaing di wilayah timur dan barat untuk mendapatkan legitimasi dan kendali, sementara kelompok bersenjata dan milisi yang berafiliasi beroperasi tanpa hukuman, meningkatkan penindasan terhadap kelompok sipil dan menindak kebebasan berbicara.

Meskipun kondisi di Libya saat Idul Fitri memang tidak separah apa yang terjadi di Israel, para warga sipil pastinya masih merasa terancam karena kondisi sosial, ekonomi dan politik yang masih belum stabil.

3. Yaman

Perang saudara di Yaman yang telah dimulai sejak tahun 2014 sampai saat ini memang belum menemui titik akhir. Telah banyak cara yang ditempuh untuk meredakan konflik yang terjadi antara pihak Houthi dengan pemerintah Yaman ini, namun belum ada yang berhasil.

Terbaru pada Februari 2025, Dewan Keamanan akan mengadakan pengarahan dan konsultasi bulanan mengenai Yaman. Pertemuan tersebut diharapkan akan memberikan pengarahan menurut situs Security Council Report.

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |